
“Aku tidak bisa, Farah!”
Suara Reza menggema di ruang kerjanya. Entah sudah berapa kali ia melayangkan protes pada wanita yang sedari tadi memaksanya untuk hadir, memenuhi undangan Andin dalam Event Launching Product dari Foody Industries yang memang bertujuan untuk mengenalkan produk baru pada calon konsumen.
Sudah sebulan berlalu sejak batalnya rencana pernikahan itu. Tak sedikitpun berimbas pada sikap profesional mereka dalam bekerja. Bahkan kedua pun tampak lebih akrab. Meskipun ada pihak yang sempat merasa bersedih dan kecewa akan hal itu, namun tak serta merta membuat hubungan silaturahmi antar keluarga mereka merenggang.
“Tapi produknya melibatkan RezAgro, A’. Bagaimana mungkin kamu tidak hadir dalam acara itu?” Farah tetap keukeh dengan pendapatnya.
“Kan ada kamu yang mewakilinya.” Reza berdiri dari duduknya kemudian pergi menghampiri lemari arsip yang ada di pojok ruangan tersebut.
“Mana bisa begitu!” protes Farah sembari mengekor di belakanganya. “Kamu, ‘kan pimpinannya.”
“Dibisa-bisain aja lah! Biasanya juga gitu.”
Farah memutar bola matanya. Merasa jengah dengan sikap Reza yang mulai menyebalkan. “Apa ini karena Andin?” terkanya dan sukses menghentikan gerakan tangan Reza yang hendak menarik sebuah folder dari dalam sana. Farah mendekat. “Benar karena dia?” imbuhnya lagi.
“Nggak!” Dengan cepat Reza meraih folder, menutup pintu lemari dan kembali ke kursi kebesarannya.
“Iya, nggak salah!” ejek Farah.
Baru saja Reza ingin menyangkal. Suara ketukan yang terdengar berisik dari balik pintu, mengurai niatnya. Seorang pria berperawakan tinggi dengan jenggot tipis di dagunya itu mengangsurkan tubuhnya masuk setelah mendapat titah dari Reza.
“Ini laporan kuartal I dan II yang Bapak minta tadi pagi,” ucap pria bernama Arfan seraya meletakkan map berwarna biru muda di atas meja.
“Oh iya. Terima kasih.” Reza mengambil dan membuka map tersebut.
"Apa ada lagi yang Bapak perlukan?" tanya Arfan yang ingin memastikan sebelum ia beranjak kembali ke ruangannya.
Reza menengadah, melirik Arfan dan Farah secara bergantian. Membuat Farah melototkan matanya. Tampak mengetahui apa yang ada dalam pikiran Reza. "Apa?" tanyanya tanpa suara.
"Arfan ... tolong persiapkan dirimu untuk ikut bersamanya besok ke Bandung," putus Reza sembari menunjuk Farah menggunakan dagunya.
"Kan kan kan. Enak aja ngelempar tanggung jawab. Nggak bisa!"
"Bisa! Orang cuma duduk, dengerin, tepuk tangan, jawab kalau ditanya, terus pulang."
"Nggak sesimple itu, A!”
"Dibikin simple ajalah. Kamu, ‘kan nggak sekali wakilin aku dalam acara kayak gini?”
Melihat perdebatan diantara dua bosnya itu, seketika Arfan menjadi panik. Ingin melerai, khawatir sikapnya itu dianggap tidak sopan. Tapi bila dibiarkan, telinganya akan semakin panas.
"Pe-permisi, apa saya boleh keluar sekarang?"
"Iya!" sahut Reza dan Farah diiringi dengan mata menatap tajam pada pria yang terjingkat karena terkejut.
__ADS_1
Seperginya Arfan dari ruangan itu, Reza beranjak lagi dari duduknya dan mendekati Farah. "Tolonglah Farah ... kamu saja yang pergi, ya? Nanti aku transfer deh, bonus untukmu. Tiga kali lipat," rayu Reza sambil mengerlingkan matanya. "Ya ya ya, please!"
