Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Honeymoon Part 1


__ADS_3

Roda pesawat dari arah Jakarta, baru saja menyentuh landasan pacu Bandara Kalimarau. Setelah menunggu beberapa saat dan garbarata sudah membentang, seluruh penumpang mulai beranjak dari sana.


"Bahagia banget!" celetuk Reza saat melihat wanita yang berjalan di sampingnya itu tak menyurutkan senyum.


"Iya dong, Bee. Aku tuh, udah lama pengen kesini. Tapi baru sekarang kesampaian. Sama kamu lagi." Andin tersipu malu. Ia tempelkan separuh wajahnya di lengan bagian atas suaminya, berusaha menyembunyikan wajah yang merona.


"Gemesin banget, sih. Jadi nggak sabar pengen cepet-cepet nyampai ke hotel." Pria itu mengerlingkan matanya sembari terus saja mendorong trolley berisi dua koper berukuran sedang.


Andin menarik diri dan lekas memberikan lirikan sinis. Namun hal itu justru membuat Reza semakin terkekeh.


"Bisa-bisanya siang-siang kaya gini mikir gituan," sentaknya pelan agak tak menyita perhatian orang sekitar. “Kenapa sekarang jadi mesum, sih?!”


"Loh, tujuan kita kemari kan, memang untuk—."


"Sudahlah, itu jemputan kita sudah menunggu."


Perhatian Reza teralih pada seorang pria muda yang sedang mengangkat sebuah kertas lebar bertuliskan nama mereka. Dengan segera, pun mereka mempercepat langkah.


"Saya Andin dan ini suami saya, Reza." Andin memperkenalkan diri ketika sudah sampai di depan pria berkemeja cream dengan kaki jenjang berbalut celana jeans berwarna hitam tersebut.


"Oh iya, Bu, Pak.” Pria itu mengangguk hormat. “Saya Yovan. Mari ikuti saya," ujarnya lagi seraya mengambil alih koper dari tangan Reza kemudian berjalan mendahului menuju mobil.


Usai meletakkan koper di dalam bagasi dan memastikan penumpangnya sudah aman. Yovan mulai menjalankan mobilnya menuju Tanjung Batu yang diperkirakan memakan waktu tempuh 2,5 jam dengan kecepatan standar.


"Baru pertama kali kemari, Pak, Bu?" Meskipun terdengar basa-basi, Yovan membuka suara. Mencoba membuang suasana hening yang ada di dalam mobil. Sesekali ia melirik penumpangnya dari spion yang menggantung di tengah.


"Iya, Mas,” jawab Andin. “Saya itu penasaran dengan keadaan alamnya. Terutama wisata baharinya. Katanya indah, ya?”


“Banget, Bu. Nggak kalah sama laut Bali ataupun Lombok. Pulau Derawan itu hanya salah satunya. Masih ada pulau lainnya yang juga menawarkan keindahannya, seperti Pulau Kakaban, Labuan Cermin, Maratua dan Sangalaki.” Yovan mengabsen nama-nama pulau yang ada di Berau.

__ADS_1


“Iya kah?” Wajah Andin berbinar. Ia pikir hanya Derawan saja yang dimiliki daerah itu. Karena hanya pulau itu saja yang gaungnya sampai ke mancanegara. “Wah, saya baru tahu.”


Reza yang sejak tadi hanya menjadi pendengar kini tampak menggelengkan kepala. Sebegitu antusiasnya istrinya tersebut. Menurutnya, semua air laut, pasir pantai, gulungan ombak itu sama saja di setiap daerah. Ataukah karena ia termasuk dalam kategori pria yang tidak terlalu suka dengan kegiatan di alam terbuka? Sungguh aneh. Padahal bila menilik dari pekerjaan. Reza adalah pimpinan dari RezAgro yang setiap saat harus terjun langsung ke lapangan untuk mengontrol pekerjaan anak buahnya.


Percakapan itu berlangsung cukup lama. Sesekali Reza menimpali. Namun sesekali ia hanya diam mendengarkan. Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah dermaga. Ketiganya pun segera turun dan melanjutkan lagi perjalanan menggunakan speedboat selama 30 menit ke tempat tujuan utama, Derawan.


Rumah panggung yang menjorok ke laut. Kaki-kaki pondasinya terbenam di dalam pasir putih dengan air sebening kaca. Suara laut yang lamat-lamat dan angin semilir menjadi penyambut kedatangan Andin dan Reza. Setelah mendapat kunci kamar, mereka pun bergegas masuk.


