
Reza bergegas keluar ketika pintu lift baru saja terbuka di lantai atas. Dengan langkah tegas pria itu berjalan menuju ruang kerjanya. Tali tas yang menggantung di salah satu pundaknya pun ikut bergoyang seirama dengan gerak langkah kakinya yang berayun secara bergantian menapaki lantai keramik tersebut.
“Selamat pagi, Pak.” Suara dari beberapa anak buahnya terdengar menggema secara bersamaan, menyambut kehadiran dirinya di sana.
“Pagi.” Seulas senyuman tak lupa ia sematkan dikedua sudut bibirnya saat membalas sapaan tersebut seraya mendorong pintu bermaterial kaca ke arah dalam ruangannya.
Nyaris saja tubuhnya melewati ambang pintu, Reza menolehkan kepalanya menghadap pria berkacamata dengan potongan rambut spike yang juga nyaris mendudukkan dirinya di kursi.
“Faisal!"
Faisal kembali menegakkan tubuhnya begitu mendengar Reza memanggilnya. Ia langsung berlari kecil menghampiri atasannya yang masih bergeming di depan pintu ruangannya. "Iya, Pak."
"Tolong pending semua jadwal saya hari ini. Alihkan untuk esok hari. Sepertinya hari ini saya kurang enak badan dan ingin berdiam diri saja di kantor.” Terdengar suara sedikit parau dari kalimat yang diucapkan Reza membuat Faisal merasa khawatir. Hingga manik matanya dapat menyimpulkan jika bosnya hari ini memang tampak kuyu dan tak bersemangat. Tidak seperti hari-hari sebelumnya.
"Baik, Pak,” sahut Faisal. “Apa perlu saya panggilkan dokter Arif agar beliau bisa memeriksa keadaan Bapak?” tawarnya kemudian. Dokter Arif adalah dokter perusahaan yang khusus memberikan pelayanan kesehatan kerja dalam lingkup Dinata Group dan ia bertugas di lantai dua puluh tujuh.
“Tidak perlu, terima kasih tawarannya. Mungkin bila dibawa istirahat saja sudah cukup,” cetus Reza.
“Atau Bapak ingin minum sesuatu yang hangat? Seperti kopi atau teh misalnya.”
“Air putih hangat saja.”
“Baik, Pak. Saya akan minta office girl membawakannya ke ruangan Anda.”
Reza melanjutkan lagi langkahnya yang sempat terhenti sesaat setelah ia memberikan sebuah anggukan kecil pada Faisal. Setelah meletakkan tas di atas meja kemudian menyampirkan jasnya di sandaran kursi. Reza melangkah mendekati kaca ribben.
Sembari memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana, manik sendunya menatap nanar memperhatikan gedung-gedung pencakar langit yang berdiri tegak di sekitar gedung Dinata Group dengan pikiran berkelana ke beberapa menit yang lalu saat ia berada di lobby.
Apa sikapku tadi sudah keterlaluan padanya?
Kening pria itu berkerut ketika merasakan ada sebuah penyesalan yang bergelayut di benaknya. Baru kali ini ia bersikap abai pada wanita itu setelah sekian lama menjalin hubungan. Reza menarik kedua tangannya kemudian melipatnya di depan perut. Helaan napas kasar terdengar begitu mendesak di telinganya.
Ah, sudahlah. Untuk apa aku memikirkannya. Toh, dia tidak pernah memikirkan diriku, apalagi perasaanku. Apa salah, bila saat ini aku bersikap egois?
Reza membuyarkan lipatan tangannya kemudian beranjak dari sana untuk mendaratkan tubuhnya di kursi. Ia membuka tasnya guna mengambil benda pipih persegi berwarna putih dari dalam sana. Seketika, pria itu dibuat tertegun ketika melihat tampilan layar laptopnya sesaat setelah ia menekan tombol ‘on’.
Perlu beberapa saat untuk Reza berpikir hingga akhirnya, ia segera mengarahkan jemarinya di atas touchpad—mouse pada laptop—untuk mencari poto yang cocok sebagai pengganti poto wanita yang selama ini menghias di sana. Setidaknya dengan melakukan hal itu, akan membuat perasaannya pada wanita itu perlahan mengikis. Mungkin.
__ADS_1
Sejurus kemudian disela kesibukannya itu, ia mendengar suara pintu diketuk disertai dengan kalimat permintaan izin untuk masuk ke ruangannya.
“Masuk!”
Reza mengernyit heran kala menatap seorang wanita berpakaian office girl muncul dari balik pintu yang baru saja dibuka. Pandangannya tak sedikit pun teralih hingga sang OG tiba di depannya.
“I-ini air putih hangatnya, Pak.” Dengan tangan sedikit bergetar, OG bernama Isma itu meletakkan cangkir yang berisi cairan bening di dalamnya dengan kebulan asap tipis yang menguap di atasnya, menandakan bahwa air tersebut masih dalam keadaan hangat.
