
Panas, macet, polusi. Itu kesan pertama bagi Gavin begitu mobil keluar dari pintu tol Cipularang. Matanya mengedar, pertama kali datang ke ibukota ia terlihat kagum menatap beberapa gedung pencakar langit, berdiri kokoh di sisi kanan dan kiri jalan.
Dalam hati, remaja tersebut menerka. Bekerja disalah satunya, pastilah akan mendapatkan salary dengan nilai yang sangat fantasis serta beberapa fasilitas untuk menunjang kinerja para karyawannya dalam bekerja. Namun begitu, Gavin sama sekali tidak tertarik memiliki cita-cita untuk bekerja di perusahaan berkelas seperti itu selain menjadi chef yang andal.
“Makin tahun makin macet, aja!”
Keluhan Reza, serta merta memecah lamunan Gavin. Ia alihkan pandangannya ke depan seraya memperhatikan lalu lintas. Hal lumrah karena ini adalah hari Sabtu. Moment yang pas bagi warganya untuk menikmati hari libur bersama keluarga.
“Wajarlah, namanya juga long weekend,” sahut Andin lalu tatapannya beralih pada Gavin yang duduk di kursi penumpang bagian depan. “Gavin kenapa dari tadi hanya diam? Ngantuk?”
Gavin menggeleng. “Enggak, Bunda.”
“Capek?” Kali ini Reza juga ikut bertanya. Tetapi Gavin lekas memberi respon yang sama seperti pertanyaan Andin tadi.
“Sebentar lagi kita sampai, kok.”
Jantung Gavin kembali berdebar. Ah, bila saja pintu Doraemaon itu ada dan nyata. Rasanya ia ingin sekali kembali ke Bandung saat itu juga menggunakan benda tersebut daripada harus melihat mata penuh kebencian dari Aleysia.
Namun, apa daya? Ia sudah berada di sini. Maka, pilihannya hanya satu. Tetap melanjutkan perjalanan. Meski hati teramat bertolak belakang.
Gavin menyenderkan kepala di kepalan tangan dengan siku menumpu pada jendela kaca. Semalam, cukup lama ia bernegosiasi pada Reza untuk tidak turut serta ke Jakarta. Tetapi, alih-alih mengabulkan. Pria tersebut justru semakin memaksanya. Alhasil Gavin pun menyerah.
Roda mobil mulai merambat pelan memasuki jalanan berpaving salah satu cluster kawasan mewah tersebut. Suasana tampak lengang, hanya satu atau dua kendaraan bermotor saja yang terlihat melintas di sana.
Semakin dekat menuju rumah Adrian, wajah Gavin tampak gusar. Begitu juga detak jantungnya yang semakin tak beraturan. Seperti seseorang sedang dilanda jatuh cinta ... eh!
Gavin memejamkan mata sembari mengatur napas sejenak. Kemudian ia buka matanya kembali dan terkesiap ketika menyadari sesuatu. Hari ini adalah hari yang spesial bagi Aleysia. Bukankah ulang tahun identik dengan kado? Bagaimana mungkin ia datang ke pesta tanpa sebuah kado?
Kepergian ini begitu mendadak karena Reza baru memberitahukan kabar itu semalam. Membuatnya tak sempat menyiapkan sebuah kado.
Menggigit bibir, Gavin berpikir. Meski sempat dekat. Ia masih hapal kesukaan Aleysia pada benda-benda unik dan simpel. Sesaat kemudian, matanya teralih pada gelang tali yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Gelang dengan jejeran biji kayu pukah yang ia dapatkan dari almarhum ayahnya sepuluh tahun silam sebagai oleh-oleh ketika pulang dari rantau dan bekerja menjadi buruh bangunan di Kalimantan Selatan. Gelang yang memiliki banyak arti dan kenangan baginya.
Ini saja dulu. Nanti kalau memang waktunya memungkinkan, aku akan memberimu sesuatu yang lebih indah dari pada ini.
Gavin membuka simpul untuk melepaskan benda tersebut dari tangannya. Bertepatan dengan itu, mobil pun berhenti di depan halaman rumah minimalis tanpa pagar tersebut.
"Alhamdulillah, sudah sampai," ucap Reza. Ia turun kemudian membuka pintu bagian belakang dan membantu Andin melepaskan seatbelt carseat bayi mereka.
***
Suasana riuh dari para tamu undangan menjadi penyambut langkah kaki Gavin yang baru saja menapak di halaman belakang. Masih belum menyadari kehadirannya, ia terpaku pada sosok yang menjadi ratu sehari dalam acara tersebut.
__ADS_1
Gadis dalam balutan dress pink nude sepanjang betis dengan bando berhiaskan bunga serta mutiara di kepala itu terlihat cantik dan mempesona.
Seakan ada yang menempel di kedua pelupuk mata, Gavin merasa kesulitan untuk berkedip barang sekali.
Deg!
Reflek tangannya terangkat untuk memegang dada. Ada rasa yang tak biasa, hadir begitu saja saat menatap bibir mungil berwarna cherry itu mengembangkan senyum pada tamu-tamu yang berusaha memberinya selamat.
Cinta? Tunggu!
Bagaimana mungkin Gavin sudah merasakan cinta di usianya yang masih belasan tahun? Sangat tidak mungkin, apalagi pada Aleysia yang hari ini baru saja menginjak usia sembilan tahun.
Namun, tak bisa dipungkiri. Cinta memang sangat misterius. Ia hadir dan menetap pada siapa saja, tanpa bisa di halau sebelumnya..
