Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Extra Part - Kegalauan Gavin


__ADS_3

Suara gelak tawa terdengar memenuhi ruang tengah. Dimana Reza, sedang asyik bermain bersama sepasang bayi kembar yang kini genap berusia seratus delapan puluh hari itu sembari menunggu Andin menyiapkan MP-ASI perdana bagi kedua buah hatinya.


Meskipun sibuk memimpin perusahaan. Tak membuat Reza dan Andin abai akan tanggung jawab manakala menjalani peran tambahan sebagai orang tua. Nyatanya menjadi hal yang begitu membahagiakan. Terlebih saat menyaksikan sendiri bagaimana tingkah polah dan tumbuh kembang bayi yang semakin hari semakin sehat, aktif, dan teramat menggemaskan tersebut.


"Aa' sini! Biar Yanda yang ambilkan." Reza bangkit menghampiri Zio yang merangkak menjauh. Berusaha mengejar bola yang menggelinding ke arah lain. Ia angkat bayi tersebut sembari mengambil bola dan kembali mendudukan Zio di samping Cyla yang sibuk menggigit teethernya. "Main disini aja bareng Dedek, ya."


Bayi laki-laki berpipi chubby bermata tajam persis milik sang ayah, hanya tertawa sebagai respon.


"Eh, si Dedek mau kemana juga itu?" Sekarang gantian Cyla yang merangkak pelan. Rupanya bayi perempuan itu menyadari kehadiran Andin yang datang dari arah dapur sembari membawa dua mangkok kecil berisi MP-ASI perdana bagi kedua bayinya.


"Yanda, tolong pegang ini dulu." Andin mengulurkan dua mangkuk tersebut pada suaminya. Tanpa banyak kata, Reza lekas menyambut. Ia berjongkok dan meraih tubuh mungil Cyla ke dalam gendongannya. "Kangen Bunda apa sudah lapar?"


"Sudah lapar, Bunda?" sahut Reza dengan menirukan suara khas bayi.


Andin tersenyum kemudian meraih kembali mangkuk berwarna pink dan siap menyuapkan isinya pada Cyla. Sementara Reza bertugas menyuapi Zio.


"Apa ini, Bund?" Reza menatap aneh sembari mengendus aroma menu yang ada di hadapannya. "Warna dan baunya aneh!"


"Itu MP-ASI empat bintang." Kemudian Andin menjelaskan bahan campuran yang terdiri dari karbo, protein hewani, protein nabati serta sayur. Sesuai standar makanan bayi usia enam bulan.


"Eh, mereka langsung suka, Bund."


Dengan penuh semangat, Reza dan Andin lekas menyuapi bayi mereka. Tak perlu menunggu lama, menu santapan itu pun langsung habis tak bersisa.


“Sudah kenyang. Saatnya kita main lagi,” ucap Reza dan disambut oleh tawa oleh Zio dan Cyla.


“Jangan terlalu di ajak bercanda dulu. Perut mereka masih penuh. Nanti muntah, loh.”


“Iya, Bund.”


Andin berdiri dan hendak pergi ke dapur untuk membersihkan bekas makan anaknya. Namun, saat melangkah ia menyadari sesuatu. Detik itu juga, ia kembali menatap Reza.


“Gavin di mana, Yanda?” tanya Andin. Sudah beberapa hari ini, putra angkatnya tersebut menginap di rumah itu. Sebab, Jumi beserta ibunya pulang ke kampung halaman untuk mengunjungi keluarga yang sedang sakit keras dan tak memungkinkan membawa serta Gavin yang masih harus bersekolah.


Baru saja Reza ingin menjawab, suara langkah kaki terdengar mendekat. Sosok remaja pria yang sudah tampak gurat ketampanan tersebut muncul di hadapan mereka.


“Dari mana, Gavin?” Andin langsung melempar tanya. Wajahnya terlihat khawatir. Bukan perkara mudah menjaga remaja seusia Gavin yang mungkin saja bisa terpengaruh oleh pergaulan anak muda jaman sekarang. Meskipun bukan terlahir dari rahimnya. Tetap saja, Gavin adalah salah satu tanggung jawabnya.


“Dari supermarket depan, Bunda. Habis beli ini,” jawab Gavin sedikit tersengal seraya mengangkat kantong kresek bening berisi bahan makanan mentah.


“Untuk apa?” Kening Andin berkerut menatap bingung pada barang yang dibawa Gavin kemudian ganti menatap wajah remaja itu. “Bunda sudah masak, loh!”

__ADS_1


“Jadi tadi pamit sama Yanda, mau beli ginian?” sambar Reza. Ia ikut berdiri di samping istrinya.


Gavin mengangguk. “Mau eksperimen resep baru, Bund. Terinspirasi dari makanan yang lagi viral di Korea. Tetapi, Gavin mau coba modifikasi dengan cita rasa yang berbeda dan cocok untuk lidah orang Indonesia.”


Sambil tersenyum, Reza dan Andin saling melempar tatap. Mereka tahu akan ketertarikan Gavin di dunia kuliner. Bahkan remaja yang selalu menata rambutnya ala oppa-oppa Korea itu sudah menjatuhkan pilihan pada cita-citanya untuk menjadi chef yang handal.


“Tapi, ‘kan di kulkas masih ada stok bahan makanan. Kenapa harus beli lagi?”


“Ini nggak ada, Bunda.” Gavin membuka kantong dan meraih jamur enoki.


“Masak apa, sih?” Begitu penarasannya, Andin mengikuti langkah Gavin menuju dapur.


Disana, Gavin dengan cekatan membersihkan dan memotong bahan-bahan apa saja yang diperlukan. Berbekal pengetahuannya yang seringkali membantu Jumi memasak, ia merasa tak canggung lagi menggunakan beberapa alat masak.


