Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Masih tentang perasaan


__ADS_3

"Ran, sudah membaik?" tanya Haris duduk di samping Rania.


"Sudah mas, maaf membuat mas Haris kerepotan."


"Enggak, kamu mau buah? Tadi aku membelinya di supermarket.


Haris mengeluarkan kotak berisi irisan beraneka buah. Devi mendekat lalu tersenyum senyum.


" Devi mau?" Haris menyodorkan kotak buah pada Devi.


Devi mengambil irisan buah pear, langsung melahap nya.


"Ehemmm manis, mau lagi boleh?" Devi terlihat menggemaskan sekali.


"Boleh, ambil sayang!" ucap Haris.


"Ran, buka mulutmu!"


Haris menyuapi Rania, ada rasa senang bercampur malu.


"Devi juga mau di suapin kakak." Devi membuka mulutnya lebar2.


"Iya niii..Hap.. hehe" Haris tertawa lepas.


"Mimpi apa aku bisa dapat kesempatan merasakan kebahagiaan seperti ini, dengan lelaki yang menyatakan cintanya padaku secepat ini, di hari ke-5 perkenalan kita." Rania tersenyum senyum memandang wajah Haris.


Mata mereka bertemu saling tatap, terlihat kebahagiaan di mata Rania. sedangkan Haris,


"Seberapa banyak dosa yang akan aku tanggung, karena telah berniat mempermainkan seorang gadis sebaik dia? Rania, maafkan aku... Aku pun berharap segera bisa mencintaimu dengan hati," Haris membatin.


Matahari mulai tenggelam, Haris mengajak Rania ke dapur untuk menghangatkan makanan yang dibelinya tadi.


"Kamu bisa ke dapur gak? Kalo gak bisa biar Devi yang mengantarku menghangatkan masakan ini."


"Bisa mas, sini biar aku yang panasin."


Haris memberikan bingkisan plastik pada Rania. Sampainya di dapur, dibukanya kantong plastik itu.


"Mas kenapa kamu beli makanan sebanyak ini?"


"Kan aku juga mau makan juga disini, emang gak boleh?"


"Boleh dong, tapi ini sangat banyak."

__ADS_1


"Ga papa, bisa buat sarapan Devi besok juga kan?"


"Terima kasih ya mas" Rania tersenyum.


"Sudah 48 kali kamu ngucapin terimakasih kepadaku hari ini." Haris tertawa.


"Bahkan mas sudah memberiku 100 kali kebaikan di hari ini." Rania mulai tertawa kecil.


Haris tersenyum lebar, sambil membantu mengambilkan piring dan menaruhnya di meja makan.


"Aku sangat berharap, kamu akan tetap bahagia seperti ini nantinya, selamanya," batin Haris menatap Rania.


Semua lauk pauk dan sayuran yang di beli Haris sudah selesai di panaskan, sudah tertata di meja.


"Devi sini, ayo makan dulu," Haris memanggil Devi yang masih berada di kamar.


Saat membalikkan badan hendak memanggil Devi lagi karena Devi tidak menjawab, Haris terkejut sampai hampir menginjak Devi karena sudah berada di belakangnya, mau mengagetkan Haris mungkin hehe.


"Sayang, kamu hampir saja..." Haris mencubit pipi bakpao Devi.


"Hehe kakak kaget ya?"


"Iyalah, hampir saja kamu keinjek kan?" Mereka tertawa lepas.


Cukup lama...


"Ini untuk kak Haris... Ini untuk Devi... " ucap Rania menyodorkan piring yang sudah berisi nasi.


"Terimakasih... " ucap Devi dan Haris bersamaan.


Makan malam mereka terasa sangat nikmat, sesekali Haris dan Rania saling pandang tapi tidak berkata apa-apa.


Makan malam selesai...


Mereka melanjutkan obrolan di ruang tamu...


Karena malam sudah larut, Haris berpamitan pulang.


"Aku pulang ya Rania, udah malam banget ini." Haris berdiri berhadapan dengan Rania.


"Iyaaa, terimakasih ya mas.. "


"Terimakasih lagi?" Haris tersenyum.

__ADS_1


"Cantik, kakak pulang dulu, jagain kakak kamu ya?"


"Iya, kapan kakak menikahi Mba Rania? Devi pengen melihat Mba lebih bahagia lagi," ucap Devi dengan raut wajah yang sangat lucu.


"Kakak nunggu Mba Rani siap, udah kak Haris pergi dulu ya..." mengelus rambut Devi.


Devi dan Rania mengantar Haris hingga teras rumah. Haris melajukan mobilnya perlahan..


"Terimakasih untuk hari ini mas..." batin Rania lagi.


"Dhe masuk yuk, kamu mau belajar lagi kan?"


"Iya Mba, Devi belajar, Mba minum obat dulu ya. " ucap Devi seperti sudah dewasa saja.


"Iya sayang..."


Devi pun masuk ke kamarnya. Rania pergi ke dapur untuk mengambil minum. Lalu duduk di kursi dan meminum obatnya.


Rania kembali ke kamar, lalu duduk di tepi tempat tidur, mengambil ponselnya dan memainkannya.


Tak berapa lama kemudian,lampu ponselnya berkedip tanda pesan masuk.


"Istirahatlah , jangan lupa minum obatmu!" Haris lupa mengatakan itu tadi saat masih di rumah Rania.


"Iya, terimakasih mas.. mas sudah sampai?" Rania mengetikkan pesannya sambil tersenyum


"Sudah baru saja, udah tidur gih, jangan begadang."


" Iya Iya Pak dokter." Balas Rania sambil cekikikan sendiri.


"Pak dokter?" Rania tak membalas pesan Haris lagi.


Ditaruh ponselnya di tempat semula.


"Devi belum ngantuk?"


"Sebentar lagi ya Mba, Mba sudah ngantuk?"


"Mba tiduran dulu ya?"


"Iya Mba, Devi mau nyelesaiin Ini dulu."


Tak butuh waktu lama Rania langsung terlelap, pengaruh obat mungkin hingga dia bisa secepat itu tidurnya.

__ADS_1


Devi selesai belajar, merapikan buku-bukunya lagi lalu ikut tidur di samping Rania, memeluk kakak kesayangannya itu.


Devi juga langsung tertidur..


__ADS_2