Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Penyelamatan Andin


__ADS_3

Hujan terlihat sudah membumi begitu derasnya sejak beberapa menit yang lalu. Namun hal itu tak membuat Adrian menyurutkan laju kendaraannya. Makian serta umpatan tak terelakkan lagi saat kendaraan lain nyaris saja menjadi korban keegoisannya.


Sedangkan dua pria lain yang berada di dalam mobil itu pun hanya duduk diam sembari menikmati irama jantung tak beraturan. Mata keduanya menyorot tajam memperhatikan jalan dengan perasaan cemas, takut, marah. Bukan pada Adrian melainkan pada orang yang membuat sahabat mereka itu melajukan mobilnya seperti penguasa jalanan.


Mulanya, Rendy lah yang memegang kendali atas pergerakan mobil itu. Tapi setelah beberapa kilometer mobil menjauh dari halaman rumah Usman, Adrian bertukar peran pada Rendy. Karena menurutnya Rendy terlalu lamban dalam mengemudi. Padahal ia sudah tidak sabar ingin segera menyelamatkan adik satu-satunya itu.


"Reza!"


Suara Adrian meleburkan keheningan yang mengikat ketiganya di dalam mobil.


"Ya," sahut Reza singkat. Ia melirik Adrian yang tetap fokus menatap jalan.


"Selama ini, kamu orang yang paling dekat dengan Andin. Apa kamu tahu, siapa saja orang-orang yang tak menyukainya?" tanya Adrian. Sejenak matanya beradu pandang dengan Reza dibalik kaca spion yang menggantung di tengah.


Semenjak ia menikah dan terpisah rumah, Andin jarang sekali menceritakan hal sekecil apapun padanya kecuali menyangkut pekerjaan dan orangtua mereka. Mungkinkah Andin memiliki musuh?


"Setahuku tidak ada. Andin juga tidak pernah membuat masalah pada siapapun," ungkap Reza mengingat keseharian Andin. "Tapi ...." Reza teringat seseorang tapi ia masih sanksi.


"Tapi apa?" Rendy dan Adrian kompak bertanya.


Reza mulai menceritakan hubungan rahasia antara Andin dengan seorang pria bernama Ditmar. Ia juga menceritakan alasan wanita itu menyembunyikan statusnya hingga hubungan itu berakhir karena penghianatan lelaki tersebut. Kejadian tadi siang pun tak luput dari pembahasannya.


"Ditmar? Orang yang ingin berkerjasama dengan perusahaan kita adalah Tuan Ferli dari PT. Arindo Prakarsa? Bukan Ditmar." Adrian semakin kebingungan.


"Ferli?" Ulang Reza. "Jelas-jelas Andin bilang padaku, klien yang ditemuinya tadi adalah pria itu!" sanggah Reza.


"Kenapa—."


"Tunggu tunggu tunggu." Rendy memangkas kalimat Adrian. Ia memutar tubuhnya ke belakang, menunjukkan tabletnya pada Reza. "Apakah ini orangnya?" tanyanya kemudian.


Reza mengambil tablet tersebut dan mengamati secara saksama sebuah poto di laman web profil perusahaan sesaat kemudian ia mengangguk pasti. "Ya benar. Pria ini yang ditemui Andin tadi siang. Aku masih ingat wajahnya karena aku pernah melihatnya saat menguntit Andin di Semarang."


"Jadi menurutmu, dia yang menculik Andin?" tanya Rendy lagi.


"Aku tidak begitu yakin. Tapi bila mengingat seberapa ambisiusnya pria itu, tidak menutup kemungkinan dia lah orang yang ada dibalik penculikan Andin. Kalau ditanya apa motifnya. Ada dua kemungkinan. Pertama, ia sakit hati. Proposal kerjasamanya ditolak mentah-mentah oleh Andin. Kedua, hari ini ia sudah mengetahui siapa Andin yang sebenarnya. Mungkin ia berniat untuk memaksa Andin kembali padanya dengan cara seperti ini.


