Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Usai pembahasan semalam, Hesti memberitahukan suaminya perihal niat Reza untuk melamar Andin. Ahmad senang, karena harapannya pun sama seperti istrinya. Yaitu, melihat putra mereka itu segera menikah.


Dengan membawa restu dari kedua orang tuanya itulah membuat Reza semakin yakin dan bersemangat untuk menjemput cintanya.


Ada yang berbeda dari penampilan Reza kali ini. Ia memakai kaos hitam polos kesukaannya dilapisi blazer berwarna biru dongker dan celana jeans hitam, sudah membalut sempurna di tubuh proporsionalnya walau tak menonjolkan otot-otot di sana. Tak berkedip Andin melihatnya. Ia harus mengakui, hari ini Reza tampak sangat keren, berkarisma dan juga ... tampan. Benar-benar beda!


“Kenapa? Aku semakin ganteng, ya?”


Reza melintangkan jari telunjuk dan ibu jari di bawah dagu membentuk lambang pistol. Dan hal itu sukses membuat Andin menguapkan keterpanaannya. Ia salah tingkah, khawatir Reza akan melihat rona merah di pipinya, pun ia melengos melewati Reza dan segera masuk ke dalam mobil.


“Apa ada yang  salah dengan penampilanku?” Pria itu mengekor di belakang Andin seraya mengusap pakaiannya seolah-olah ada debu yang menempel di sana.


Suasana menjadi hening sesaat setelah mobil perlahan-lahan mulai meninggalkan kediaman Andin. Tak butuh waktu lama, mobil pun berhenti sempurna di pelataran parkir sebuah pusat perbelanjaan ternama di kota itu.


“Ketemu di sini?” 


“Tidak!”


“Lalu?”


“Sebelum menemuinya, aku akan membelikan sesuatu untuknya. Dan aku memintamu untuk memilihkannya.”


“Kenapa harus aku?”


“Karena kamu adalah wanita dan kamu pasti mengerti selera wanita.”


Keduanya pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam mal tersebut. Sebuah toko perhiasan yang terkenal dengan kualitas terbaiknya, menjadi tujuan mereka saat ini.


Para pelayan toko tergopoh-gopoh menghampiri keduanya yang mulai mengedarkan pandangannya menatap jejeran perhiasan yang terpajang indah di dalam lemari etalase.


“Silakan Pak, Bu." Pelayan itu menuntun Andin untuk duduk di sebuah kursi yang tersekat etalase kaca. Sementara Reza duduk di sofa sembari menunggu Andin selesai memilih perhiasannya tersebut.


Setelah mengeluarkan beberapa koleksi terbaru dan meletakkannya di atas kaca tersebut, mereka mulai menjelaskan bentuk dan jenis berlian apa yang sedang di minati saat ini.


Andin terlihat bingung harus memilih yang mana karena menurutnya semua menyuguhkan keindahannya masing-masing. Ia memutar tubuhnya ke arah Reza yang duduk di belakangnya.


Mengerti dengan situasi, Reza beranjak dari duduknya. “Sudah menentukan pilih yang mana?”


“Aku suka yang ini, lebih elegan dan simpel. Tapi yang ini juga tak kalah cantik.” Andin membandingkan koleksi di depannya. Masih menimbang-nimbang sebelum menjatuhkan pilihan.


“Ya sudah ambil saja keduanya.” Reza menjawab santai. Kemudian mengalihkan pandangannya pada  koleksi-koleksi lain yang masih setia berada di dalam lemari.


“Nggak bisa gitu, dong. Itu sama saja kamu tak menganggap spesial pada pilihanmu.”


“Dari pada bingung! Mending ambil keduanya.”


Pelayan toko masih diam mendengarkan perdebatan keduanya. Sungguh pasangan yang unik!


" ... jadi pilih yang mana?" desak Andin.


“Bungkus yang ini saja.” Akhirnya Reza menjatuhkan pada pilihan yang kedua. Sebuah cincin berlian dengan desain yang cantik dan elegan. Cincin emas putih 18K ini, dipercantik dengan sebuah batu mulia Sapphire Oval berwarna Biru. Batu Sapphire ini adalah salah satu jenis batu mulia langka, namun tinggi peminatnya.


“Baik, silakan menunggu dulu, Pak, Bu. Kami akan menyiapkan pesanan Anda."


"Oke." Reza menyerahkan kartu debitnya pada pelayan toko sebelum kemudian menekan beberapa angka pada mesin EDC tersebut.


