Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Bertepuk sebelah tangan


__ADS_3

"Membosankan sekali!" bentak Haris pada Hanin. Pagi ini lagi-lagi mereka bertengkar, sejak menikah, hari-hari mereka di habiskan dengan pertengkaran.


"Aku tidak tau lagi harus bagaimana? Semua yang ku lakukan salah dimatamu!" Hanin duduk di tepi ranjang dengan deraian air mata.


"Bagus kalau kamu sadar. Maka sekarang bilang sama papa kamu kalau kamu sudah tidak bisa lagi hidup denganku!" Menatap Hanin sinis.


"Ris, kita bisa membuat rumah tangga ini bahagia. Aku sudah memberikan hati ini sepenuhnya tapi ka__"


"Hentikan! Jangan pernah menyalahkan aku atas sakit hatimu itu! Ini semua ulah papa mu sendiri." Haris memalingkan pandangan menatap luar jendela.


"Andai aku tau apa mau kamu, pasti aku lakukan Ris. Kamu ingin aku seperti apa?"


Berdecak. "Kamu pikir kamu lebih baik dari gadisku? Tidak!"


"Harusnya empat bulan kita menikah, tidur satu ranjang, makan satu meja. Harusnya aku sudah sangat mencintai kamu. Tapi aku bahkan tidak ada nafsu untuk menyentuhmu," balasnya lagi.


"Cukup!" teriak Hanin.


"Kamu itu sebenarnya gadis baik-baik, tapi aku membenci kelakuan papa mu yang selalu mengancam keluargaku."


"Hanin, mari kita usaikan saja pernikahan menyakitkan ini. Aku memohon baik-baik padamu." Haris menarik nafas panjang.


"Apa jika kita bercerai kamu masih mau mengenalku?" Hanin mengusap air matanya.


"Bisa. Bahkan aku akan sangat berterimakasih padamu, aku bisa sayang padamu seperti dulu sebagai adikku." Mereka mulai saling tatap.


"Kamu tidak akan membenciku kan?"


"Aku bahkan sangat membencimu setelah kamu jadi istriku."


"Ris, aku akan bilang ini ke papa."


"Benarkah?"

__ADS_1


Hanin tersenyum, matanya pun berbinar.


"Baik, setelah papamu setuju, aku akan urus surat perceraian kita." Haris mengelus pundak Hanin. Lalu berjalan keluar kamar.


Hanin hanya bisa melanjutkan tangisan nya. Menatap Haris yang sangat dicintai ingin meninggalkannya.


"Rania, aku akan menjemputmu. Sebentar lagi kita akan melanjutkan cinta mu yang sempat kutinggalkan.Maafkan aku Rania," batin Haris melebarkan senyumnya.


"Pagi pa ma," sapa haris pada mama papa yang sudah duduk di meja makan.


"Pagi Ris, mana Hanin?" tanya mamanya dengan senyuman, "Sepertinya Pagi ini Haris sedang bahagia, syukurlah jika mereka sudah mulai jatuh cinta " batinnya.


"Masih di atas," jawabnya singkat sambil mengambil nasi dan lauk di depannya, "Mari pa, ma makan dulu."


Tanpa menjawab, mama dan papa Haris menatap ke arah tangga, berharap Hanin segera keluar dari kamarnya. Dan benar, terlihat Hanin dengan penampilan anggunnya menuruni tangga, dan sudah menatap mereka dengan senyuman.


"Pagi papa, pagi ma..." sapa Hanin. Duduk di sebelah Haris.


"Pagi. Ayo langsung makan saja!" jawab papa mertuanya.


"Mau nambah Ris?" ujar Hanin mencari perhatian, melihat piring Haris yang hampir kosong menjadi kesempatan untuk nya.


"Enggak, makaasih" jawabnya dingin.


Hanin menunduk malu, papa dan mamanya hanya melirik lalu fokus ke makanan mereka lagi.


"Aku berangkat dulu pa." Haris terburu buru meminum air putih di gelasnya, langsung pergi begitu saja.


"Buru-buru banget Ris?"


Haris tidak menggubris pertanyaan mamanya. Dia keluar rumah, menaiki mobilnya kemudian melajukan mobilnya dengan kencang.


"Rania. Aku tidak sabar saja ingin segera membawamu hidup dengan ku," gumam-gumam bahagia Haris membayangkan wajah Rania.

__ADS_1


Harus pun menelepon Apri.


"Halo, Pri."


"Ya, kenapa Ris?"


"Temani aku ke rumah Rania, kita berangkat jam empat sore nanti, oke?"


"Tapi Ris mau nga__" tut -tut -tut! panggilan terputus.


"Mau apa lagi si dia," gerutu Apri.


Haris tampak melebarkan senyumnya, sudah terbayang di pikirannya bagaimana bahagianya Rania nanti saat melihatnya kembali menemui Rania lagi.


Haris melajukan mobilnya lebih kencang. Rasanya ingin segera menyelesaikan pekerjaan kantornya, ingin segera menemui Rania, dan ingin segera menyampaikan uneg-unegnya selama ini.


Haris sangat bahagia, sepanjang perjalanan ke kantor dirinya tersenyum senyum sendiri. Tentu memikirkan Rania.


Semoga saja Hanin melakukan tugasnya dengan baik.


Sedangkan di rumah, selesai sarapan, Hanin kembali ke kamarnya tanpa sepatah kata pamit untuk mertuanya .


"Kenapa dengan Hanin ya, pa? Tadi Haris tampak bahagia sedangkan Hanin murung begitu."


"Mungkin Hanin malu ma, Haris tadi bahagia begitu. Mama lupa gimana dulu pertama kali kita *******? Mama juga terus menunduk malu kan? Mungkin Haris mulai suka sama Hanin," pak Faisal tersenyum.


"Syukurlah kalau mulai saling suka. Tidak bertengkar mulu tiap hari ya pa. Ngomong-ngomong, mama malu tau papa ngingetin mama lagi hehehe."


"Ya sudah kita jangan terlalu ikut campur, takutnya mereka malu."


"Papa mau ke kantor kan?"


"Papa mau ke rumah pak Taufan hari ini. Dia mengundang papa untuk bertemu dengan investor dari Belanda."

__ADS_1


" Ya sudah, hati-hati ya pa. Semoga pak Taufan sikapnya membaik dengan papa karena Hanin betah tinggal disini."


Pak Faisal berangkat menuju rumah pak Taufan,. Kini mama Haris masuk ke kamarnya. Selama Hanin menjadi menantunya, belum pernah mereka mengobrol santai bahkan hanya saling duduk bersama. Jika tidak pergi shopping, Hanin lebih suka berdiam diri di kamarnya.


__ADS_2