"Atau bisa jadi keduanya," sela Rendy merujuk pada dua kemungkinan tersebut.

__ADS_1


Reza mengangguk sembari menunjuk tablet yang kini sudah kembali ke tangan Rendy. "Disitu namanya D. Ferlian Ontoseno. Aku yakin, D itu pasti Ditmar. Tapi orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Ferli dan dia adalah direktur utama Megantara Ltd. Siapa yang tidak tahu perusahaan itu. Perusahaan yang berulang kali ditolak oleh perusahaan-perusahan besar karena reputasi buruknya dalam dunia bisnis. Sekarang, perusahaan itu terancam bangkrut. Makanya dia mendirikan Arindo Prakarsa sebagai perusahaan bayangan untuk mengecohmu, Yan," lanjut Reza.


Mendengar itu, rahang Adrian tiba-tiba mengeras membuatnya harus menginjak lebih dalam lagi pedal gas hingga berada di atas rata-rata.


Tak berapa lama, mobil pun berhenti di salah satu pohon besar dan rindang tak jauh dari rumah tempat Andin diculik. Mereka pun turun diikuti oleh beberapa anak buahnya yang sedari tadi mengekor di belakang. Hujan sudah menyisakan rintik-rintik. Setelah Adrian memberi beberapa pengarahan pada anak buahnya mereka pun berpencar dibeberapa titik rumah tersebut.


Rendy mendekati Adrian dan berkata, "Apa tidak sebaiknya kita menelepon polisi agar mereka segera kemari?"


"Nanti saja!" cegah Reza cepat. "Permainan ini tidak seru kalau tidak ada adegan baku hantamnya. Tanganku sudah gatal ingin menghabisi bajingan itu!" Ia berlalu pergi mendahului Adrian dan Rendy.


Sambil waspada ia menghitung jumlah anak buah Ditmar yang beranggotakan tak lebih dari lima orang diluar. Reza mengendap-ngendap masuk melalui pintu samping yang kebetulan tidak terkunci dan tidak ada seorang pun yang berjaga di sana. Ia menggeleng sejenak sembari menertawakan kebodohan Ditmar.


"Dasar amatir, sia-sia saja rasanya Iyan mengerahkan anak buahnya. Ternyata tak sebanding dengan pasukanmu," gumamnya.


Setelah berhasil masuk, ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru arah, memastikan ruangan mana Andin disekap. Dari sini ia bisa melihat beberapa anak buah Ditmar yang sudah tumbang.


Tiba-tiba ia mendengar suara barang dibanting. Seperti gelas. Spontan ia berlari menuju lantai dua rumah itu. Bersama suara guntur menggelegar ia bisa mendengar suara seorang wanita yang sangat ia kenali sedang menjerit ketakutan.


"Jangaaaannnn! Kumohon jangan menyentuhku!"


Berulang kali Andin mencoba menarik diri dan menjauh dari laki-laki yang kini sudah berkabut nafsu tersebut. Kedua kakinya menendang-nendang. Namun lagi-lagi usahanya tak membuahkan hasil. Dengan cepat Ditmar meraih kembali tubuh Andin ke dalam kungkungannya.


Baru saja Ditmar ingin mencium Andin, suara pintu yang dibuka paksa itu menghentikan aktivitasnya. Reza muncul dari balik pintu. Ia melihat Andin berada di bawah tubuh Ditmar. Seketika darahnya mendidih.


"Dasar bajingan! Apa yang kau lakukan, bangsat!"


Reza segera berjalan cepat dan menendang tepat di pinggang pria yang belum sempat menghindar itu hingga terpental ke lantai.


"Reza!" Andin bangkit dan menghambur ke pelukan Reza sembari menangis ketakutan.