“Habis ini kita mau ke mana lagi?” tanya Andin sesaat setelah berhasil mendudukkan tubuhnya di samping Reza yang sudah lebih dulu duduk di sofa.


Reza melirik jam tangannya, masih pukul lima sore lewat sedikit. Sementara ia membuat reservasi di salah satu restoran tepat pukul delapan malam. Masih ada waktu beberapa jam ke depan.

__ADS_1


“Main yuk, di atas.” Reza menyeringai penuh maksud. Tak masalah tak jadi ke taman hiburan. Sebagai gantinya, ia bisa main di game station yang disediakan mal tersebut. Bukan apa, ia hanya ingin memanfaatkan waktu bersama wanita itu!


Andin menatap sinis pada pria di sebelahnya itu. “Dasar licik! Kamu sengaja, 'kan menjemputku di awal waktu padahal kamu janjian jam delapan.”


“Enggak, kok. Mana aku tahu kalau memilih hadiah secepat ini. Aku kira akan memakan waktu lama,” elaknya, “atau kamu mau aku belikan sesuatu juga? Mau apa, sebut saja. Baju, tas, sepatu.”


“Kamu kira aku tidak mampu?”


“Dari pada kamu sewot. Atau mau mengukur luas mal ini dengan cara mengelilinginya dari lantai per lantai? Kan lumayan olah raga.”


“Dasar gila.”


Iya, aku memang gila. Gila karena mencintaimu.


Ingin rasanya Reza meneriakkan kalimat itu. Namun itu hanya terucap di dalam hatinya.


“Main aja, napa?” rengek Reza lagi.


“Kamu—,"


“Pak, Bu. Ini pesanannya.” Pelayan tiba-tiba muncul di hadapan keduanya dengan membawa sebuah paper bag kecil yang di dalamnya termuat kotak perhiasan. "Terima kasih telah berbelanja di toko kami."


***


Kemenangan berada di pihak Reza. Dengan malas Andin mengekor ke mana kaki Reza melangkah.


Ia mengernyit heran ketika melihat Reza begitu exitednya dengan wahana yang ada di depannya. Setelah melepas blazernya dan memberikannya pada Andin. Pria itu mencoba satu persatu permainan yang disuguhkan di sana. Sementara Andin, karena tak begitu tertarik ia memilih duduk saja sambil menunggu Reza menyelesaikan kegilaannya itu.


Kenapa dia begitu semangat sekali? Apa masa kecilnya kurang bahagia?


Andin memperhatikan Reza yang tengah asyik dengan kegiatannya yaitu danzbase, menari mengikuti koreografi dance yang ada pada layar.


“Ah, nggak. Mana bisa aku berdansa. Lagi pula apa kamu tidak melihat aku memakai apa sekarang?” Andin menunjuk tubuhnya. Sebuah dress motif bunga berlengan hingga batas siku dengan panjang selutut melekat di sana. "Sepertinya kamu bahagia sekali," tebak Andin.


Reza mengangguk. "Iya. Waktuku habis dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Mana sempat aku menyenangkan diri seperti ini. Itulah alasan, mengapa aku terus merengek seperti anak kecil. Karena di tempat seperti inilah, aku bisa mengeskpresikan diriku sebebas-bebasnya."


Andin terdiam, berusaha memahami keadaan pria di sampingnya itu.


“Ehm ... kita photo booth aja, yuk?” Reza mengambil blazernya dari tangan Andin lalu memakainya. Ia menarik tangan Andin untuk mengantre masuk ke dalam sebuah snapshoot room.


Setelah giliran mereka masuk, pun mereka mulai menentukan gaya masing-masing. Terlintas sebuah ide nakal di dalam pikiran Reza. Ketika alat di depannya itu mulai siap mengambil gambar, ia mencuri ciuman di pipi mulus Andin secara tiba-tiba.


Tentu saja membuat si pemilik pipi itu terperanjat. Kejadian itu begitu cepat. Tanpa bisa ia hindari. Dengan langkah kesal, Andin keluar dari kotak berukuran 1,5 x 1,5m itu dan menjauh dari Reza yang mulai berlari mengejarnya.


"Andin! Tunggu!"


Tanpa memedulikan teriakan pria di belakanganya, Andin terus saja melangkah ke sembarang arah memecah kerumunan pengunjung mal.


"Andin Andin." Ia berusaha memegang tangan Andin namun segera di tepis wanita itu. "Jangan marah, dong. Aku minta maaf. Aku kelepasan."


