
Andin dan Gita sudah duduk di bagian outdoor sebuah restoran yang berada di seputaran Dago. Rencananya, hari ini mereka akan bertemu langsung dengan pemilik RezAgro Farm—perkebunan yang diincar menjadi pemasok bahan baku ke perusahaannya—sekaligus melakukan negosiasi sebelum terjadinya kontrak kerja sama.
Sebuah keberuntungan bagi keduanya, tak perlu repot untuk mengunjungi pemiliknya di desa. Karena memang saat ini pria tersebut tengah berada di kota Bandung untuk menghadiri acara penghargaan enterpreuner muda yang sukses di bidang perkebunan.
"Gita!" panggil Andin. Ia menatap heran pada wanita yang duduk di sampingnya itu.
“Ya, Bu?” Gita lekas menghentikan kegiatannya yang sedari tadi sibuk membenarkan polesan make up di wajahnya kemudian menoleh pada Andin.
“Nggak usah terlalu over juga kali, Ta. Kamu itu sudah cantik. Ingat, yang terpenting itu attitude sebagai representasi dari inner beauty yang kita miliki.”
Gita terkekeh sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Oh ya, Ta. Apa kamu sudah menyelidiki status pria tersebut? Maksud saya, apa dia masih single?”
“Aman, Bu. Dia masih ting-ting,” jelas Gita dengan percaya diri yang sudah membumbung tinggi. “Di jarinya juga tak ada satupun cincin yang tersemat. Berarti dia masih single.”
“Bagaimana kalau dia sudah punya kekasih atau tunangan mungkin?”
Gita terdiam seperti memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin, Bu. Tipe-tipe seperti dia, mana punya kekasih.”
“Kenapa kamu bisa seyakin itu?”
“Karena … ehm … naluri saya mengatakan seperti itu, Bu.” Gita kembali terkekeh.
Mendengar hal itu, Andin mencebikkan bibirnya. “Terserahmu lah. Semoga saja keyakinanmu itu tidak berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada agar nantinya kamu tidak kecewa.”
"Selamat siang." Sebuah sapaan mengalihkan interaksi antara Andin dan sekretarisnya itu. Pun keduanya langsung bangkit berdiri, menyambut kedatangan wanita berambut sebahu yang berdiri di depan mereka. "Maaf sudah membuat Anda menunggu lama," ucapnya lagi seraya mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Tidak apa. Kami juga baru tiba," sahut Andin dengan senyum seramah mungkin. Lalu, secara bergantian Andin dan Gita membalas uluran tangan wanita tersebut.
"Bu Farah. Ini pimpinan saya, Bu Andin. Dan Bu Andin ini Bu Farah asisten dari pemilik RezAgro tersebut." Gita memperkenalkan Andin pada Farah begitu juga sebaliknya. Kemudian mengedarkan pandangannya dibalik punggung wanita tersebut untuk mencari keberadaan sosok yang dicarinya. "Ibu sendirian? Dimana pak Reza?"
Mendengar Gita menyebut nama yang tak asing di telinga, tiba-tiba tubuh Andin membeku. Refleks manik matanya mengarah pada Gita dengan kening berkerut dalam.
Reza? Apakah itu ... Ah, tidak tidak. Itu pasti Reza yang lain. Di dunia ini terlalu banyak orang yang menyandang nama itu. Jadi, tidak mungkin itu dia. Tidak.
Dalam diam, Andin menyakinkan diri bahwa nama yang baru saja Gita sebutkan itu bukan pria yang selama ini ia cari. Untuk sesaat ia memejamkan mata sembari berusaha menetralkan pikiran-pikiran liar yang bergelayut di benaknya.
"Beliau akan segera menyusul kemari. Karena tadi saat dalam perjalanan, tiba-tiba saja mobil kami mengalami sedikit trouble pada mesinnya," jelas Farah. Ada rasa segan dalam dirinya karena lagi-lagi ia terpaksa harus membuat calon kliennya itu menunggu. “Maaf ya, Bu. Membuat Anda menunggu lagi.”
“Tidak masalah, Bu. Oh iya, silakan duduk. Sembari menunggu beliau datang, kita bisa menikmati minuman atau camilan yang sangat di rekomendasikan oleh restoran ini," tawar Andin dan segera mendapat anggukkan dari Farah. Wanita itu berusaha untuk mengakrabkan diri dengan lawan bicaranya. Dan benar saja, Farah termasuk wanita supel. Tak sulit bagi Andin untuk beradaptasi dengannya.
