Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Hari terakhir Hanin


__ADS_3

Dilantai teratas sebuah apartemen, seorang wanita cantik dengan perut besarnya tengah berjuang mempertahankan nyawanya juga bayi dalam kandungannya.


Tersiksa menahan sakit yang teramat sangat. Menangis, berteriak, memanggil nama seseorang namun tak ada yang peduli.


"Lepaskan aku!!!!!!. " Entah sudah berapa ratus kali dia berteriak seperti itu.


Lalu ketakutan menyelimuti dirinya kala terdengar langkah kaki mendekat menuju ruangan yang ia tinggali.


Perlahan pintu kamar terbuka, dengan wajah geram laki-laki tadi menatap wanita hamil dengan sinis nya.


"Tolong... perutku sangat sakit... " Rintihnya.


"Lalu aku harus apa?, harus membawamu kerumah sakit?. Hahahaha. " Gelakan laki-laki itu seraya mencengkram leher.


Mereka adalah Hanin dan laki-laki yang telah menghamilinya. Tidak disangka setelah Haris mempertemukan mereka, Hanindya menjadi wanita yang sangat buruk nasibnya. Selain telah dihamili, laki-laki itu juga telah menyiksanya selama 7 bulan ini.


"Rian, aku mohon tolong bayi ini. Sepertinya dia mau lahir, aku mohon. Hiks. "


"Apa aku harus percaya?, kamu bilang seperti itu dua bulan lalu tapi ternyata kamu mau kabur. Hanin Hanin... malang sekali ya nasib kamu. Dibuang oleh suamimu sendiri, kemudian hidup menderita seperti ini. Aku kasihan, tapi keluargamu yang merubahku menjadi monster kejam seperti ini. Kalau saja dulu mereka menerimaku, dan tidak merendahkanku mungkin aku akan punya sedikit hati untukmu. " Rian menciumi perut besar Hanin.


Hanin yang merasakan kesakitan itu terus menangis, tidak bisa apa-apa selain diam karena tangan dan kakinya terikat.


"Apa kamu lapar?. Hemmm???. " Hanin sendiri tidak tau apa yang dipikirkan Rian karena meskipun dia menyekapnya tapi masih perhatian namun juga tidak segan-segan memukul Hanin jika Hanin tidak patuh dengan kata-katanya.


Tanpa pikir panjang Hanin mengangguk, setelah semalaman Rian menyetubuhi nya hingga perutnya kontraksi karena kelelahan. Hanin merasa lapar, dan mungkin perutnya sakit kali ini karena bayi juga lapar.


Rian pergi tak lupa mengunci kamar itu, tidak berapa lama langsung kembali membawa dua kotak nasi.


Rian duduk bersilang didepan Hanin. Menyuapi nya, Hanin tetap menangis meskipun sudah diperhatikan seperti ini.


"Kenapa kamu terus menangis?. Apa aku jahat?. " Rian menunduk, memandangi Hanin.

__ADS_1


"Tidak, kamu baik.. hiks. "


"Bagus. Apa kalau aku melepaskanmu kamu tidak akan memaki aku lagi?. " Hanin menggeleng.


PLAK!!!


Rian menampar pipi kanan Hanin.


"Aku akan menjadi wanita baik dan tidak akan merendahkanmu lagi. Hiks. "


"Benarkah?. Aku akan melepaskanmu tapi kita akan tinggal jauh dari kota ini. Aku benar-benar tidak sudi bertemu dengan orang tuamu yang sombong dan angkuh itu. "


Hanin mengangguk...


"Benar kamu mau?. " Menyuapi lagi.


"Iya. "


Hanin mengangguk lagi.


"Baiklah. Kamu makan yang banyak, lalu aku akan memandikan kamu. Setelah itu aku pergi membeli gaun sekalian mencari penghulu. Dan ingat!!! Jangan coba-coba kabur. " Rian bicara lirih tapi bagi Hanin itu suatu tekanan.


Beberapa waktu kemudian, Hanin merasa sudah kenyang. Tali ikatan ditangannya dilepas oleh Rian lalu tali dikaki nya.