"Kenapa kamu harus menghindarinya sih, A'?" Nada suara Farah mulai melemah. Ia tahu betul apa yang menjadi sebab sedari tadi Reza menolak permintaannya. "Bukankah seharusnya kamu bersikap gentle untuk menerima kenyataan. Bila kita saja bisa seperti ini, kenapa kalian tidak?”
Sejenak, Reza menatap langit-langit ruangannya sembari mendesah frustrasi. “Entahlah Farah. Aku hanya takut tidak bisa mengontrol diriku. Terlebih lagi pasti ada pria itu disana.”
“Maksud Aa’, Denis? Yang diakui Andin sebagai calon suaminya?”
Reza hanya mengangguk.
“Masih calon, A’. Masih ada selah untukmu bisa merebutnya kembali,” ujar Farah meyakinkan. "Rasa kalian itu tepat. Hanya waktunya saja yang salah."
“Nggak Rah.” Reza mendudukkan diri di sofa dengan satu tangan menumpu kepalanya. Tampak jelas pria itu benar-benar sangat putus asa. “Aku tahu benar siapa Andin. Bagaimana keras kepalanya dia. Akan sangat sulit membuatnya merubah keputusannya itu.”
“Belum mencoba sudah menyerah. Dasar lemah!”
Reza tak menanggapi ejekan itu. Ia menarik pandangannya pada wanita yang masih berdiri sembari bersedekap itu. “Tolong jangan paksa aku untuk hadir dalam acara itu, Rah. Kamu mengerti, ‘kan posisiku?”
Farah mengurai tangannya dan duduk di samping Reza. “Mana ponselmu?” Sembari menadahkan tangannya tepat di depan wajah pria itu.
“Ponselku? Untuk apa?” Reza mengerutkan kening hingga nyaris menyatukan dua alis tebalnya. Merasa bingung dengan permintaan Farah.
“Sini kemarikan!”
“Berapa pinnya?”
“Pin apa?”
Tak ada jawaban dari Farah. Detik berikutnya, ia lantas menunjukkan sebuah aplikasi banking yang ada di layar ponsel pria tersebut.
“Loh kok—.”
“Mau aman, nggak?” pungkas Farah.
Dengan menahan kesal, Reza segera menyebutkan enam digit angka yang merupakan penggabungan antara tanggal lahirnya dan Andin.
“Besok aku akan pergi dengan Arfan. Mumpung aku di kota, tolong siapkan fasilitas yang premium. Aku malas menginap di hotel bintang tiga seperti tempo hari.” Farah berujar tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari benda pipih yang ada di tangannya.
“Itu namanya pemerasan!” sergah Reza.
“Ya sudah kalau nggak mau. Nggak penting juga sih, datang ke acara gituan. Toh, bukan aku juga yang malu.”
“Ya ya ya.” Reza menyerah. “Nanti aku minta pada bagian keuangan untuk mengurus akomodasimu kelas PREMIUM.” Ia menekankan kata ‘premium’ sebagai bentuk dari kekesalannya. Namun Farah tak memedulikannya selagi ia bisa memanfaatkan keadaan.
“Nih!” Farah mengembalikan ponsel pada Reza. “Ya sudah aku mau pulang, mau packing buat besok sekalian liburan.” Ia tersenyum sembari beranjak dari duduknya hendak keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
“Sudah sana, pulang!” Reza melambai-lambaikan tangannya seolah mengusir wanita itu dari hadapannya.
“Terima kasih, ya?” ujar Farah sebelum menutup pintu.
“Terima kasih?” Curiga dengan ucapan itu, Reza segera membuka ponselnya dan melihat kembali aplikasi yang beberapa saat lalu digunakan Farah. “Astaga! Dia merampokku habis-habisan!” Ia terkejut, saldonya yang tertera disana berkurang banyak bahkan hanya menyisakan seperempat dari saldo awalnya.
***
Bersama Arfan, akhirnya Farah pergi ke Bandung untuk menghadiri acara launching product terbaru yaitu DeeJuss. DeeJuss, merupakan minuman jus dibuat dari buah melon dengan kualitas terbaik beserta pelbagai bahan campuran yang aman untuk di konsumsi lalu dikemas dalam bentuk kemasan karton yang mudah dibawa ke mana-mana.