“Ranjang, I’m coming!” Reza langsung melemparkan tubuhnya dalam keadaan tengkurap di atas ranjang empuk. Sekadar meratakan tulang-tulang punggungnya yang terasa sangat pegal. “Ah … nyamannya.”


Sementara Andin pergi ke teras. Sejenak wanita itu memejamkan mata. Meresapi buaian atmosfer indah wisata bahari tersebut. Beruntung mereka datang disaat yang tepat karena matahari baru saja melesak ke arah barat. Membuat kilauan jingga di langit tampak begitu memanjakan mata.


“Sayang! Sini, bobo bareng aku.” Pria itu memiringkan tubuh dan menopang kepalanya dengan siku sebagai tumpuan. Sedangkan satu tangannya lagi menepuk kasur. Meminta wanita itu untuk merebahkan tubuhnya disana. “Apa kamu nggak capek?”


Andin berbalik kemudian berjalan mendekati kopernya. “Kamu nggak mandi, Bee? Bentar lagi magrib, lho.”


“Mandi bareng, yuk!” Reza mengimut-imutkan wajahnya seperti anak kucing yang ingin dimanja oleh majikannya.


“Dimana letak lamanya? Justru mandi bareng itu memangkas waktu, Yank,” bantah Reza.


Andin hanya diam dengan tangan terus saja memilah-milah baju yang akan ia dan Reza kenakan. Terlalu lelah untuk menanggapi ocehan tersebut. Sebab sejak menikah, pria itu selalu saja mengajaknya mandi bersama. Mandi dalam definisi yang lain tentunya.


“Yank! Kok aku di tinggal?” Reza lekas beranjak dari ranjang ketika istrinya masuk ke kamar mandi. Namun sayang pintu itu sudah tertutup rapat. “Yank, aku ikut!”


“Gantian!” sahut Andin dari dalam.


“Jahat!”


“Biarin! Dasar mesum!”

__ADS_1


“Mesumnya cuma sama kamu, Yank,” sahut Reza. Sekali lagi ia mengetuk pintu. Berharap wanita di dalam sana mau mengajaknya. “Yank!”


“Berisik!”


"Pelit!"


Desahan napas pasrah menguar di udara. Pada akhirnya ia kembali mendaratkan tubuhnya di tempat semula.


***


Usai menikmati makan malam disebuah restoran tepi pantai. Reza dan Andin tak langsung kembali ke kamar. Melainkan masih ingin berjalan-jalan sembari mengabadikan moment suasana malam di pulau eksotis ujung Kalimantan Timur tersebut.


Reza membalik tubuhnya. Membiarkan kamera DSLR menggantung di leher kemudian menyandarkan pinggangnya di pagar pembatas sembari bersedekap. Matanya mengedar dan memperhatikan para pengunjung yang juga sedang menikmati suasana pantai.


“Kenapa kamu sangat menyukai laut, Yank?”


“Simple, karena laut itu gigih.”


Dua alis tebal milik Reza menyatu. Otaknya terlalu lemah untuk mencerna kalimat istrinya. “Gigih? Maksudnya?”


“Tidak ada yang lebih indah daripada melihat kegigihan laut yang menolak berhenti mencumbui bibir pantai, meski berkali-kali harus menjauh terbawa arus.” Andin menatap dalam pada pria yang masih menunggu kelanjutan kalimatnya. “Laut itu kamu. Kamu yang tak pernah menyerah terhadap keadaan. Terlebih ketika tak pernah menyerah untuk meyakinkanku. Hingga akhirnya akulah yang menyerah dan pasrah padamu. Aku sangat bangga padamu, Bee.”


Senyum Reza mengembang. Andin mengangkat tangannya. Bermaksud untuk mengelus pipi suaminya. Namun belum sampai tangan itu menyentuh, pria itu malah meraih dan mengecupnya.


“Terima kasih, Sayang.” Kemudian merengkuh tubuh istrinya dan menciumi pipi wanita itu berulang-ulang. Mengabaikan tatapan aneh yang ada di sekitarnya. Harap maklum eprebadeh, lagi terserang penyakit bucin tingkat dewa.


"Bee, udah!" Andin menepis pelan wajah Reza. "Kamu nggak malu dilihat orang?"


"Ngapain malu! Kamu, kan istriku. Terserah aku dong, mau ngapain," jawab Reza enteng.

__ADS_1


"Iya tapi baca situasi. Kita ini lagi di tempat umum."


"Oh ... itu." Reza tersenyum lagi sesaat sebelum mendekatkan bibirnya ke telinga Andin. “Bikin anak, yuk?”


__ADS_2