"Selain buah melon. Perkebunan kami juga membudidayakan berbagai macam jenis bunga. Mulai dari bunga krisan, bunga hortensia dan bunga mawar. Selain untuk ekspor, saat ini kami sedang mengembangkan inovasi baru. Menjadikan kelopak mawar sebagai bahan baku untuk pembuatan teh yang aman di konsumsi," terang Farah pajang lebar usai menyeruput hot moccachino yang beberapa saat lalu disuguhkan oleh pelayan. Ia menjelaskan selayang pandang mengenai usaha yang dikelola oleh Reza.
"Wah ... Hebat sekali ya, pak Reza. Baru sebentar terjun di bisnis ini sudah banyak yang dihasilkan atas ide-ide briliannya. Sepertinya pak Reza memang pintar memanfaatkan peluang dengan sumber daya yang ada di sekitar. Apalagi semalam saya melihat di berbagai media sosial. Beliau terpilih sebagai best of the best di kategori pengusaha muda paling berpengaruh di bidang ini."
***
Berulang kali Reza mengangkat tangannya untuk melihat jam yang melingkar di sana. Sudah setengah jam berlalu ia masih terlihat duduk di sebuah kursi yang melekat di atas trotoar itu sembari menunggu montir selesai memperbaiki mobilnya. Gelisah, khawatir, panik menyatu dalam pikirannya. Sungguh, baru kali ini ia mengalami keterlambatan dari waktu yang sudah disepakati untuk bertemu langsung dengan calon kliennya itu.
"Masih lama, Mas?" tanyanya. Ia berdiri dan menghampiri pria berbaju khas montir tersebut.
"Sedikit lagi, Mas. Ini tinggal ngencengin mur bautnya aja."
"Oh." Reza menyenderkan tubuhnya di body samping mobilnya dengan tangan bersedekap.
__ADS_1
"Mau kemana, Mas?" Pria itu berbasa-basi ketika melihat Reza berpakaian rapi dengan setelan semi formal.
"Mau ke daerah Dago," jawab Reza. "Ada janji sama orang."
Pria itu menganggukkan kepala tanda mengerti kemudian merapikan alat-alatnya ke dalam box. "Sudah, Mas."
"Ah iya. Terima kasih, Mas." Sambil menyelipkan beberapa lembar ratusan ribu di tangan pria yang berdiri tepat di depannya.
"Mas, ini terlalu banyak. Saya ambil segini aja." Satu tangannya mengapit uang yang menjadi haknya, sementara tangan lainnya mengulur untuk mengembalikan uang namun dengan cepat ditepis oleh Reza.
"Ambil saja semuanya, Mas. Anggap rezeki dari Allah perantara saya."
Pria yang diperkirakan usianya tak jauh darinya itu seketika berbinar. "Ikhlas dunia akhirat ya, Mas."
"Iya."
"Alhamdulillah. Terima kasih, Mas. Semoga rezekinya makin nambah dan juga dimudahkan segala urusannya," ucapnya kemudian melirik pada jari manis Reza yang tersemat cincin di sana. "Udah nikah ya, Mas?"
Reza menggeleng tipis. "Belum."
"Oh baru tunangan. Semoga langgeng ya, Mas."
Reza hanya tersenyum tanpa mengaamiini doa tersebut. Entah mengapa ia tak terlalu suka dengan kalimat yang baru saja pria itu katakan. Andai saja ... Ah, sepertinya ia harus menjalani titian takdir yang sudah digariskan Tuhan untuknya. Menolak pun, rasanya percuma.
"Ya sudah, Mas. Saya permisi dulu. Nggak enak sama orang yang udah nungguin saya dari tadi."
"Silakan, Mas." Pria itu menggeser tubuhnya memberi jalan pada Reza mendekat ke arah pintu bagian kemudi. "Sekali lagi terima kasih. Hati-hati di jalan, Mas."
__ADS_1
Reza mengangguk kemudian melanjutkan perjalanannya. Walau tak sepadat ibukota, siang itu keadaan lalu lintas jalan protokol Bandung lumayan menguras kesabaran. Karena tak sebentar waktu yang dibutuhkan untuk sampai di restoran.
Reza mengedarkan pandangannya, mencari celah untuk memangkas jarak tempuhnya. Namun terhenti kala netra hitamnya menangkap sosok yang ia kenal tengah duduk di sebuah restoran bagian luar. Seketika rahangnya mengeras dengan tangan mengepal erat.