Mungkin sebagian orang akan menganggap ia tak normal. Namun percayalah, Jumi sengaja mengenalkannya pada pekerjaan yang 'katanya' hanya diperuntukkan bagi wanita. Sebab, ia tak tahu dibelahan bumi mana nantinya Gavin akan mengais rezeki. Harapannya, dengan menempa kemandirian sejak dini, sang putra tidak akan merasa bingung di kemudian hari.


“Bunda suka pedas, ‘kan?” Tangan Gavin bergerak meraih bubuk cabe yang ada di dalam rak bagian atas. Saat hendak menuangkannya ke dalam masakan, Andin lekas mencegah.


“Pisahin aja buat Bunda. Adik-adikmu masih ASI, kasian,” ujar Andin.


Hanya dengan menghidu aromanya saja, air liur Andin nyaris menetes. Masakan Gavin, benar-benar menggungah selera. Jamur enoki saus pedas itulah nama makanan tersebut. Akan tetapi, Gavin sengaja menambahkan sosis dan seafood untuk menambah varian isi untuk memperkaya cita rasa. Setelah mengkoresi rasa. Gavin mengambil bagian untuk Andin dan meletakkannya di meja mini bar.


“Cobain deh, Bund. Kalau nggak enak, bilang. Kalau enak, ya … bilang juga.” Gavin tergelak dan disusul oleh Andin. Kemudian ia kembali lagi menghampiri kompor dan membubuhkan bubuk cabe ke dalam masakannya yang masih tersisa di teflon.


“Bagi, dong.” Entah kapan datangnya, tiba-tiba Reza muncul di sekitar mereka. “Kelihatannya lezat.”


“Zio dan Cyla kamu tinggal, Yanda?”


“Aman … itu mereka lagi tidur.”


Tatapan Andin perlahan tertuju pada dua bayi yang tertidur pulas di atas boucer masing-masing.


“Nah, ini buat Yanda.” Gavin meletakkan piring di hadapan Reza. “Silakan dinikmati.”


“Bentar-bentar.” Sambil beranjak dari duduknya, Reza membawa piring dan mengambil nasi dari dalam magic jar. “Kurang sah kalau nggak pakai nasi.”


“Nggak usah pakai nasi. Gitu aja udah kenyang, kok.”


“Ini perut lokal. Nggak Indonesia kalau nggak makan nasi.”


Andin mendesahkan napasnya di udara membuat Gavin hanya mengulum senyum melihat perdebatan orang tua angkatnya tersebut. Selanjutnya, ketiganya pun mulai menikmati sarapan yang terkesan terlambat sembari tak henti-hentinya kalimat pujian terdengar dari mulut Reza dan Andin. Masakan Gavin selalu tak pernah mengecewakan.

__ADS_1


***


Gavin duduk menyendiri di teras samping rumah. Malam ini, angin berembus sedikit kencang. Menghadirkan alunan alam dari gesekan dedaunan dan ranting pohon yang tumbuh di sekitar halaman.


Sorot mata teduh miliknya, menatap kosong ke arah ponsel yang menampakkan poto gadis kecil berwajah manis.


“Aku merindukanmu, Aleysia."


Sejenak, Gavin memejamkan mata. Ada rasa yang sulit ia uraikan di dalam relung hatinya kala mengingat sosok gadis yang sampai saat ini masih enggan memaafkan kesalahannya.


"Sebegitu bekukah hatimu. Sampai kau teramat benci padaku?"


Lama ia diposisi seperti itu. Sampai sebuah tepukan lembut di pundak. Memaksa Gavin memisahkan kedua kelopak matanya. Ia menoleh, ada Reza yang sedang tersenyum padanya. Buru-buru ia menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Beruntung pada saat pria itu datang, layar ponsel sudah dalam keadaan gelap.


"Kenapa belum tidur? Kangen mama sama nenek?" tanya Reza seraya duduk di kursi rotan.


"En-enggak, hanya saja Gavin merasa belum mengantuk. Yanda kenapa belum tidur?"


"Kebangun karena haus. Mau kembali ke kamar, malah liat kamu duduk di sini."


"Oh."


Gavin diam, Reza pun ikut diam. Suasana menjadi hening seketika.


"Gavin?"


"Ya?"


"Rencananya besok, Yanda, Bunda sama si kembar mau pergi ke Jakarta," jelas Reza dan lekas mengalihkan perhatian Gavin. "Kamu harus ikut."


Gavin hampir tak bisa bernapas mendengar ajakan Reza. Ke Jakarta? Itu artinya ia akan bertemu dengan Aleysia. Meskipun tujuan utamanya rumah Rudi, tak menutup kemungkinan gadis cilik itu pasti ada di sana. Apalagi mendengar kabar kalau si kembar akan datang.


"Kenapa harus ikut?" Berusaha bersikap tenang. Meskipun ingin, tetapi hatinya masih ketar-ketir. Ia takut keberadaannya justru membuat Aleysia merasa tak nyaman.


"Yanda nggak mungkin ninggalin kamu. Sementara kamu sendirian di rumah ini."


"Kenapa begitu tiba-tiba?" Sekali lagi Gavin bertanya.


"Nggak tiba-tiba. Yanda aja yang lupa memberitahukan ini padamu. Besok, Aleysia akan berulang tahun."


"Ulang tahun?" ulang Gavin dan mendapat anggukan dari Reza.

__ADS_1


***


Hai-hai, otor balik lagi. Sembari menunggu kisah Gavin dan Aleysia launching. Otor kasih beberapa X-Part. Masih tetap slow update, ya?


__ADS_2