"Akh.. " Hanin memegangi perutnya saat Rian mengangkat tubuh lemah itu.


Dengan entengnya berjalan menuju kamar mandi.


"Duduk disini dulu, aku siapkan airnya. " Hanin hanya mengangguk, memandangi punggung kekar Rian.


Setelah mengisi battup sampai penuh, Rian melucuti pakaian Hanin satu persatu. Dia juga melepaskan baju dan celananya sendiri. Mandi berdua seperti hari- hari yang telah berlalu.

__ADS_1


Biasanya setelah memandikan Hanin, Rian akan menyetubuhi nya entah dia sedang mau atau dengan terpaksa. Lalu mengikat Hanin diatas ranjang kemudian meninggalkannya sendirian.


Tapi pagi itu Rian hanya memandikan Hanin, memakaikannya baju lalu menyuruhnya tidur tanpa ikatan ditangan atau kakinya. Setelahnya Rian keluar.


"Apa penderitaanku akan berakhir setelah ini?. Tadi Rian terlihat sedikit ramah, dia juga tidak menyiksaku seperti kemarin-kemarin. Terimakasih Tuhan.. " Senyum kecil muncul dari ujung bibirnya yang masih penuh luka.


Dengan sedikit ketenangan, Hanin mulai tertidur. Meringkuk memeluk bayi yang masih dalam kandungan.


Baru beberapa menit terlelap, Hanin terbangun lagi karena perutnya kontraksi. Sakit, ngilu dan pegal di sekujur tubuhnya. Hanin mencoba menenangkan dengan mengusap lembut perutnya tapi yang ada semakin sakit saja. Ditengah kebingungan Hanin mencoba berdiri tapi seketika perutnya kram, mengalir darah dari sela-sela selangkangannya.


Hanin menangis, hanya bisa berdoa semoga Rian segera kembali. Darah semakin banyak saja mengalir di kedua kakinya. Perlahan Hanin merasakan pusing dan pandangannya kabur. Saat itu juga Hanin tak sadarkan diri.


Diikuti seorang laki-laki dewasa ,dua laki-laki berbadan kekar dan seorang wanita,yang mungkin itu adalah penghulu dan perias .Rian membuka pintu kamar dimana Hanin berada. Betapa terkejutnya melihat Hanin sudah terkulai bersimbah darah diatas ranjangnya.


Semuanya panik, Rian langsung berlari menggendongnya turun dan membawa kerumah sakit terdekat.


Satu jam menunggu dengan dua pengawalnya. Dua jam berlalu. Rian duduk didepan ruang operasi dengan perasaan kalut. Mengutuki dirinya yang telah kejam menyiksa perempuan hamil selama berbulan bulan.


"Dokter gimana keadaan Hanin?. "Tanya Rian saat seorang dokter keluar dari kamar operasi.


" Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Ibu ini kehabisan banyak darah dan juga bayi didalam kandungannya sudah meninggal mungkin sudah dua minggu yang lalu. "


"APA????!!!!! . Tidak!! Hanin!!! . " Rian menangis histeris. Dia masuk dan melihat Hanin untuk terakhir kalinya. Wajah pucat yang tetap cantik dan bayi mungil yang sudah tak bernyawa diciuminya berkali kali.


Segera dia mengurus pemakaman Hanin dan juga bayinya.


Sejak hari itu hidup Rian tidak pernah tenang, selalu dihantui mendengar tangisan perempuan dan tangisan bayi.


Sampai orang tuanya membawanya kerumah sakit jiwa. Dan pada akhirnya kematian Hanin tidak diketahui oleh keluarganya, karena Rian gila sebelum sempat memberikan kabar kepada mereka.


___Maafkan author menuliskan cerita jahat seperti ini, tapi semoga saja hanya ada dalam halusinasi author dan tidak akan terjadi oleh siapapun 😭😭. Sudah lunas yah janji author kepada kalian yang menginginkan Hanin menerima karma. Selamat menunggu bab selanjutnya, tentang bersatunya Haris dan Rania ❤. Jangan lupa like, komen, terimakasih. ___

__ADS_1


__ADS_2