Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Sayangi dia


__ADS_3

Semalam suntuk Rania tidak bisa tidur, duduk ditepi ranjangnya menatap langit malam dari balik jendela kamar. Hawa dingin menyeruak menembus sampai ke tulang.


Rambutnya sudah mengering namun sangat berantakan karena tidak ia sisir. Matanya sembab, hidung mungilnya masih memerah.


Hingga jam dinding menunjukkan pukul 03.30 pagi, Rania sudah tak tahan lagi ingin segera meluapkan segala keluh kesahnya kepada Haris. Di ambilnya ponsel dari lacinya, mencari nomor kontak Haris.


Rania menarik nafas panjang sebelum akhirnya memencet tombol panggil dinomor Haris.


Tuuutttt...


Belum ada jawaban..


Tuuuutttt....


"Ehem. Halo?. "


"Mas Haris. Maaf mengganggu, aku... aku... emm ada yang ingin aku sampaikan. "


"Tidak bisa ya bicara nanti waktu di kantor?. Mengganggu saja. " Rania kebingungan, Haris mengigau? atau sudah bangun tapi tidak melihat siapa yang menelfon.


"Mas Haris... aku Rania... "


"Eh HAH Rania?!!!. " Yang diujung telefon sana langsung terperanjat dan segera memeriksa layar ponselnya.


"Mas?. "


"Rania?, maaf tadi aku kira sekretaris ku. " Masih dengan rasa kantuknya, Haris mencoba mengumpulkan seluruh nyawa yang tengah main entah kemana.


"Aku tidak bisa tidur malam ini mas. "


"E apa? , kenapa?. "


"Aku tidak bisa tidur, karena terus terbayang ucapan Yura. "


"Memangnya kenapa dia?. "

__ADS_1


"Kemarin malam, dia bilang kalau dia mulai menyayangimu. Dan tadi sore, dia menyuruhku untuk bilang sama kamu kalau dia cinta sama kamu. "


"Oooh...hoaaammm...APA????!!!. " Haris membulatkan matanya. Terkejut dengan apa yang Rania katakan.


"Jadi.... Yura mulai menyukaimu sebagai lelaki dewasa yang tampan dan baik, bukan sebagai sosok seorang kakak. " Rania melanjutkan.


"Intinya saja Rania... " Haris menipiskan bibirnya.


"Mas, jangan pura-pura bodoh begitu. Mulai sekarang sayangi Yura sebagai gadis yang kamu cintai. "


"Kamu mimpi ya?. "


"Aku serius. Yura mencintai kamu, tapi dia tidak tau harus bagaimana mengungkapkannya terlebih dahulu kepadamu. Jadi aku yang menyampaikan, kamu paham sekarang?. "


Haris menahan nafasnya, berfikir. Bagaimana Rania bisa dengan enteng menyuruhnya agar mencintai Yura. Apa tidak ada hati lagi untuk Haris? . Apa Rania tidak ingin memulai kisah cinta mereka kembali?.


"Mas." Lamunan Haris buyar.


"Maaf aku tidak bisa. Yura itu adik ku. Aku menyayanginya dari dulu sebagai adik, tidak lebih. "


"Lalu demi persahabatan kalian aku harus mengorbankan hatiku?. " Mulai muncul emosi dari Haris.


Rania yang memang sudah sedih, tambah hancur saja hatinya. Cinta atau sahabat.


"Bukan begitu. Mas, kamu sudah dewasa, aku yakin kamu paham dengan keadaan ini. "


"Rania, dengar.....sebenarnya aku tidak mau lagi membahas masa lalu tapi... aku hampir gila karena kamu menikah dengan laki-laki lain. Dan sekarang setelah kamu sudah sendiri lagi, kamu pikir aku akan melepaskanmu lagi????. "


"Mas cukup!!!. Aku mohon, berilah kesempatan untuk Yura. Coba saja dulu. Kalau kamu benar-benar tidak bisa, kamu bisa bicarakan baik-baik dengannya. Paling tidak, dia bisa merasakan balasan cinta darimu meskipun sebentar. "


"Tidak. Yura adik ku dan aku tidak mau mencintainya. " Ucap Haris kekeh.


Terdengar Rania terisak, Haris menajamkan pendengarannya. Benar, Rania menangis.


"Rania, aku sudah cukup tersiksa selama ini, jangan siksa aku lebih lama lagi karena harus meninggalkanmu. "

__ADS_1


"Tapi Yura butuh kamu. Hiks. "


"Aku ada untuk Yura sebagai seorang kakak. Jangan khawatirkan itu, kamu sadar? Kalau aku jadian sama Yura kemudian kita bertengkar, pasti akan ada perpisahan. Beda kalau aku atau Yura marahan sebagai kakak beradik, pasti beberapa jam kemudian sudah baikan lagi, sudah akrab lagi, dengan mudahnya lupa. "


Tangisan Rania semakin menjadi, takut Devi terbangun, Rania berjalan kearah balkon kamarnya. Meskipun dingin menusuk-nusuk kulit, Rania masih ingin membujuk Haris.


"Mas, tapi bagaimana dengan persahabatan aku dan Yura? , pasti dia akan kesal padaku karena tidak bisa membujukmu. "


"Selama dia tidak tau kita pernah punya hubungan, persahabatan kalian akan baik-baik saja. Percayalah. "


"Tapi....... ttuuuutttt... "


"Halo? Rania? kok putus?. " Haris mencoba menghubungi Rania lagi tapi tidak bisa.


"Yah batrei nya habis. " Rania mendesah kesal, belum juga selesai urusan, sudah mati saja HP nya itu.


Dengan langkah kaki lunglai, Rania kembali masuk kamar. Merebahkan tubuh disamping Devi. Ingin rasanya tidur tapi malam sudah mulai berganti, dengan tatapan mata yang redup, Rania berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan diri kemudian menunaikan sholat.


Hingga sang mentari mulai nampak, Rania membangunkan Devi kemudian membuatkan sarapan untuk Devi, sekalian untuk om dan tante mumpung dia ada waktu.


Pagi-pagi sekali nasi goreng istimewa sudah siap, tante yang baru keluar dari kamarnya terus duduk di kursi ruang makan. Kemudian om menyusul, Devi juga turun dari kamarnya. Semuanya sudah berkumpul, sarapan pun dimulai.


Sesudahnya, Devi dan Rania berangkat. Om dan Tante sepertinya berangkat agak nanti.


"Pa, tadi lihat nggak mata Rania sembab gitu?. "


"Lihat ma, paling juga masalah anak muda. "


"Papa kok santai banget. "


"Nggak papa ma, Rania itu gadis yang kuat. Tidak akan tumbang begitu saja apalagi hanya masalah laki-laki. "


Setelah siap, om berangkat ke kantor dan tante akan pergi kerumah Liliana hari ini..


___jangan lupa like, komen, vote 😊😊___

__ADS_1


__ADS_2