Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Aku menjemputmu lagi


__ADS_3

"Mas Haris?. "


"Ran. Aku tidak bisa mencintai Yura, aku tidak bisa menganggapnya lebih dari seorang adik, aku hanya mau kamu. Aku kembali sekarang dan kamu tidak bisa lagi memaksaku untuk menyukai Yura!. "


Air mata membasahi pipi Rania. Zuhra yang membonceng nya hanya diam tidak tau masalah apa yang sedang terjadi.


"Aku mohon... " Haris terduduk dijalanan.


"Mas Haris bangun... " Rania turun dari motornya, ikut bersimpuh didepan Haris.


"Aku tidak bisa mencintai Yura, aku mau kita kembali.Aku mencintai kamu ." Air mata Haris jatuh, Rania merasa iba dan akhirnya mengangguki keinginan Haris.


"Aku pun sama. Berdirilah Mas, kita bicarakan ini dirumah. "


Mendengar begitu, Haris langsung berdiri. Meskipun harus dikatakan seperti anak kecil yang menangis dijalan tapi Haris sangat bahagia bisa menemukan Rania nya lagi.


"Kita kerumah ya?. " Senyum Rania yang meneduhkan, senyum Rania yang Haris rindukan.


Kemudian beriringan motor Rania, mobil Haris dan mobil Apri.


"Kita mau kemana?. " Tiara mulai memperhatikan Apri.


"Kita kerumah Rania. Kamu ikut dulu ya nanti setelah urusannya selesai baru aku antar kamu pulang. "


"Iya kak Apri. " Senyum Tiara mengembang, membuat playboy yang duduk disampingnya terbang tinggi.


"Kak, aku turun disini saja. Aku tidak enak kalau ikut kerumah kakak. " Pinta Zuhra.


"Ikut saja Zuhra, sekali -sekali kan. "


"Ya sudah kak, terimakasih ya kak. "


"Untuk apa?. "


"Untuk hari ini. "


"Iya Zuhra. "


"Rumah kakak masih jauh?. "


"Disini." Rania d


"Ya ampun aku kira jauh ternyata sudah sampai. "

__ADS_1


Zuhra dan Rania turun, begitu juga Haris, Apri dan Tiara langsung turun dari mobil mereka.


"Kak Apri itu siapa?. " Tanya Rania menunjuk kearah Tiara.


"Kenalin namanya Tiara. " Tiara mengulurkan tangannya, dan Rania membalas. Berkenalan juga dengan Zuhra.


"Ya sudah ayo masuk. " Rania membuka pintu, mempersilahkan mereka masuk.


"Zuhra, bantu aku mengambil minum ya?. "


"Ayo kak. "


"Kalian silahkan duduk dulu. " Rania langsung pergi ke dapurnya.


Mendengar keramaian, Devi keluar dari kamarnya. Raut bahagia terpancar diwajahnya saat melihat Haris.


"Kak Haris??. " Seru Devi seraya memeluk Haris.


"Cantik. Kak Haris kangen. Apa kabarmu sayang?. " Haris mencubit gemas pipi gembul Devi.


"Baik, kak Haris kenapa lama sekali tidak menemui kak Rania? . "


"Maaf ya sayang. Eh iya kamu nggak nyapa kak Apri?. " Pandangan Devi beralih menatap Apri dan Tiara yang duduk bersebelahan.


"Woah kak Apri sudah punya istri?. "


"Kamu ini bisa saja. Sini dek. " Devi mendekati Apri.


"Kakak cantik namanya siapa?. " Tiara tersenyum melihat wajah Devi yang lucu menggemaskan.


"Tiara, nama kamu Devi kan?. "


"Cantik sekali namanya, kak Tiara lagi flu ya kenapa hidungnya merah?. "


"Eemmm ini, eh Iya sayang kakak lagi flu. Hehe. "


"Mana kak Rania?. "


"Ada didapur. " Balas Apri.


"Devi senang ya banyak kakak disini. " Rania kembali membawa beberapa gelas es jeruk dan Zuhra membawa cemilan.


"Repot saja Rania. " Ujar Apri.

__ADS_1


"Tidak kok mas. Silahkan diminum. "


Rania duduk berhadapan dengan Haris, Zuhra duduk satu kursi dengan Devi.


"Mas Apri ini bisa banget ya nyari pacar secantik kak Tiara. " Puji Rania.


"Pacar?. Hahah jelas. " Apri melirik Tiara, dikira marah tapi Tiara malah tersenyum malu.


"Ran, Kamu kerja dimana sekarang?. " Sambil bercengkrama, Haris meneguk es jeruk di gelasnya.


"Aku membuka toko online. Dan Zuhra membantuku selama ini. " Tersenyum melirik Zuhra.


"Syukurlah, sekarang aku tidak mau lagi berpisah. Aku akan hidup disini bersamamu. "


"Mas, bagaimana dengan Yura?. Dia akan membenciku. "


"Aku lebih baik membuatnya pergi dari hidupku dari pada harus menikahinya. " Wajah Haris berubah datar. Merasa tidak suka dengan yang Rania bahas.


"Kalau begitu bicarakan baik-baik. Aku pun tidak mau kehilangan sahabat seperti Zuhra.


" Iya. Asalkan kamu tidak menyuruhku mencintainya lagi. "


Sore itu mereka semua bercengkrama hangat. Melupakan sakit hatinya Tiara dan Zuhra. Mereka mencoba menyembunyikan masalah masing-masing, menutupi kesedihan dengan canda tawa.


Sampai hal tidak terduga terjadi.


Diki yang tiba -tiba datang dengan penuh kemarahan, mengobrak abrik pot bunga dan kursi didepan teras rumah Rania.


Yang didalam langsung terusik dan keluar.


"Diki?!!!!. " Seru Rania, Tiara, dan Zuhra bersamaan.


Diki membulatkan matanya, sangat marah dengan Rania karena sudah membeberkan hal pribadinya.


"Hahaha para budak ku berkumpul disini ternyata. "


Haris dan Apri sudah sangat kesal tapi Rania memeluk lengan Haris dan Tiara memeluk lengan Apri.


"Lihat saja Tiara, hamil dengan dia tapi meminta pertanggung jawaban kepadaku. " Ucapnya lagi, seketika membuat Tiara menangis.


"Apa yang kamu katakan Hah?!. Laki-laki gak tau malu!. " Ucap Tiara meneriaki Diki.


"Zuhra, kamu lihat kan? aku hanya setia kepadamu, mereka berdua sudah berselingkuh makanya aku ingin mempertahankanmu. "

__ADS_1


Zuhra menatapnya benci. Devi mendekap Zuhra karena takut melihat keadaan Diki yang berantakan.


"Kak Diki. Hiduplah dengan baik, orang tua kak Diki pasti kecewa melihat anaknya hancur seperti ini. " Zuhra yang lugu dan masih ada rasa sayang dihatinya mencoba menenangkan Diki..


__ADS_2