
Haris duduk dekat papanya, tanpa menatap Hanindya dan Pak Taufan di depannya.
"Mas Haris? Apa kabar?" Hanin mengulurkan tangannya pada Haris.
"Baik," jawabnya pelan.
"Baiklah. Seperti yang sudah kita bicarakan pada pertemuan sebelumnya, pertunangan Haris dan Hanin akan segera di lakukan," ucap Pak Taufan tegas.
"Sebelumnya saya minta maaf Pak. Saya mohon dengan sangat, maafkan saya. Karena Haris tidak menyetujui perjodohan ini." Pak Faisal berbicara dengan sangat hati-hati.
"Loh kenapa begitu? Pak Faisal sendiri yang bilang, kalo Haris itu sangat menyetujuinya." Pak Taufan langsung kesal.
Hanindya langsung menatap Haris, kesal.
Semua yang berada di ruang makan itu berwajah tegang.
"Pa. Haris akan menikah dengan Hanin," ucap Haris masih tertunduk.
"Ris, jangan paksakan hatimu." Mama Haris memeluk Haris dengan air mata yang hampir terjatuh.
"Bagaimana ini? Kalian ingin mempermainkan keluarga ku?" pak Taufan sangat marah hingga berdiri dari tempat duduknya.
"Pa tenang pa!" Bu Retno istri pak Taufan mencoba menenangkan suaminya.
"Pak, maafkan saya." Pak Faisal gemetaran.
"Ris, keputusan ada di tangan kamu," menatap Haris.
"Ya. Saya Haris. Akan menikahi Hanindya putri Tunggal dari Tuan Taufan dan Nyonya Retno." Haris berbicara tegas kali ini.
Hanin dan keluarganya tersenyum lebar, begitu juga dengan mama dan papa Haris. Haris pun ikut tersenyum, meskipun di paksakan.
"Baiklah, lusa kita lakukan pesta pertunangan nya." Pak Taufan kemudian duduk kembali.
Mereka menikmati makan malam tanpa ada yang berbicara.
__ADS_1
Makan malam pun usai.
Hanin, Pak Taufan dan juga istrinya berpamitan untuk pulang.
Sekarang tinggallah Haris dan orang tuanya, duduk di ruang tengah keluarga.
"Pa. Sekarang papa akan bahagia karena Haris sudah tidak membangkang lagi." Haris memulai pembicaraan meskipun agak canggung.
"Kemarin papa sudah membiarkan kamu hidup dengan jalanmu sendiri. Kenapa sekarang kamu menyalahkan papa?"
Tidak menjawab lagi.
Haris naik ke kamarnya di atas.
Papa dan mama Haris hanya menatapnya, menghembuskan nafas dengan keras.
"Pa. Sudahlah, kan persetujuan itu keluar dari mulut Haris sendiri."
"Tapi Haris masih menyalahkanku."
"Besok juga dia sudah baik. Biasanya Haris juga seperti itu. Suka marah-marah tapi keesokannya sudah lupa," Mengusap punggung pak Faisal pelan.
Pak Faisal berjalan menuju kamar Haris di atas.
"Ris, boleh papa masuk?" Tak ada jawaban.
Pak Faisal masuk saja karena pintunya tidak dikunci.
"Ris, kalo kamu terus nyalahin papa, kenapa kamu menyetujuinya tadi?"
Haris masih duduk menatap jendela kamarnya yang masih terbuka.
"Papa tadi sudah membatalkannya, kenapa kamu malah mengiyakan?"
"Ris, jawab!"
__ADS_1
"Ini kan yang papa mau? Dari kecil juga Haris sudah sangat patuh. Sebelumnya Haris menolak perjodohan ini tapi sekarang gadis yang Haris mulai cinta pergi. Haris masih salahkah dimata papa? Ya Haris selalu salah. Bahkan sudah menuruti kemauan papa saja Haris ini masih disalahkan!"
Pak faisal menunduk.
"Ya.Sekarang kamu benar-benar sudah dewasa. Sudah bisa membuat papa mu ini sadar. Papa yang salah, selama ini selalu menuntutmu," batin pak Faisal mengakui kesalahannya.
"Sudahlah pa. Hidup Haris ini milik papa. Aturlah semau papa!"
Haris langsung merebahkan tubuhnya, menutupi dengan selimutnya.
Pak Faisal sekarang bingung, melihat sikap anaknya yang sedang patah hati itu.
Pak Faisal keluar dari kamar Haris.
"Gimana pa?"
"Haris menyalahkan papa, ma."
"Ya sudah, setelah menikah nanti Haris pasti akan mencintai Hanin dengan sendirinya."
Pak Faisal hanya mengangguk.
"Mama mau istirahat sekarang?"
Pak Faisal mendorong kursi roda istrinya. Lalu mereka beristirahat.
*******************************
"AAARRGGGGHH"
Teriak Haris di kamarnya.
Mengacak rambutnya.
"Tidak untuk menyakiti Rania, dan tidak untuk mencintai Hanin. Kali ini untuk menahan papa agar selalu menjaga dan mencintai mama. Aku harus membuat papa berutang budi padaku!" gumam Haris sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
Malam sudah larut. Haris masih belum bisa tidur, masih memikirkan Rania yang sudah kembali ke rumahnya. Haris tau sehancur apa perasaan Rania saat ini. Tapi Rania melarang Haris menemuinya lagi jika tidak ingin meyakiti Rania lebih dalam.
Dengan kata-kata Rania itu, sudah cukup untuk jadi alasan Haris lebih baik menjauhinya..