
“Aku? Cemburu?” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Ya, nggak lah. Untuk apa aku cemburu?” tampik Andin kemudian mengalihkan lagi pandangannya menatap ke depan.
Reza tersenyum jahil. “Ngaku saja. Justru aku senang dicemburui olehmu. Aku merasa beharga di matamu.”
“Dih! Pede banget, sih!”
“Mukanya ketahuan, tuh.” Pipi chubby milik Andin, tak luput dari kejahilan Reza yang menusuk-nusukkan jarinya di sana.
Andin mencebik dan menepis tangan itu. “Nggak nggak nggak! Nggak Reza!"
“Ya ya. Nggak salah,” ejek Reza dengan nada menyebalkan hingga membuat Andin semakin geram.
“Nggak benar!”
“Apanya yang nggak benar?”
Suara berat dari laki-laki yang berjalan mendekat ke arah meja mereka, berhasil mengurai perdebatan kecil yang tercipta antara keduanya. Itu Adrian. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi dibalik meja yang sama dengannya disusul oleh Rissa, Rendy dan juga istrinya.
“Hai Aley, Sameer!” sapa Andin membuat Aleysia merentangkan tangannya minta di pangku olehnya. Andin pun menuruti kemauan keponakannya itu. Ia memindahkan tubuh mungil itu di atas pangkuannya. Sementara bocah laki-laki yang duduk di pangkuan Dina hanya terkikik geli seraya memamerkan gigi-gigi mungilnya yang mulai bermunculan.
“Onty … sini Aley cium.” Aleysia melingkarkan tangannya di leher Andin dan mendaratkan bibirnya di pipi wanita itu. Sebuah ritual yang biasa ia lakukan ketika bertemu dengan Andin.
“Aley … udah dong, Sayang. Bedaknya Onty nanti hilang, lho,” tegur Rissa kala melihat putrinya itu mencium Andin berulang kali tanpa ada rasa puas.
“Om mau juga dong, dicium,” sela Reza, “Om belum pernah dicium sama cewek,” ujarnya lagi sembari menyiapkan pipi kirinya dan sontak mendapat tatapan tajam dari Andin. Namun hal itu justru tak membuat Reza gentar menggoda Aley.
“Nggak! Papah bilang, Aley nggak boleh cium cowok kecuali Papah sama Opa,” sahut Aley dengan suara cadelnya membuat yang di meja itu tertawa geli. Sedangkan yang ditertawakan hanya tersenyum kecut.
Nggak tantenya, nggak keponakannya. Sama saja. Sama-sama menyebalkan.
“Good! Itu baru anak Papah.” Adrian menyombongkan dirinya. "Toss dulu."
Adrian dan Aleysia kompak menempelkan telapak tangan mereka hingga mengeluarkan bunyi 'plak'.
“Anakku juga kali, Mas,” geram Rissa seakan dirinya tidak punya andil terhadap Aleysia.
“Ya, Sayang. Dia anak kita. Buah hati kita."
__ADS_1
“Kok, nyolot ya?”
“Nggak kok, Sayang. Biasa aja,” elak Adrian.
Sepertinya pria itu lupa, kalau kehamilan istrinya kali ini membuatnya harus memupuk kesabaran ekstra. Pasalnya, wanita itu mudah sekali terserang penyakit ‘baper’. Pernah suatu ketika, saat ia hendak pergi menemui klien penting di luar kota. Tiba-tiba Rissa menjadi melo, seolah-olah suaminya itu akan pergi selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya, semua urusan ia limpahkan pada Rendy, sang sekretaris.
“Kenapa malah kalian yang berdebat?” gertak Rendy. Ia terlihat bingung. Baru beberapa waktu yang lalu ia menjadi saksi perdebatan antara Reza dan Andin. Sesaat kemudian, gantian Adrian dan Rissa yang berdebat.
Tak lama kemudian, suasana menjadi hening seketika, saat dua orang MC kondang ibukota yang berdiri di atas panggung itu mulai membacakan susunan acara yang akan berlangsung beberapa menit ke depan. Doa dan harapan terpanjat demi kesuksesan perusahaan di tengah ketatnya persaingan dalam dunia bisnis.
Satu persatu dari beberapa orang yang sudah ditunjuk untuk memberikan sambutan, silih berganti naik ke atas panggung. Setelahnya, kini giliran pemilik perusahaan yang dipersilakan untuk maju ke depan.
“ … untuk Bapak Adrian sebagai Presdir Dinata Group generasi kedua, waktu dan tempat dipersilakan,”
Adrian berdiri dari duduknya kemudian berjalan dengan gagahnya menuju panggung dengan diiringi kilatan blitz kamera wartawan dah riuh suara tepuk tangan dari ratusan tamu yang memenuhi ballroom.
“ … sekali lagi, saya mengucapkan ribuan terima kasih atas kehadirannya untuk memberikan doa dan dukungan kepada Dinata Group. Tanpa itu semua, Dinata Group bukanlah apa-apa. Besar harapan saya, kita akan tetap terus bersinergi seperti ini demi kesuksesan kita bersama. Sekian dari saya.”
