
" Mba Rani.... hiks, hiks." Devi berlari menghampiri Rania yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
Apri mengikuti di belakangnya.
Mata Rania perlahan terbuka, dia masih merasakan sesak nafas.
"Devi, jangan nangis sayang," memaksakan senyum.
"Mba Rani ga papa?" Rania menggeleng pelan.
"Maaf Rani, tadi aku... aku tidak mau kehilangan kamu." Haris menyesali perbuatannya tadi.
"Mas Apri bisa tolong antarkan aku pulang?" ucap Rania lirih melirik Apri yang berdiri sejajar dengan Haris .
"Aku bilang dokter dulu ya, tunggu sebentar." Apri segera pergi menuju ruang bu dokter Erlin.
Mendengar kabar bahwa Rania sudah sadar dari pingsannya dokter Erlin langsung menghampiri rania di ruangannya.
Haris hanya berdiam dan menatap dalam wajah Rania, merasa jika sekarang Rania benar-benar benci padanya.
"Mba Rania sudah boleh pulang. Oh ya pak Haris, jangan ulangi lagi ya, saya tau kalian pengantin baru tapi jangan keterlaluan begitulah sampai membuat istri anda kehabisan nafas," celetuk dokter Erlin sebelum keluar dari ruangan itu, berlalu begitu saja dengan senyuman indahnya. Dia sendiri geli dengan ucapannya barusan. "Dasar pengantin baru!" batinnya lagi.
Rania, Haris dan Apri saling pandang.
"Apa maksud dokter tadi?" Rania kebingungan.
Apri mengangkat pundaknya tanda sama-sama tidak paham. Haris masih dengan wajah datar, takut berkomentar, takut Rania tambah membencinya.
"Ayo kita pulang dhe," Rania mencabut selang oksigen di hidungnya, segera menggandeng tangan Devi. Keluar dari ruangan itu tanpa ada kata-kata untuk Apri dan Haris.
Keduanya saling pandang, "Aku antar Rania, kamu tunggu di depan," Apri menahan tubuh Haris yang hampir mengejar Rania.
"Lepas aku mau susul Rania," menepis tangan Apri.
"Kamu ingin Rania semakin membencimu! Bahkan tadi dia enggan berbicara denganmu,"
Haris tertunduk, mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar. "Antar dia, aku akan urus biaya rumah sakit."
"Kamu harus Terima, cinta tak harus memiliki Ris." Apri menepuk pundak Haris. Haris tersenyum kecut lalu mengangguk .
__ADS_1
"Aku antar Rania." Apri membukakan pintu mobil. Rania dan Devi masuk, Rania benar-benar sedang marah pada Haris sampai tidak menanyakan dimana Haris sekarang.
"Kalian mau makan dulu?" ujar Apri memecah keheningan sore menjelang malam itu.
"Mau kak, Devi lapar." Devi menjawab dengan polosnya.
"Kita mampir sebentar ya."
Devi tersenyum menatap Rania. Rania juga membalasnya.
Tak berapa lama mereka makan di sebuah restoran kecil. Sekarang Apri melajukan mobilnya menuju rumah Rania
"Maaf apa aku boleh tanya sesuatu Ran?"
"Apa mas?"
"Kamu benar-benar akan menikah?"
"Iya. Harusnya malam ini aku istirahat, karena besok hari penting di hidupku. Pasti Mba liviana dan om tante sudah sampai di rumahku."
"Mereka datang sekarang?"
"Iya, harusnya kemarin tapi karena suami Mba Liviana gak bisa ambil libur jadi di tunda."
"Nggak papa. Aku harap setelah ini mas Haris sadar jika cinta tidak bisa di paksakan."
"Aku akan meyakinkannya. Kamu bahagia ya dengan suamimu nanti."
"Terimakasih mas, pasti. Mas Haris juga harus bahagiakan dengan istrinya?"
Apri melirik kaca spion di depannya, melihat senyum Rania yang sepertinya di paksakan itu.
"Maaf jika aku tidak datang besok, tapi aku usahakan. Semoga Haris tidak gila lagi."
"Baik mas."
Sampailah mereka di rumah Rania. Sudah terparkir dua mobil mewah di teras rumahnya.
"Itu pasti Mba Livia." Devi segera berlari masuk rumahnya.
__ADS_1
"Mas Apri mau mampir?"
"Enggak, aku harus menjemput Haris di rumah sakit. Maaf ya Rania."
"Ya sudah, hati-hati ya mas."
Rania memandang mobil yang melaju pelan itu hingga hampir tidak terlihat lagi lalu diapun masuk ke rumahnya.
Rania tersenyum lebar manakala melihat Livia, candra om Faris beserta istrinya. Mereka tampak bahagia sambil sesekali bercanda dengan Devi.
"Rani dari mana saja kamu? Kita sudah sampai dari tadi," ucap Livia
"Maaf barusan aku dari rumah sakit," tersenyum canggung.
"Siapa yang sakit? kamu?" tanya tantenya dengan wajah panik.
"Hanya pusing sedikit tante. Sebentar aku ambil minum dulu ya."
"Ikut," rengek Livia menggandeng lengan Rania.
"Mba capek kan, duduk saja biar aku yang buat minumannya."
"Aku pengen deket-deket sama calon pengantin," canda Livia.
"Ah Mba jangan begitu aku malu," wajah Rania merona.
"Iiii calon pengantin, cantik banget sii kamu!" gemas mencubit pipi tipis Rania.
"Mba gimana sama mas Candra? Apa sudah saling cinta?"
"Menurut kamu?" Candanya sambil menuangkan air panas.
"Emmm pasti sudah saling suka lah."
"Kok gitu?"
"Dulu aja suka nelfon lalu ngeluh, tapi sudah lama enggak tuh. Jadi aku pikir kalian sudah saling suka. hehe."
"Tau aja. Eh hati-hati lo Ran.." Livia memelotot kan mata horor.
__ADS_1
"Kenapa Mba?" Rania ikutan tegang.
"Malam pertama itu menyakitkan." Livia tergelak melihat ekspresi Rania..