“Kamu bukannya OG area lantai bawah, ya?”
"I-iya, Pak." Isma mengangguk kaku. "Baru hari ini saya dirolling di area ini.”
Mendengar jawaban Isma yang terbata, Reza terkekeh. “Tidak usah gugup seperti itu. Saya manusia bukan hantu yang perlu kamu takuti."
"Maaf, Pak," ujar Isma sembari menundukkan kepala, terlihat segan menatap Reza diiringi seulas senyum tipis di bibirnya.
"Saya hanya heran. Biasanya Amalia yang mengantarkan minuman dan membersihkan ruangan ini. Lalu di mana dia sekarang?"
Isma mendongakkan kepala, memberanikan diri menatap Reza. “Dia sudah mengundurkan diri sejak hari ini, Pak. Hem ... Katanya ada tawaran pekerjaan di tempat lain."
"Oh." Reza mengangguk-anggukkan kepala. "Ya sudah. Kamu boleh keluar sekarang. Terima kasih, ya, airnya."
Sepeninggal Isma dari ruangannya, Reza mulai menenggelamkan diri dengan beberapa berkas di hadapannya.
Sementara itu, di gedung yang sama dan di ruangan berbeda yakni ruang wakil presdir. Andin tak lantas mengerjakan pekerjaan setelah tiba di ruangannya. Wanita itu masih terlihat menyandarkan punggungnya di kursi sementara ujung jari telunjuknya berulang kali mengetuk meja hingga terdengar berisik di indera pendengarannya sembari menerka-nerka apa yang terjadi pada sahabatnya tersebut.
Apa yang terjadi padanya? Kenapa hari ini dia begitu aneh? Apa dia salah makan?
Andin memutar posisi kursinya menghadap ke depan. Tangannya mengulur untuk meraih ponsel yang sedari tadi ia letakkan di atas meja.
Biasanya ponsel ini tidak pernah sepi. Selalu saja ada notif pesan atau telepon darinya. Tapi entah kenapa beberapa hari ini tidak ada?
Andin membuka aplikasi room chatnya. “Tuh, ‘kan. Beberapa pesanku masih centang dua abu-abu. Itu artinya ia sama sekali belum membacanya.”
Entah kenapa ada kerinduan yang menyergap dirinya saat ini ketika mengingat masa-masa di mana Reza selalu menteror dirinya dengan berbagai pesan singkat maupun telepon hanya sekadar bertanya sesuatu yang tak penting menurutnya. Walau mereka bekerja di gedung yang sama dan bertemu setiap hari. Namun Reza tak pernah menyurutkan perhatiannya kecuali hari ini. Ya, hari ini pria itu begitu aneh!
Lama ia berperang dengan pikirannya hingga pada akhirnya ia meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula.
__ADS_1
"Sudahlah! Palingan juga nanti kalau moodnya udah balik, semuanya juga akan kembali normal."
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 13.14. Reza masih terlihat sibuk membolak-balik berkas dan mencocokkan data yang ada di sana ke dalam laptopnya. Bahkan saking asyiknya, ia sama sekali tak terganggu dengan suara decitan pintu yang didorong oleh seorang wanita.
"Reza ...."
Pemilik nama itu mendongak. Menatap wanita yang tengah berjalan ke arahnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi apapun.
"Ada apa?"
"Sudah waktunya makan siang. Apa pekerjaanmu masih banyak?" Tanpa dipersilakan, Andin menarik salah satu kursi yang ada di hadapan Reza dan duduk.
"Ya, seperti yang kamu lihat." Jejeran berkas yang tertata asal di meja kini menjadi perhatian keduanya sebelum kemudian Andin ganti menatap Reza.
"Kita makan siang dulu, yuk. Nanti, 'kan bisa dilanjut lagi.
"Kamu saja. Aku sama sekali belum lapar."
Andin menautkan kedua alisnya hingga nyaris menyatu mendengar penolakan Reza. Sebuah hal yang tak pernah pria itu lakukan ketika mendapat ajakan darinya. Ia menempelkan kedua lengannya di meja seraya mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Hari ini kenapa kamu aneh, sih? Sakit?"
Iya aku sakit. Sangat sakit melihatmu bersama pria lain pada malam itu.
Rasanya Reza ingin sekali menyemburkan kalimat itu pada Andin dan berteriak layaknya orang gila dengan mengatakan ia sangat terluka.
"Reza! Kenapa kamu diam?"
"Tidak ada apa-apa."
Suasana kembali hening.
"Maaf Andin. Bukan aku bermaksud untuk mengusirmu. Bila tidak ada lagi yang perlu dibahas. Tolong tinggalkan ruangan ini. Karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
Kalimat itu seakan menghujam keras di telinga Andin. Sambil mendengkuskan napas kesalnya di udara, ia berdiri.
__ADS_1
"Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Andin berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara Reza masih mengiringi langkah Andin yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya.
Maafkan aku, Andin.