Andin menghentikan langkahnya kemudian menghadap Reza. "Kamu mencuri ciuman pertamaku."


"Hah! Aku, 'kan hanya mencium pipimu, bukan bibirmu."


"Sama saja. Kamu adalah orang pertama yang mencium wajahku."


"Masa, sih? Terus ngapain aja kamu selama pacaran dengan mantanmu itu?"


Andin mendengkus kesal. "Antar aku pulang sekarang!" Kemudian melanjutkan lagi langkahnya.

__ADS_1


"Andin! Please maafin aku." Reza kembali menahan langkah Andin. "Please ...."


Entah kenapa melihat wajah penuh penyesalan itu membuat Andin luluh seketika.


"Jangan di ulangi lagi!"


"Tergantung," gumam Reza pelan.


"Apa?"


Reza menggeleng cepat. "Ah, tidak. Ayo kita ke Restoran." Ia merangkul pundak Andin dan keluar dari mal tersebut.


"Serius kamu belum pernah ciuman?" Reza membuka percakapan di dalam mobil.


"Berhenti membahasnya! Atau aku loncat dari sini!" ancam Andin.


"Kita impas, dong. Itu juga ciuman pertamaku."


"Aku tidak peduli!"


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan karena harus bersabar dengan kemacetan malam itu, akhirnya mobil pun tiba di Restoran yang terletak di seputaran Menteng. Begitu tiba, mereka bergegas masuk dengan di pandu oleh pelayan restoran menuju lantai empat puluh enam.


Andin begitu takjub melihatnya. Bukan pada tempatnya melainkan pada Reza yang begitu romantis. Dari sini, ia bisa melihat suasana malam kota Jakarta melalui kaca di samping meja mereka.


"Aku baru tahu kalau kamu seromantis ini," puji Andin.


Reza hanya tersenyum dengan tangan sibuk membuka-buka buku menu yang ada di hadapannya sambil menyebutkan beberapa nama makanan yang ingin ia santap pada pelayan yang sudah berdiri di sampingnya.


"Kamu tidak menunggunya? Kenapa harus memesan sekarang?"


"Aku sudah lapar! Cepat pilih mana yang ingin kamu makan."


Wanita itu mengernyit tapi menurut untuk menyebutkan menu pilihannya. Sejurus kemudian pesanan pun datang dan mereka mulai makan dalam hening.


"Kamu tidak membohongiku, 'kan?" Andin menjadi curiga karena sampai pukul sembilan malam wanita yang akan dikenalkan padanya belum muncul batang hidungnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Andin. Reza memanggil pelayan untuk membersihkan meja mereka.


"Za, aku menunggumu jawabanmu!"


Sesaat kemudian meja tampak bersih. Salah satu pelayan yang lain menghampiri meja mereka dengan membawa bouquet bunga tulip merah—bunga kesukaan Andin— dan menyerahkannya pada Reza.


"Lihatlah kaca itu." Andin menurut ia pun melihat ke arah kaca di sampingnya. Terlihat jelas pantulan dirinya di sana. "Dialah wanita itu," lanjut Reza.


Andin kembali menatap Reza dengan kening berkerut. "Apa maksudmu?"


Reza meletakkannya kotak cincin di atas meja dengan kondisi terbuka menghadap Andin. Dengan wajah tegas ia mengungkapkan isi hatinya.


"Andin, aku sudah sangat mengenalmu dan hal itu membuatku yakin dengan hatiku. Mungkin aku bukan yang sempurna bagimu, tapi yakinlah akan ketulusanku." Reza menjeda ucapannya sejenak untuk mengatur kegugupannya. "Aku mencintaimu, Andinia Maura. Maukah kamu menjadi istriku?"


Andin terdiam dengan mulut terkatup rapat. Antara terkejut dan bingung menyatu dalam benaknya. Wanita itu sama sekali tak menyangka. Wanita yang dimaksud oleh Reza adalah dirinya. Reza yang ia anggap sebagai sahabatnya selama ini, ternyata memiliki perasaan padanya.


"Andin ...," panggil Reza lembut.


"Ah ya?"


"Bagaimana, apa kamu menerima lamaranku?"


Andin menatap cincin di hadapannya kemudian ganti menatap Reza yang menunggu jawabannya. Ia menyentuh kotak itu dan berkata,

__ADS_1


"Reza ...."


__ADS_2