Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
You Look So Perfect


__ADS_3

Langit sudah berubah warna, menandakan tugas matahari telah usai beberapa saat yang lalu dan tergantikan oleh sinar bulan yang membiaskan cahayanya ke segala penjuru kota. Angin malam berhembus, lirih dingin menyapa. Namun tak membuat wanita yang mengenakan dress simpel berwarna pastel dengan rok menjuntai hingga sebatas lutut itu beranjak dari atas balkon kamarnya.


Raut wajah yang sudah tersentuh oleh polesan make up tipis terkesan natural itu terlihat datar. Tak sedikitpun menunjukkan ekspresi senang atau antusias. Padahal malam ini, sesuai rencana yang sudah diatur oleh Adrian dan bertepatan dengan hari ulang tahunnya, ia akan diperkenalkan pada pria yang merupakan teman sekaligus rekan bisnis dari kakaknya tersebut.


Pasrah.


Hanya kata itu yang ada dalam pikiran Andin. Lagipula, ada tiga alasan yang membuatnya seperti itu. Pertama, usianya yang sudah sangat cukup untuk menikah. Kedua, pilihan orang tua pastilah yang terbaik. Ketiga, tidak punya pilihan.


Terdengar suara pintu diketuk mengalihkan perhatiannya menatap pintu yang mulai terbuka sedikit. “Boleh Kakak masuk?” tanya Rissa.


“Masuk aja, Kak.” Andin menghampiri Rissa dan mempersilakan wanita itu untuk duduk di sofa panjang di dekat jendela balkon kamarnya.


“Masih bimbang?” Tanpa basa-basi. Rissa langsung melemparkan pertanyaan yang begitu menohok.


Andin hanya diam. Bingung harus menjawab apa. Pandangannya menunduk menatapi lantai berlapis vinyl yang ia pijak saat ini.


“Ini hanya perkenalan biasa. Kamu tidak perlu banyak memikirkan sesuatu di luar ekspektasimu. Kami juga tidak akan menutut banyak untuk hubungan ini," ujar Rissa meyakinkan.


Lagi, tak ada respon dari wanita yang masih setia membungkam mulutnya.


“Masih mikirin Reza?”


Pertanyaan sederhana namun berhasil menemukan dua netra berbeda jenis itu.


“Lebih baik kamu tata hatimu. Biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Cukup sudah kamu membuang waktu hanya untuk memikirkannya. Toh, sampai detik ini kamu tidak tahu, ‘kan di—.”


“Dia ada, Kak,” potong Andin. “Dia ada di kota ini.”


“Apa?” Rissa menatap bingung pada Andin seraya menajamkan telinga bahwa apa yang baru saja ia dengar tidaklah salah.


“Aku sudah bertemu dengannya." Andin memperjelas kalimatnya. Cairan bening kembali mengumpul dibalik pelupuk matanya. Dengan sengaja ia mengangkat kepalanya berupaya agar cairan itu tak jatuh.


Rissa merubah posisi duduknya setengah menghadap ke arah Andin sembari menggenggam tangannya. "Reza ada di kota ini? Kamu serius?"


Andin hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau begitu, kamu beritahu abangmu alamatnya. Agar kita bisa kesana menemuinya." Langkah Rissa tertahan ketika merasakan tangannya di tarik oleh Andin. Ia menoleh seraya mengerutkan dahinya, melihat wanita di belakangnya itu menggeleng cepat. "Kenapa?"


"Terlambat!"


Semakin dalam Rissa mengerutkan dahinya. Ia kembali mendudukkan dirinya di tempat semula. "Apanya yang terlambat?" tanya Rissa kemudian.


"Dia ...." Sejenak menjeda untuk mengatur napas. Sementara tetes demi tetes air mata mulai berdesakan keluar dari pelupuk mata, "akan segera menikah!"


"Apa?" Iris hazel miliknya seketika membola sempurna. Sungguh berita ini begitu mengejutkan.