"Siapa yang mengundangmu untuk datang kemari?"
Sedikit terjingkat pundak Gavin ketika sosok yang ada di dalam pikirannya itu tiba-tiba muncul hingga membuat senyum miliknya perlahan menyurut.
"A-bang—."
"Kamu bukan Abangku!" sentak Aleysia. "Aku nggak ngundang kamu. Kenapa kamu bisa ada di sini?"
Berusaha bersikap tenang. Gavin menghela napas sejenak. Bukan perkara mudah untuk menghadapi Aleysia.
Meskipun usia Aleysia masih tergolong bocah, ia berbeda dari segi karakter serta pola pikir yang dimilikinya. Biasanya, anak-anak akan mudah melupakan masalah atau pun pertengkaran. Setelah itu, mereka bahkan akan kembali akur hanya dalam hitungan jam.
"Maaf, bila kedatanganku ke sini membuatmu kaget."
Tak ada respon dari Aleysia. Gadis yang memiliki cekungan di sudut bibir bila tersenyum itu hanya mendengkus pelan. Ia berbalik untuk kembali menghampiri tamunya.
"Aley?"
Sentuhan di tangan serta panggilan itu, menghentikan langkah Aleysia. Menunggu beberapa detik, gadis itu tak kunjung berbalik. Membuat Gavin berinisiatif maju dan memposisikan tubuh di samping Aleysia.
"Semalam Yanda memberitahuku mendadak. Hingga aku tak sempat mempersiapkan sesuatu yang indah untukmu. Maafkan aku."
"Aku nggak butuh apapun dari kamu!" Aleysia berucap ketus. Jelas sekali pendar kebencian nampak di manik matanya.
Gavin hanya merespon dengan senyuman. Kemudian ia merogoh saku celana yang terselip sebuah benda teramat bermakna untuknya.
"Ini untukmu. Tidak mahal dan mewah. Tetapi bagiku ini sangat berharga. Kelak ketika aku sudah memiliki banyak uang, aku akan memberikanmu sesuatu yang paling indah."
Kening Aleysia berkerut menatap gelang di atas telapak tangan kanan Gavin. Gadis itu tahu benar kisah dibalik benda tersebut.
__ADS_1
"Nggak usah! Aku nggak butuh!"
"Terimalah, Al. Meskipun ini nggak sebanding dengan hadiah yang mereka berikan." Melirik sebentar pada anak-anak yang berlarian di sekitar meja yang terdapat jejeran kue muffin, cokelat, dan beberapa pernak-pernik ulang tahun di sana.
Aleysia masih bergeming.
"Kumohon terimalah." Tanpa ragu, Gavin meletakkannya di telapak tangan Aleysia. "Kalau kamu nggak suka, kamu bisa menyimpannya saja." Ia lekas berbalik dan menyusul Reza yang duduk di samping Adrian.
"Bagaimana kalau aku membuangnya?" Dengan sedikit meninggi, Aleysia bertanya. Sayangnya, Gavin tak merespon dan terus saja melangkah.
Di abaikan seperti itu, wajah Aleysia semakin memerah. Begitu juga dengan kedua telapak tangannya mengepal erat.
"Aku benci sama kamu!" geramnya kemudian berbalik dan melanjutkan niatnya yang sempat tertunda beberapa saat lalu.
Kumpulan mega di langit sore itu masih tampak cerah. Dari tempat duduknya, tak lepas mata Gavin memperhatikan Aleysia yang sedang asyik bercengkerama bersama teman-temannya.
"Kamu sudah makan, Nak?" Sebuah tepukan lembut dari Reza mengalihkan perhatian Gavin.
"Nanti saja, Yanda. Gavin sama sekali belum lapar. Bunda di mana?" Tatapannya jatuh pada si kembar yang berada dipangkuan Rudi dan Mira.
"Bunda ada di dalam. Lagi buatin adik-adikmu makanan."
"Gavin susul bunda dulu, ya?" Gavin berdiri, bertepatan dengan itu ponsel yang ada dalam saku celananya, bergetar. Segera ia meraih dan melihat id pemanggilnya. "Yanda, Gavin permisi dulu. Mau angkat telepon dari mama."
Reza mengangguk. "Iya, Nak. Silakan."
"Iya, Ma?" sahut Gavin. Suara berisik dari orang-orang yang tak jauh darinya, memenuhi ruang indra Jumi.
"Kamu dimana, Nak?" tanya Jumi memastikan.
"Lagi di Jakarta, Ma. Di rumah Pak Adrian, dalam rangka merayakan ulang tahun Aleysia."
"Oh, jangan nakal kalau ikut Pak Reza ya, Nak. Tetap jaga hormat pada mereka."
"Iya, Ma. Mama kapan pulang? Gavin sudah kangen." Suara Gavin terdengar bergetar menahan rindu. Tak bisa di bohongi, ia pun memiliki sisi manja layaknya anak-anak lain.
"Insya Allah, lusa mama pulang, Nak."
Senyum di bibir Gavin seketika terbit mendengarnya.
"Ya sudah, baik-baik di sana, ya, Nak? Jangan bikin ulah."
"Iya."
__ADS_1
Usai saling berbalas salam, sepasang anak dan ibu itu pun mengakhiri panggilan tersebut. Gavin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia segera berbalik dan tak sengaja menabrak seseorang yang sedang memegang gelas berisi cairan berwarna merah.
"Gavin!"