Kalimat penutup dari Adrian disambut tepuk tangan lagi oleh tamu undangan dan karyawan. Ia turun dari panggung namun tak lantas kembali ke tempat duduknya melainkan ke arah meja di mana orang tuanya bersama tamu lain yang duduk di sana.
Melihat putranya menghampirinya, Rudi berdiri dan memeluknya dengan penuh kebanggaan. Terlihat jelas manik mata pria paruh baya tersebut berkaca-kaca.
“Ya Sayang, Mami juga bangga padamu,” timpal Mira yang ikut berdiri di samping suaminya dan menepuk-nepuk punggung Adrian.
“Oh jadi cuma Abang aja nih, yang bikin bangga? Andin nggak.”
Sindiran Andin berhasil membuat Rudi dan Adrian melerai pelukannya.
“Ya bangga juga, dong. Sini Papi peluk.”
Andin mengulum senyum dan menghambur ke pelukan Rudi. Mira yang melihat hanya menggelengkan kepala. Baginya, Andin tetaplah putri kecilnya yang manja.
“Iri? Bilang bos!” celetuk Adrian dan langsung mendapat cubitan dari istrinya yang baru saja mendekat bersama Reza.
“Suka banget, sih! Godain adiknya!”
Adrian hanya terkekeh.
__ADS_1
Rudi melerai pelukannya. “Oh iya. Perkenalkan ini pak Dwi dan di sampingnya itu putra beliau. Pak Dwi ini teman lama Papi,” ujar Rudi pada anak, menantu dan juga Reza yang masih berdiri di sana.
Mereka saling memperkenalkan diri sebelum kemudian Adrian dan istrinya pamit permisi dari sana untuk menyapa tamu lain.
Saat pandangan Andin dan seorang pria muda yang memakai setelan warna cream itu saling bertemu, mereka mengernyit. Namun tak lama, kerutan di kening itu memudar seiring terbitnya senyum di wajah masing-masing.
“Angga?” terka Andin.
"Hai, Ndin," balas pria bernama Angga tersebut.
"Woah! Aku nggak nyangka kita ketemu disini. Terakhir kali kita ketemu di Aussie, 'kan? Pas acara wisuda?"
"Iya, aku juga nggak nyangka bakalan ketemu lagi dengan kamu di sini!" balas Angga.
"Wah, kalian saling kenal ya?" tanya Dwi penasaran, karena melihat keakraban keduanya.
"Kami satu kampus, Pa. Satu fakultas juga," jawab Angga.
"Iya, Om Dwi. Siapa sih yang gak kenal Angga. Mahasiswa yang terkenal jaim, dan cool di kampus," sambung Andin.
"Apaan sih kamu, Ndin. Bukannya kamu yang terkenal jutek! hahahaha." Angga bisa tertawa lepas, setelah bertemu Andin, sahabat kocaknya dulu. Andin yang tak terima dengan ucapan Angga, mencubit kecil pundak Angga yang mana membuat Reza tertegun memandangi keduanya bernostalgia dan bercengkerama hingga mengabaikan keberadaanya.
Sadar ia bukan dari golongan yang sama. Pun ia beranjak kembali ke tempat duduknya yang terhalangi satu set meja. Walau musik yang dimainkan itu menggema ke segala penjuru ruangan, samar-samar ia masih bisa mendengar apa yang diperbincangkan.
"Wah sepertinya mereka berdua cocok ini Pak Dwi. Bagaimana kalau mereka berdua kita jodohkan saja?"
Bagai tertusuk ribuan anak panah berapi. Hati Reza terasa sakit dan panas sesaat setelah indra pendengarannya jelas menangkap sebuah kalimat yang terlontar dari mulut Rudi.
Ia menolehkan kepalanya menatap Andin. Wanita itu tersenyum, bahkan sangat lebar ketika Dwi menanggapi pertanyaan Rudi.
"Boleh boleh. Saya sih, setuju aja. Gimana, Ngga?" Dwi beralih menatap Angga yang hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu.
Sesaat kemudian, Andin berdiri dari duduknya berniat hendak mengambil makanan yang ada di meja prasmanan. Tak sengaja kakinya tersandung oleh kursi di depannya itu membuatnya oleng seketika. Reza yang melihat pun segera menghampiri namun langkahnya terhenti kala Angga sudah lebih sigap menangkap tubuh Andin dan terjatuh tepat di pangkuan pria itu. Lama mereka saling menatap. Seolah mata mereka saling bicara.
Melihat itu, hati Reza semakin panas. Wajah yang biasanya ramah itu seketika mengeras dengan tangan mengepal erat. Ingin sekali ia menghampiri Angga dan menghajarnya habis-habisan. Namun urung ketika logika memerintahkannya untuk tetap menahan diri. Punya hak apa dia terhadap Andin? Pacar bukan. Suami juga bukan.
Kalian memang cocok. Sama-sama memiliki status sosial yang sepadan. Apalah artinya aku. Dan sekarang aku sadar, aku ini siapa dan dari mana aku berasal.
__ADS_1
Menyadari batasan itu, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan ballroom tanpa pamit. Terkesan tidak sopan memang. Namun apa daya, semua orang seperti mengabaikan keberadaannya.