Andin menelusupkan wajahnya dikedua telapak tangannya, ia menangis sesegukan. Melihat itu, Rissa segera merengkuh tubuh Andin ke dalam pelukannya sembari menepuk punggung adik iparnya yang bergetar, seolah-olah memberikan kekuatan di sana.

__ADS_1


"Sabar ... Insha Allah, kamu akan menemukan pria yang tepat dan lebih baik darinya."


Tak lama, suara deru mesin mobil terdengar mendekat. Menghentikan percakapan dan juga pelukan itu. Rissa melongokkan kepalanya menatap keluar jendela.


"Dia sudah datang. Lebih baik kamu rapikan penampilanmu agar tak ada yang melihat sisa-sisa tangisanmu itu."


"Kak!" panggil Andin.


"Ya?"


"Tolong rahasiakan masalah pertemuanku dengan Reza pada yang lain."


Rissa tampak berpikir. Namun melihat wajah Andin penuh dengan pengharapan membuatnya tidak kuasa untuk menolak. "Baiklah. Kakak akan merahasiakannya."


"Terima kasih, Kak."


Rissa tersenyum dan mengangguk. "Ya sudah. Kakak keluar dulu." Ia melangkah keluar lebih dulu untuk menyambut kedatangan tamunya. Sedangkan Andin kembali memantulkan diri di hadapan cermin di atas meja rias sembari membenarkan make up yang pudar efek menangis.


***


Senyum pria berkacamata dengan tubuh terbalut kemeja soft blue lengan panjang yang digulung sebatas siku serta celana jeans hitam menutupi kaki jenjangnya, menjadi penyambut kehadiran Andin yang baru saja bergabung di ruang tamu tersebut.


"Nah ... Ini dia adikku." Adrian berdiri diikuti oleh istrinya yang mendekat untuk menarik lembut tangan Andin sampai di depan pria yang belum menyurutkan senyumnya.


"Akhdiyat Denis Ababil." Pria itu mengenalkan diri seraya mengulurkan tangannya. "Panggil saja Denis," ujarnya lagi.


Andin diam, memperhatikan tangan yang menggantung di udara.


"Andinia Maura. Panggil saja Andin."


"Senang bertemu denganmu, Andin."


Andin mengulas senyum tipis seraya mengangguk kaku. Secara serentak mereka mendudukkan diri di sofa. Obrolan singkat sebagai pengantar perkenalan itu mulai terdengar. Dari sana, Andin mengetahui kalau Denis adalah seorang yatim piatu sejak remaja dan hanya dibesarkan oleh kakeknya.


Sesaat kemudian, Mira mengajak pindah ke meja makan untuk makan malam. Tentu saja ini atas permintaan Andin yang tak mau merayakan ulang tahun seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya dengan menggelar acara makan malam sederhana dan berkumpul bersama keluarga itu sudah lebih dari cukup.


Kini kursi yang mengelilingi meja makan itu telah terisi penuh ketika mereka baru saja mendaratkan tubuh di sana. Selama menikmati makanannya, Denis terlihat mencuri-curi pandang pada Andin yang mana membuat wanita itu merasa risih. Entah disengaja atau tidak, ia duduk tepat di hadapan pria yang memiliki lesung pipi di wajahnya tersebut.


Usai menikmati makan malam. Andin dan Denis duduk di taman yang ada di samping rumah untuk sekadar mengakrabkan diri. Mulanya keduanya tampak canggung, namun Denis bisa mencairkan suasana dengan beberapa candaan recehnya.


“Kamu cantik kalau tertawa seperti itu,” puji Denis.


Andin tersenyum. “Gombalmu basi, Mas. Aku, ‘kan cewek. Ya pastilah cantik.”


Denis terkekeh mendengarnya. Kemudian merogoh saku celananya, mengambil sesuatu yang terselip di sana. "Untukmu." Menyodorkan sebuah kotak persegi berhiaskan pita merah muda ke hadapan Andin.


"Apa ini, Mas?"

__ADS_1


"Hadiah ulang tahunmu dariku."


"Kenapa harus repot sih, Mas,"


"Nggak apa. Ambil dan bukalah. Semoga kamu suka."


