
Usai menikmati sarapan. Farah beserta keluarganya pamit undur diri untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Sukabumi.
“Teteh, Akang. Terima kasih sudah menampung kami di sini,” ujar Ridwan sembari mengulurkan tangannya pada Ahmad. “Maaf bila kedatangan kami merepotkan kalian.”
“Apanya yang repot? Justru kami senang, rumah ini menjadi lebih ramai karena kedatangan kalian. Ya, ‘kan Bu?” Sembari membalas uluran tangan, ia menolehkan kepalanya pada Hesti. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum dan mengangguk membenarkan ucapan suaminya kemudian menatap Halimah dan Farah secara bergantian.
“Bila ada kesempatan lagi, jangan sungkan untuk mampir kemari, ya,” kata Hesti. Walau berat melepaskan kepergian ketiganya. Pun ia tak mungkin egois karena Sukabumi adalah tempat mereka mencari penghidupan selama ini. Apalagi Ridwan yang notabene adalah tokoh masyarakat yang bekerja sebagai lurah disalah satu kantor kelurahan yang ada di sana.
Kedua keluarga itu memang tak memiliki hubungan kekerabatan. Namun karena lahir, besar dan tinggal secara berdampingan selama puluhan tahun di kampung menjadikan hubungan itu lebih dari sekadar sahabat.
“Iya, Bi. Insya Allah,” ujar Farah. Ia beralih menatap Rania dan menghampiri wanita yang berdiri di tak jauh darinya.
“Nia, aku pulang dulu, ya.” Ia merentangkan tangannya untuk memberikan sebuah pelukan pada Rania.
“Hati-hati, ya. Dan jangan lupa sering-sering memberi kabar padaku,” ucap Rania yang hanya diangguki oleh Farah.
Ahmad mengernyitkan dahinya ketika menyadari sesuatu yang tidak lengkap di sekitarnya. Ia mengalihkan pandangannya menatap pintu utama rumahnya yang terbuka. “Echa di mana, Bu?”
“Loh, iya ya. Ibu baru sadar kalau dia tidak ada di sini.” Hesti membalikkan tubuhnya menghadap Rania. “Nia, coba panggil kakakmu di dalam. Ini lho, Farah mau pulang. Bagaimana dia ini? Apa karena semalam bergadang makanya dia tertidur lagi?”
Kalimat terakhir Hesti sukses membuat Farah menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Memang benar apa kata wanita paruh baya itu. Reza … ah tidak. Lebih tepatnya, ia dan Reza menghabiskan malam bersama di balkon hingga waktu menunjukkan pukul dua pagi lebih sedikit. Banyak hal yang mereka ceritakan. Mulai dari topik serius hingga topik absurd.
Baru dua langkah kaki Rania menapaki teras rumahnya, sosok yang dicari sudah muncul di ambang pintu dengan tubuh terbalut rapi menggunakan setelan kantornya.
“Kakak! Itu lho, dicariin.”
“Maaf maaf maaf.” Reza berlari kecil menghampiri Ridwan dan Halimah untuk mencium punggung tangan keduanya.
“Kamu dari mana, Cha?” tanya Hesti.
“Sakit perut, Bu. Sepertinya Echa salah makan, deh,” jawab Reza sembari memegangi perutnya disertai sedikit ringisan di wajahnya.
“Salah makan? Memangnya Ibu salah masak?” tanya Ahmad pada istrinya.
“Hah? Sejak kapan Ibu salah masak?” bantah Hesti. “Palingan juga itu efek angin, Pak. Dia, ‘kan semalam begadang bersama Farah.”
“Begadang?” ucap Ahmad, Rania dan juga orang tua Farah kompak.
Seketika Reza mengedarkan pandangannya ke sana kemari menghindari manik mata beberapa orang di sana yang berusaha menemuinya. Sementara Farah, ia semakin tersipu malu.
__ADS_1
“Ih, curang. Nggak ngajak aku,” celetuk Rania membuat Reza dan Farah menarik pandangan ke arahnya dengan tatapan ambigu.
“Ngapain ngajak kamu. Memangnya kami mau ke mana?” sergah Reza.
“Eh, iya juga ya. Ngapain ngajak aku? Nanti aku dikira setan yang berada diantara kalian.”
"Apaan, sih? Nggak jelas!"
“Kami nggak ngapa-ngapain, Nia. Kami hanya mengobrol tentang masa lalu.”
Farah yang sedari tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. Ia tak mau karena kejadian semalam berujung pada sebuah kesalahpahaman diantara keluarganya dan juga keluarga Reza.
“Cieeeeee … Masa lalu. Memangnya kalian punya masa lalu seperti apa?” Rania semakin bersemangat menggoda Reza dan Farah seraya menaik turunkan alisnya.
“Anak kecil nggak usah kepo!" Reza mulai geram.