"Maaf, aku datang terlambat!" Reza melepaskan pelukannya kemudian membenarkan blouse putih dan rambut Andin yang terlihat berantakan. Ditmar berdiri dengan amarah yang memuncak.


"Brengsek! Memangnya siapa dirimu, berani mencampuri urusanku!" Dengan tertatih-tatih Ditmar berjalan mendekat ke arah Reza. Andin berlindung di balik tubuh Reza.


"Aku adalah orang yang akan membunuhmu!" kata Reza dengan nada sombong.


"Kau pikir aku takut dengan gertak sambalmu itu!"

__ADS_1


Ditmar mengayunkan pukulan tangannya sekuat tenaga. Namun dengan cepat Reza menghindar dan menendang perut pria itu dengan lututnya. Ditmar meringis. Emosinya semakin menumpuk. Melihat itu, Andin menepikan diri dipojokan sembari memeluk tubuhnya yang bergetar ketakutan.


"Kurang ajar!"


Lelaki berambut ikal itu mengambil pisau di dalam laci nakas dan mengayunkannya ke arah Reza. Reza menghindar. Ditmar terus memburu. Satu sabetannya tepat mengenai lengan kiri Reza. Langsung berdarah. Dipojok ruangan Andin berteriak histeris. Tapi Reza berusaha tetap tenang sambil mencari peluang untuk membalas serangan itu.


Ditmar tergelak seraya mengacungkan pisau. "Kita lihat, siapa yang akan mati di sini?"


"Reza!"


"Andin!"


Suara dua pria yang berdiri di ambang pintu menyita perhatian Ditmar. Andin segera menghambur ke salah satu pria tersebut.


"Abang!"


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Adrian. Andin menggeleng.


Merasa mendapat peluang, Reza menendang tangan Ditmar yang menggenggam pisau hingga tejatuh kemudian ia menggulingkan tubuh pria itu di atas tempat tidur dan memukulinya secara membabi buta. Rendy tak tinggal diam, ia pun ikut memukuli pria yang kini sedang mengerang sambil mengumpat dan memaki dengan sisa tenaganya.


"Dasar banci! Beraninya keroyokan!"


Tak lama polisi pun datang dan segera melerai pertarungan itu. Salah satu polisi itu memborgol kedua tangan Ditmar di depan perutnya. Sementara polisi yang lain mengambil pisau yang tergeletak di lantai untuk dijadikan barang bukti.


"Segera jebloskan dia ke penjara, Pak. Jangan biarkan dia lepas begitu saja!" geram Adrian. Ia menatap pria yang wajahnya penuh lebam dan luka itu dengan tatapan benci. "Akan kupastikan kau membusuk di sana, Tuan Ferli yang terhormat!"


Polisi pun mengangguk. "Kami tunggu Anda di kantor untuk memberi kesaksian."


"Ayo!" Salah satu polisi mendorong tubuh Ditmar agar segera berjalan. Sebelum melangkah, Ditmar menyempatkan diri menatap sinis pada Andin yang masih menenggelamkan diri dipelukan Adrian. "Cepat!" perintahnya sekali lagi.


Ditmar menurut namun baru beberapa langkah kakinya manapak, ia menarik paksa pistol yang menggantung di pinggang polisi yang berjalan di samping kirinya. Ia langsung berbalik dan mengarahkannya pada Andin.


"Kau harus mati, Andin!"


Sesaat kemudian, suara tembakan beruntun terdengar memenuhi ruangan tersebut bersamaan dengan suara teriakan dua pria dan satu wanita yang terkejut.


"Reza!"

__ADS_1


Peluru yang dimuntahkan ke arah Andin mengenai Reza saat pria itu berusaha menjadi tameng bagi wanita yang dicintainya itu. Sedangkan satu peluru lagi mengarah pada Ditmar saat polisi menembaknya. Keduanya pun langsung tersungkur tak sadarkan diri dengan darah mengucur deras membasahi lantai marmer tersebut.


__ADS_2