Dengan ragu, Andin mengambil benda tersebut lalu membukanya. Sebuah kalung berlian dengan liontin simple namun elegan, menjadi perhatiannya kini.


"Mas ... ini terlalu berlebihan."


"Mau aku pakaikan?" tawar Denis dengan mengabaikan kalimat wanita yang masih tertegun menatapi kalung yang ada di tangannya. Indah. Sangat indah. Sepertinya, pria itu sangat tahu selera Andin.


Walau berat, Andin menganggukkan kepalanya sebagai tanda menghargai pemberian Denis. Ia mengumpulkan rambutnya ketika Denis memasangkan kalung itu di leher jenjangnya.


"You look so perfect." Denis tersenyum membuat Andin semakin tersipu.


"Terima kasih, Mas. Aku suka. Kok, kamu tahu banget seleraku?"


"Aku ini mantan dukun." Denis terkekeh dan langsung dihadiahi pukulan gemas dari Andin di lengannya.


"Aku serius, Mas."


Denis melirik jam melingkar di tangannya. Ternyata sudah terlalu lama ia berada di rumah itu. "Oh iya, Ndin. Aku pamit pulang dulu, ya." Ia menolehkan kepalanya ke arah pintu utama yang sedikit terbuka tapi hening. Sepertinya penghuni di dalamnya sudah masuk ke kamar masing-masing. "Orang tuamu sudah tidur apa belum ya? Masa' aku pulang nggak pamit ke mereka."


"Aku bisa memanggilkannya. Mas tunggu—." Kalimat Andin terpangkas ketika Denis menarik tangannya.


"Tidak usah, Ndin. Sampaikan saja salam dan maafku pada mereka. Karena sudah tidak tahu diri, bertamu sampai selarut ini."


"Belum juga jam sepuluh."


"Cowok baik-baik, nggak boleh pulang malam-malam," goda Denis kemudian terkikik geli melihat ekspresi Andin yang kesal.


"Ya sudah. Mas hati-hati ya?"


Denis mengangguk. "Kamu langsung istirahat, ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Andin melambaikan tangan sebagai pengantar kepergian Denis. Sampai mobil pria itu tak terlihat lagi, barulah ia masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya.


Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, Andin langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memainkan liontin yang menggantung di kalungnya. Wajahnya tersenyum. Benar apa kata Adrian, walau hanya dalam sekali pertemuan ia langsung bisa menyukai Denis. Tunggu! Suka? Entahlah suka seperti apa yang ada dalam benaknya. Ia pun tak tahu.


Lambat laun, Andin mulai merasakan matanya memberat sebagai tanda ia harus menyudahi pikirannya itu. Ia rubah posisi tidurnya menghadap ke samping dan mulai memejamkan mata setelah berdoa.


Hampir satu jam ia masuk ke alam mimpi, suara berisik dari kaca balkon yang diketuk berulang kali mengharuskannya kembali ke alam nyata. Untuk sesaat, wanita itu mengabaikannya karena ia pikir mungkin saja itu hanya patahan ranting dari pohon yang terbang terbawa angin. Namun suara itu terdengar semakin berisik dari sebelumnya. Dengan menahan kesal, Andin beranjak dari tidurnya untuk mendorong pintu balkonnya.


"Apa sih yang berisik? Nggak mungkin orang, 'kan?" Andin maju sembari menatap sekitar. Kosong dan hening. Hanya suara gesekan dedaunan yang tertiup angin serta tetesan air menyentuh bumi menjadi pengisi latar suasana malam.

__ADS_1


Karena tak menemukan apapun, Andin memutuskan untuk kembali masuk. Saat akan menutup pintu. Ia dikejutkan oleh kehadiran seorang pria berpakaian serba hitam lengkap dengan masker yang menutupi wajahnya.


"Siapa—." Belum sempat Andin menuntaskan kalimatnya, pria itu sudah membekap mulutnya sembari mendorong tubuh wanita itu hingga jatuh di atas tempat tidur.


__ADS_2