Rania mendekatkan bibirnya di telinga Farah. "Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui? Apa kalian memiliki hubungan khusus selama ini?"
“Apaan, sih. Aku sama A’ Reza beneran cuma ngobrol, nggak lebih.”
Melihat perdebatan itu, membuat dua pasangan paruh baya yang berada di sekitar mereka hanya saling melempar pandangan sembari tersenyum. Seolah senyuman itu merupakan isyarat sekaligus jawaban dari pikiran mereka masing-masing.
Reza mendengkus kesal. Mulanya ia merasa senang telah dipuji, namun sesaat kemudian rasa senang itu menguap bak debu tertiup angin kala Rania mengejek statusnya.
"Jangan dengarkan dia! Dia hanya asal bicara!" titahnya pada Farah. "Aku jomblo bukan karena tidak laku. Tapi karena Tuhan masih melindungi diriku dari wanita-wanita yang tidak berharga untuk kumiliki."
"Apa Farah masuk dalam kategori berharga?" Dengan wajah polosnya, Rania terus saja memprovokasi keadaan.
"Nia!" sentak Farah. Sementara Reza hanya diam. Terlalu malas baginya menanggapi ocehan Rania.
"Dijadikan beharga saja, Cha. Kan, kalian sama-sama ready stock. Apalagi yang kalian ditunggu?" timpal Ahmad yang juga ikut-ikutan memanaskan situasi. "Ya nggak, Wan?"
"Iya, Kang. Betul itu. Bahkan sampai detik ini belum ada yang datang padaku untuk meminangnya," sahut Ridwan.
Wajah Farah semakin mamanas. Ingin sekali rasanya ia menggali tanah yang dipijaknya saat ini untuk menenggelamkan dirinya daripada harus menjadi bulan-bulanan orang di sekitarnya.
Memahami hal itu, Reza mengambil alih situasi. "Maaf semuanya. Sepertinya saya harus pergi ke kantor sekarang."
"Oh iya iya. Kami juga harus segera berangkat. Khawatir terjebak macet nanti," ujar Ridwan. Ia menarik diri masuk ke dalam mobil diikuti oleh anak istrinya.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, kedua mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah sederhana itu secara beriringan namun setelah keluar dari kawasan perumahan tersebut, mobil yang dikendarai Reza memisahkan diri menuju kantornya.
***
Reza keluar dari mobil yang baru saja ia hentikan di basemen. Sebelum melangkah, pria itu menyempatkan diri menatap sebuah sedan putih yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri dengan tatapan sendu. Berkali-kali ia menarik napas dan menghembuskannya melalui mulut untuk menetralisir rasa tak nyaman yang mengusik hati dan pikirannya. Sekelebat ingatan tentang malam itu, masih berputar-putar di kepalanya.
Reza menarik langkahnya menuju lobby untuk masuk ke dalam lift yang berada di sana guna mengantarkan tubuhnya naik ke lantai dua puluh empat. Suatu hal jarang sekali pria itu lakukan karena selama ini ia selalu menggunakan lift yang berada basemen.
“Reza!”
Sebuah suara yang sangat ia hafal siapa pemiliknya, namun tak lantas membuat langkahnya terhenti menuju transportasi vertikal yang ada di depannya itu.
“Reza! Kamu nggak denger aku panggil dari tadi?” omel Andin ketika sudah berada di sisinya.
“Oh, maaf. Aku terlalu fokus dengan langkahku,” sahut Reza tanpa mengalihkan pandangannya menatap floor indicator—nomor penunjuk lantai dan arah jalannya kotak pengangkut manusia—yang ada disisi atas pintu.
Merasa ada yang tidak wajar pada Reza, Andin hanya diam dengan kening berkerut dalam sembari memperhatikan pria yang berdiri di sampingnya itu.
Dia kenapa? Tidak biasanya seperti ini.
“Andin!”
Reza mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Andin untuk mengurai lamunannya.
“Hei, kamu melamun?”
“Hah! Ya?”
“Itu liftmu sudah terbuka.” Reza menunjuk lift khusus petinggi perusahaan yang terbuka di sisi kanan Andin. “Masuk sana?”
“Ayo kita masuk." Andin menarik tangan Reza untuk masuk ke dalam lift yang sama.
Reza menahan tubuhnya. “Kamu saja, biar aku pakai yang ini.”
“Lift ini masih lama tibanya. Lagipun, bukankah kita selalu terbiasa naik itu bersama. Terus kenapa sekarang kamu menolak?”
“Karena sekarang aku baru menyadari, di mana seharusnya aku berdiri.”
Bertepatan dengan usainya kalimat itu diucapkan, pintu lift terbuka. Reza lantas menarik diri masuk ke dalam lift, meninggalkan Andin yang masih terpaku di tempatnya disertai dengan kebingungan mengenai perubahan sikap dari pria itu.
__ADS_1