Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Pesta telah usai


__ADS_3

Sore menjelang malam, rumah Haris kini sepi kembali. Pesta mewah tadi siang telah usai, tinggal Haris Hanin dan mama papanya yang sekarang duduk di mengelilingi meja makan untuk makan malam.


Hidangannya sudah siap, mereka masih terdiam satu sama lain.


"Sekarang kalian sudah terikat pernikahan, lakukan kewajiban kalian sebagai suami istri," ucap pak Faisal memecah keheningan.


"Baik pa," balas hanin tersenyum menatap Haris.


"Sekarang makanlah lalu istirahat, hari ini sungguh melelahkan," sahut mamanya


Haris hanya diam, hingga Hanin mengambilkan nasi dan lauk di piringnya. Hanin menatap Haris dan tersenyum berharap Haris berterimakasih padanya lalu mengucapkan kata-kata cinta. Tapi sepertinya Hanin hanya bisa berharap saja.


Tanpa ada kata-kata Haris memakannya, memang lapar setelah seharian tidak makan.


Haris dengan cepatnya menghabiskan makanan itu, Hanin pun tidak mau kalah. Mama dan papanya hanya memperhatikan mereka berdua yang seperti sedang lomba makan saja.


Haris meneguk minuman di gelasnya lalu beranjak menuju kamarnya, Hanin langsung mengikuti.


"Saya ke kamar dulu ya ma, pa?" pamit Hanin seraya menunduk pada mertuanya.


"Istirahatlah Han." Ibu mertuanya itu tersenyum.


Hanin berlari kecil mengejar Haris yang sudah sampai di ujung anak tangga.


Sesampainya di kamar, Haris terus merebahkan tubuhnya di ranjang, Hanin masuk kamar mandi dan sebentar keluar lagi sudah memakai piyama seksinya.


Hanin mendekatkan tubuhnya di samping Haris, memeluknya. Haris tidak menolak ataupun membalas pelukan Hanin. Dia sudah memejamkan matanya.


"Haris, ini kan malam pertama kita?" Hanin berbicara lirih sambil meraba dada Haris.


Tak ada jawaban.


"Haris, apa kamu benar-benar tidur?"

__ADS_1


Haris masih terdiam.


"Ris, bukankah setiap pengantin baru melakukan .... " ucap Hanin sangat menggoda.


"Sudahlah Han, kamu kan tau aku menikahimu karena orang tua kita. Aku lelah, jangan ganggu istirahatku."


Haris memotong perkataan Hanin lalu menepiskan tangannya. Tidur membelakangi Hanin.


"Kamu jangan berdusta. Lelaki mana yang tahan melihat kemolekan tubuhku ini, kamu beruntung bisa menikahiku!" Wajah Hanin memerah, matanya pun berlinang tak percaya Haris akan menolaknya seperti itu.


Haris tidak menanggapinya, Hanin pun memeluk erat Haris dari belakang.


Hingga hampir tengah malam Hanin masih terjaga, masih menginginkan Haris akan membalikkan badannya dan membalas pelukan Hanin.


Akhirnya Hanin terisak, sedih.


Haris sebenarnya belum tidur tapi pura-pura saja biar Hanin tidak minta aneh-aneh padanya.


"Jangan menangis, salahmu sendiri mau masuk ke hatiku yang sudah terisi ini!" seru Haris.


"Hanin, dengar aku ... Di hatiku ini sudah ada seseorang yang istimewa, sudah aku jelaskan di awal." Kali ini ia menatap Hanin dan mengelus pipinya. "Berusahalah membuatku jatuh cinta padamu. Aku akan memperlakukanmu dengan baik di rumah ini jadi jangan berharap lebih, aku lebih suka menganggapmu sebagai adik," lanjutnya.


"Apa suatu saat kamu bisa mencintaiku?" ucap Hanin dengan mata yang berbinar.


Haris membalikkan tubuhnya lagi. "Jangan ganggu istirahatku," ucapnya lirih.


Hanin kembali memeluk Haris, sekarang mereka tertidur. Hanin bukan tipe pendendam, dia baik hati tapi sangat manja dan suka menghamburkan uang orang tuanya.


Hanin tidak bisa tidur lelap seperti Haris karena pikirannya terus bekerja. Berputar -putar di otaknya apa yang di katakan Haris.


"Tapi kita sudah menikah, bagaimana bisa kamu masih menganggapku adik? Dan siapa perempuan yang kamu cintai? Apakah lebih cantik dariku? Lebih kaya dari orang tuaku?" pertanyaan itu berkecamuk di pikirannya.


Hingga sang fajar menampakkan sinarnya, terasa hangat masuk menembus jendela kamar Haris. Haris yang wajahnya menghadap tepat ke jendela merasa silau, lalu mengedipkan matanya.

__ADS_1


Matanya terbuka, melihat tangan kecil mulus memeluk perutnya, Haris mengangkat pelan tangan itu lalu dirinya bangun.


Hanin tidak merasa, masih saja tidur. Haris masuk ke kamar mandi, menyalakan air kran lalu mengguyur tubuhnya.


Segarnya ... gumam Haris.


Hanin terbangun saat mendengar air yang mengalir. Haris keluar kamar mandi dan mendapati Hanin sedang duduk di tepian ranjang.


"Kamu kerja hari ini?" tanya Hanin pelan dengan mata nya yang sembab.


"Iya." Haris tidak menoleh.


"Hari ini aku akan ke rumah mama, boleh?"


"Tentu. Kamu bebas melakukan apapun." Haris masih sibuk dengan memilah baju di lemarinya.


Hanin berjalan mendekati Haris.


Menatap wajah tampan dan segar yang habis mandi itu, "Ris, aku tidak akan mengadu pada papa tentang sikap kamu ke aku. Jadi kamu tidak perlu membenciku."


"Bagus." Haris menatap Hanin, "Aku juga tidak membencimu," lanjutnya.


"Berarti aku bisa mendapatkan cintamu suatu saat nanti?"


"Berusahalah!" ia tetap dengan wajah datarnya.


Hanin tersenyum mendengar kata-kata Haris itu. Haris menghadap lagi ke cermin lalu memasang dasi di kerah bajunya.


Hanin mendekat bermaksud ingin membantunya, Haris tidak tinggal diam. Dia menahan tangan Hanin, menatapnya tajam "Jangan pernah sentuh aku lagi!"


Hanin berangsur mundur, lagi-lagi matanya berlinang.


"Jangan menangis lagi, aku tidak mau orang lain melihat matamu yang sembab, apa kata mereka nanti? Aku menyiksamu semalaman? Tetaplah jadi Hanin yang manja di luar nanti. Ya?" kata Haris, lalu ia keluar dari kamarnya meninggalkan Hanin yang berlinang air mata karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


__ADS_2