
Rania membaringkan tubuhnya, memeluk Devi yang terlelap, sama lelahnya dengan yang Rania rasakan.
Rania menatap langit-langit dinding kamarnya. Perlahan ia memasuki ruang mimpinya.
Belum ada dua jam Rania terlelap, tiba-tiba dia terbangun. Sangat pusing, tubuhnya juga bergetar.
Rania memaksakan diri bangun untuk mengambil obatnya yang ia taruh di meja ruang tengah.
Berjalan dengan sangat pelan, kepalanya terasa berputar putar. Akhirnya Rania berhasil meraih obatnya.
Diminumnya obat itu.
Rania kembali ke kamarnya.
Tak berapa lama setelah minum obat, kini Rania merasakan kalo perutnya panas.
Rania memegangi perutnya dengan kuat, tersadar kalo sejak siang tadi dia hanya minum jus saja.
"Aaaaaaa kenapa sakit sekali..." Rania merintih menahan sakit perut dan rasa pusing di kepalanya.
Mendengar Rania, Devi terbangun, dengan mata yang masih sayup-sayup Devi memeluk Rania yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
"Mba..." ucap Devi serak.
"Bobo aja sayang,ini masih malam" Rania mengelus kepala Rania.
"Mba mau ngapain?"
"Mba tadi habis dari kamar mandi."
"Udah sini Mba peluk lagi ya."
Rania memeluk Devi.
Devi merasakan tubuh Rania yang panas.
"Mba sakit?" Devi memandangi wajah Rania.
"Enggak dhe, Mba baik-baik saja nih." Rania mencoba tersenyum meskipun terpaksa.
"Badan Mba panas."
"Iya habis udaranya panas banget dhe, makanya tadi Mba bangun."
"Udah kita bobo lagi ya."
Mereka terlelap lagi.
Pagi sudah menampakkan sinarnya.
__ADS_1
Devi bangun, melihat kakaknya masih ada di sampingnya.
"Mba, bangun..." Devi menggoyangkan tubuh Rania.
"Aaah... sudah siang ya? Maaf ya dhe Mba kesiangan bangunnya." Rania mencoba bangun dengan kepala yang terasa berat.
"Masih jam stengah enam kok Mba," Devi meraba tangan kakaknya.
Terasa panas sekali.
"Mba sakit ya?"
"Nggak, Mba gak akan pernah sakit. Mba gak mau lihat Devi sedih," jawab Rania tersenyum masam.
"Sana Devi mandi dulu. Mba mau bikin sarapan ya?" Rania bersusah payah untuk bangun. Sejak meninggalnya orang tuanya, rasanya baru kali ini Rania sakit.
Devi pergi ke kamar mandi.
Rania menuju dapur. Membuka kulkasnya. Mengambil sebungkus nugget lalu menggorengnya.
Meskipun sangat sakit, tapi Rania menahannya sebisa mungkin, tak mau Devi khawatir.
Rania menaruh nugget yang digorengnya ke meja, badan Rania sangat lemas. Dia pun terduduk di kursi dan menyandarkan kepalanya di meja.
Devi yang sudah rapi dengan seragamnya pun berlari saat melihat kakaknya tergeletak lemas di kursi.
"Mbaa..." mata Devi berkaca kaca.
"Mba sakit'kan?"
"Mba cuma pusing, nanti minum obat juga langsung sembuh," ucap Rania masih tetap tersenyum.
"Devi mau jagain Mba saja di rumah ya.. "
"Mba nanti malah sedih kalo Devi gak sekolah terus Devi gak punya cita-cita, Mba pasti akan sangat sedih."
"Tapi Mba nggak papa?" Devi sangat khawatir.
"Nggak papa dong, justru Devi yang rugi jika tidak masuk sekolah."
"Yuk kita sarapan dulu." Rania mengambilkan nasi dan nugget untuk Devi dan untuknya sendiri.
Selesai sarapan Devi berpamitan lalu berangkat ke sekolahnya.
"Hati-hati ya dhe?"
"Mba juga istirahat saja ya biar cepet sembuh." Devi mencium punggung tangan Rania lalu berjalan meninggalkan rumah.
Rania mengambil obat lalu meminumnya. Mau beres-beres sisa sarapannya ini rasanya tak kuat lagi. Kepalanya sangat pusing.
__ADS_1
Rania masuk ke kamar, membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
saat setengah terlelap, Rania seperti mendengar bunyi mesin mobil di dekat rumahnya.
Terdengar pintu diketuk.
Rania ingin bangun tapi dia tidak bisa.
Ponselnya berdering, Rania mengambilnya..
"Ya mas Haris?" ucap Rania lirih.
[Kamu gak di rumah?]
"Di rumah. Kenapa mas?"
[Cepat keluar, aku ada di depan rumahmu]
"Aku tidak bisa, kepalaku sakit sekali mas." Rania bicara dengan sangat pelan.
Haris langsung masuk saja karena pintu memang tidak di kunci.
"Rania."
Haris dan Apri merasa panik, memanggil manggil Rania.
"Aku di sini." samar-samar terdengar suara Rania disuatu ruangan.
"Rania. Kamu nggak papa?" Haris langsung memegangi pipi tangan dan mengelus rambut Rania. Terasa sangat panas.
Wajah Rania sudah pucat, dan pucuk matanya agak basah.
"Ayo kita bawa Rania ke rumah sakit!" Haris menoleh ke Apri.
"Aku nggakbpapa mas. Aku sudah minum obat, bentar lagi pasti panasnya reda." Rania menggenggam lengan Haris.
Apri sudah keluar hendak menyiapkan mobilnya.
"Nggak papa gimana jelas-jelas keadaan kamu seperti ini." Haris benar-benar panik.
"Aku gak mau mas," mata Rania berbinar.
"Enggak kam harus diperiksa dokter."
Haris membopong tubuh mungil Rania. Membawanya keluar, Apri yang sudah ada di dekat mobil langsung membuka pintu mobil. Haris duduk di belakang menemani Rania. Apri yang mengemudikan mobil.
"Cepat Pri!" Haris terlihat khawatir.
Apri mengangguk dan mempercepat laju mobilnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, sampailah mereka disebuah rumah sakit.
Haris membuka pintu mobil, membopong Rania lalu berlari mencari pertolongan..