Sengaja Andin memilih buah melon sebagai bahan utama dari produk terbarunya. Selain karena inovasi, Andin juga ingin memanfaatkan sumber daya alam yang ada di Sukabumi terutama pada desa sekitanya. Terutama buah melon sebagai komoditas utamanya
Jejeran kursi yang mengelilingi meja berbentuk persegi panjang dilengkapi oleh LED video wall screen display menjadi penyambut kedatangan Arfan dan Farah yang baru saja masuk ke dalam ruang meeting yang berada di lantai tujuh gedung Foody Industries tersebut.
“Selamat datang, Farah. Apa kabar?” Andin menyambut dengan pelukan hangat disertai cipika cipiki.
“Aku baik. Bagaimana denganmu?” tanya Farah tersenyum.
“Seperti yang kamu lihat.” Andin melirik pria yang berada di samping Farah dengan sedikit heran. Biasanya Reza yang selalu bersama Farah lalu kenapa sekarang bukan pria tersebut? Pikirnya.
“A’ Reza ada urusan yang tak bisa ditinggalkan,” sambar Farah yang mengerti kemana arah pikiran Andin. “Jadi aku yang mewakilinya. Dan ini … Arfan, salah satu staf kami.”
“Ah … ehm ….” Andin tersenyum kikuk seraya menyambut tangan Arfan. “Mari mari silakan duduk.”
Pun keduanya duduk, bergabung dengan tamu penting lainnya. Setelah dirasa tidak ada lagi yang ditunggu, Andin mulai mempresentasikan produknya. Mulai dari pemilihan bahan, branding, packaging dan juga hal lainnya yang berkaitan dengan DeeJuss.
"... bicara masalah ide. Saya hanya ingin para calon konsumen bisa mengkonsumsi buah dalam bentuk kemasan praktis. Dan mengenai kualitas buah, tentu saja ini tidak lepas dari supplier yang telah bersedia bekerja sama dengan perusahaan ini." Andin menoleh pada wanita yang tersenyum padanya. "Beliau adalah perwakilan dari RezAgro Farm, salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki beberapa jenis melon dengan varietas terbaiknya. Untuk Bu Farah, terima kasih."
Ujung kalimat Andin disambut riuh tepuk tangan dari seluruh penghuni ruang meeting tersebut. Tak lupa beberapa awak media yang datang untuk meliput, melemparkan kilatan Blitz kameranya pada Andin dan juga Farah yang saat ini sedang berjabat tangan.
Usai dengan acara ramah tamah dan juga sesi tanya jawab. Andin mengajak Farah untuk berbincang sebentar di ruang kerjanya sekaligus ingin melepas rindu pada teman barunya tersebut. Sementara Arfan, memilih menunggu di lobby.
"Andin, sekali lagi selamat dan sukses ya." Farah membuka suara sesaat setelah mendudukkan dirinya di sofa.
"Ini terjadi karena kesediaan perusahaanmu yang mau menjadi mitra di perusahaanku."
"Perusahaan A' Reza kaleee. Aku, 'kan hanya karyawannya," bantah Farah membuat Andin hanya tersenyum sembari menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
"Kamu nggak mau tanya tentangnya?" imbuhnya lagi memancing respon Andin. Tidak salah, 'kan membantu mantan calon suami mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan? Lagipun, selama belum ada cincin yang melingkar di jari manis Andin. Berarti masih ada harapan.
"Un-untuk apa?" Seketika Andin tergagap karena gugup. "Kenapa aku harus bertanya tentang suamimu? Aku rasa dia pasti baik-baik saja."
Wajar bila Andin menyangka Reza adalah suami Farah. Karena saat ia masih berada di Sukaraya, wanita itu mengatakan akan menikah pada akhir bulan. Itu artinya, sekarang Reza dan Farah telah resmi menyandang status sebagai suami istri.
Dengan wajah serius. Farah menatap Andin lekat-lekat sembari bertanya, "apa kamu masih mencintainya?"
__ADS_1