Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Berakhir


__ADS_3

"Kenapa kita kembali ke rumah ini mba? " dengan wajah polosnya Devi bertanya, Rania berusaha menyembunyikan kesedihan di balik senyum teduhnya. Sembari menatap kepergian mobil Diki dari halaman rumahnya.


"Karena kak Diki mau ke luar kota lagi sayang. Dan mba pengen bobo di sini sementara. " Bibir Rania berkedut karena harus berbohong.


"Kalau begitu kita harus bersihin rumah ini lagi ya mba, sudah lama kita tinggal. "


"Tentu, Devi mau kan bantuin mba? " Rania mengambil kunci rumah di slingbag nya, lalu mereka masuk.


Berputar putar semua kenangan yang pernah terjadi di rumah itu. Dari mulai pertemuan dengan Haris kemudian mengenal Diki hingga saat dia meninggalkan rumah itu. Air mata Rania mulai berlinang lagi, namun langsung saja memutar mutar bola matanya agar genangan air mata itu tidak jatuh.


Devi menaruh tas gendongnya, Rania juga menaruh koper yang di tariknya. Mereka masuk ke kamar yang dulu lalu mengganti sprei nya dan menyapu lantainya.


"Sudah dulu ya dek, yang lain kita beresin besok. Devi apa mba dulu nih yang ke kamar mandi?. "


"Devi dulu ya mba. "


"Oke, mba tunggu. "


Rania membungkuk menatap Devi dan mencubit gemas pipi Devi, " eh bibir mba kenapa? " Devi melihat luka yang hampir mengering di bibir Rania.


"E ini, tadi mba maem kan trus nggak sengaja ke gigit, hehe, udah gih Devi cuci tangan dulu. "

__ADS_1


"Kirain mba jatuh hehe. Ya udah bentar ya mba. "


Rania mendekati kaca besar di kamarnya, lalu menatap bibirnya yang luka, meraba nya, dan air mata jatuh membasahi pipinya.


"Apa dosaku hingga mendapat pengalaman hidup sepahit ini Tuhan? Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan?? " teriaknya dalam hati hingga semakin terasa perih dalam hatinya.


Di tengah renungan nya, ponsel Rania berdering, telfon dari Livia.


"Hai Hai sepupuku? apa kabar? Ran, lusa kemari ya ajak Devi dan Diki juga, aku mau ngadain syukuran empat bulanan debay. " seru Liviana heboh.


"Mba... " lirih Rania.


"Kamu nangis? kenapa Ran.? suara Livia langsung melunak begitu mendengar isakan Rania.


"Ya.... kenapa Diki?. "


"Diki menceraikan aku. Sekarang aku sudah di rumahku, Diki mengusir aku mba. " tangis Rania pecah kala menceritakan semuanya.


Candra yang sedari tadi tidur di sampingnya ikut menegang saat mengamati wajah istrinya yang panik hingga tidak berkedip.


"Bener2 tu anak ya. Dasar ********!!!! "

__ADS_1


"Eh marah2 kesiapa kamu? " Candra menimbrung. " Aduh. " kemudian mengaduh saat dapat pukulan kencang di dadanya.


"Sayang kenapa? kenapa? " tanya Candra tanpa suara, hanya gerakan mulut saja.


Livia malah memelototinya.


"Kasian banget, ya sudah besok kita jemput kamu ya. Aduh Rani, jangan nangis lagi. " Liviana hampir ikut menangis. Candra repot sendiri dengan mendekat kan telinganya di ponsel yang di pegang Livia.


"Ya sudah, jangan dipikirkan lagi cowok ****** kaya dia ya. Tenang ya Rania."


Liviana menaruh ponselnya sembarangan saat Rania mematikan panggilan. "Kenapa sayang? " Candra menanyakan dengan wajah cemas.


"Rania, ternyata Diki membohonginya . Abang tau Hanin istrinya Haris? " Livia menatap Candra dalam. " enggak. " jawab Candra dengan polos. "


"Ish." Liviana memukulkan bantal di wajah suaminya itu. " kenapa sih? "


"Gini. Haris itu dulu pacar Rania, mereka mau menikah, tapi Haris malah di jodohkan sama ortunya lalu Haris menikah dengan wanita pilihan orangtuanya itu namanya Hanin.Ternyata Haris nggak pernah mencintai Hanin hingga Hanin mengetahui kalo Haris masih mencintai Rania. Nah Hanin mencari tahu siapa Rania itu,dan kebetulan Rania pegawainya pak Arga,om si Hanin dan juga Diki.Hanin menyuruh Diki mendekati Rania, bermaksud ingin menjauhkan Rania dari Haris, hingga akhirnya mereka menikah.Tapi sayang usaha Hanin sia2,Haris terus saja mengejar Rania meskipun sudah menikah. Diki mau saja di suruh menikahi Rania, karena memang pacarnya Diki di luar negeri. Tapi besok pacar Diki itu kembali lagi ke tanah air. Jadi Diki menyudahi sandiwara nya, menurut Diki selama ini sudah puaslah untuk membalas sakit hati sepupunya si Hanin itu. Makanya sekarang menceraikan Rania. Dan barusan Rania menangis, kasihan bang... hiks. Rania sudah kembali ke rumahnya lagi, aku bermaksud membawa Rania dan Devi kemari, besok. Biar Rania bisa cepat melupakan sakit hatinya pada Diki. " Livi menarik nafas panjang lalu menghembuskannya,Candra mengangguk angguk saja mendengar penjelasan Livi, lalu memeluknya karena Livi menangis.


"Ya sudah besok kita jemput Rania ya. Jangan nangis lagi kasihan debay di sini. " Candra merengkuh tubuh Livi lalu mengelus lembut perutnya.


Liviana merasa beruntung karena meskipun di jodohkan tapi dia mendapatkan suami sebaik dan se soleh Candra.

__ADS_1


Rania dan Devi pun terlelap setelah membersihkan diri dan mengganti baju mereka. Rania memaksakan matanya untuk tidur agar berhenti memikirkan Diki..


Diki terimakasih luka nya...


__ADS_2