Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Apa kabar Livi?


__ADS_3

"Mba Devi berangkat dulu ya?" ucap Devi dengan cerianya setelah menghabiskan sarapannya.


"Iya.Hati-hati ya dhe," mengulurkan punggung tangannya.


Devi berlari kecil, menutup pintu rumahnya.


"Rania. Bekerjalah!" menyemangati dirinya sendiri.


Rania sudah beranjak dari tempat duduknya. Lalu ponselnya berdering.


"Halo mba Livi. Ada apa?"


"Ran gimana pertemuan kamu dengan orang tua Haris? Menyenangkan? kapan kalian akan menikah? Duh gak sabaran nih pengen lihat kalian jadi suami istri. Kalian cocok banget," suara Livi yang sengaja ia keraskan saking keponya dengan hubungan Haris dan Rania.


DEG!!!


Raut muka Rania berubah, teringat lagi kejadian kemarin.


"Ran kalo punya kebahagiaan tuh harus bagi-bagi dong. Gak asyik ih kamu!" Livi masih semangat sekali.


"Mba, aku buru-buru nih mau kerja. Nanti sore aku telfon balik. Oke?" Mematikan telfon itu tanpa menunggu jawaban Livi lagi.


"Apaan sih Rania ini. Aha telfon Apri," gumamnya sambil mengusap usap ponselnya mencari kontak Apri.


Memanggilnya, menunggu jawaban.


"Halo Liv, ada apa?"


"Pri kamu gak sibuk'kan?"


"Ya.Ada apa?"


"Gimana Haris dan Rania kemarin? Kapan mereka akan menikah?" bertanya dengan semangatnya.


"Mereka gak jadi nikah."


"What? kenapa?" mata Livi sudah melotot.


"Kemarin gini, Om Faisal me..."


Belum sempat Apri memulai ceritanya. Tiba-tiba ponselnya mati. Low bat!


"Ahhh mati lagi!" gumam Apri.


"Halo? halo Pri? Apri?" melihat layar ponselnya.

__ADS_1


"Apriiiiiii kenapa dimatiin? Aaaaa kenapa Rania dan Haris gak jadi nikah?" Livi teriak-teriak sendiri di kamarnya.


Mencoba menelfon Apri lagi tapi gak bisa terus.


"Huuufttt!" merebahkan tubuh di tempat tidurnya.


"Aaaaa kenapa si mereka. Gara-gara papa ni aku jadi gak update soal Rania dan Haris!" mendesah kesal.


"Telfon Haris!Aaaaa dia apa lagi. Pasti bakal marah-marah deh," akhirnya mengurungkan niatnya.


"Tunggu nanti sore. Sabar Livi sabar," mengusap dadanya pelan.


Lalu keluar kamarnya, menyapa mama papa yang sudah duduk di meja makan.


"Pagi ma, pagi pa?" sapanya.


"Pagi Liv?" hanya mama Livi yang menjawab.


"Kamu ngapain tadi teriak-teriak di atas?" tanya papanya.


"Ehehe tadi nelfon temen tapi gak diangkat. Jadi kesel deh," jawabnya mengada ada.


Mengambil nasi dan lauk lalu makan.


"Habisin dulu sarapanmu. Cewek kok makannya begitu!" sewot pak Faris.


"Hehe...glek!" menelan makanannya. Minum lalu salim dengan mama dan papa nya.


"Lain kali yang sopan. Kalo suamimu ustadz, dia akan menceramahi kamu dengan dalil-dalil yang akan membuatmu pusing," ucap pak Faris sembari tergelak menatap Livi.


Livi memonyong kan bibirnya, lalu keluar rumah, menaiki mobilnya menuju kampus.


"Apaan sih papa, selalu saja ustadz ustadz ustadz!" masih kesal saja.


Tring, bunyi ponsel Livi.


"Halo?" jawabnya sebal.


"Kok kayaknya kesal gitu?"


"Habis kamu. Matiin telfon sembarangan aja!"


"Hehe maaf deh. Lanjutin ceritanya gak nih?" rayu Apri.


"Boleh." Livi mulai memelenkan suaranya dan tersenyum.

__ADS_1


"Kemarin kita sampai di rumah Haris, baru aja masuk. Haris ngenalin tuh si Rania ke mama papanya. Tiba-tiba om Faisal marah-marah sambil meng...Tut tut tutt," telfon terputus lagi.


"Apri!" hening


"APriiiiii!!!?" Livi meremas ponselnya, menaruhnya lagi di kursi mobil.


"Bener-bener tu ya orang awas aja kalo ketemu. Bakal aku tendang pusakanya!" Livi memaki maki Apri di dalam mobil. Lalu melajukan mobilnya dengan kencang.


"Kenapa sih ni ponsel. Udah tua kali ya heee." Apri membolak balikkan ponselnya. sambil tersenyum lalu memasukkan ke saku jas nya.


Apri yang sedang di kantor nya melanjutkan lagi tugasnya, memainkan lagi laptopnya tanpa memperdulikan Livi yang sedang kerasukan ke-kepoan di jauh sana.


Livi sampai di kampusnya. Memarkirkan mobil di parkiran kampus.


Saat baru beberapa langkah berjalan. Livi tergelak kecil melihat ada orang yang ke kampus pake sarung.


"Ahaha mau kuliah apa mau sunat si," gumamnya sambil masih memandang lelaki bersarung yang duduk tak jauh dari tempat nya berdiri.


Livi berjalan lagi menuju kelasnya pagi ini.


"Livi."


Livi pun menoleh.


"Ajeng. kamu baru sampai?"


Ajeng ini temen Livi dari SMP.


"Iya Liv, gimana liburan kamu kemarin?"


"Liburan? Yang ada ni aku makin bete tau gak!" jawab Livi kesal lagi.


"Kok bisa?"


mengobrol sambil berjalan menuju kelas.


"Aku lagi asyik-asyiknya nginep di tempat sepupu. Tiba-tiba papa sama mama jemput,nyuruh aku pulang. Mana lagi pdkt sama cowok lagi disana. Sebel kan?" Livi memonyongkan bibirnya.


"Hehe, jangan marahin aku juga kali." ucap Ajeng lirih


"Gak.Aku kan cuma cerita." Livi menoleh pada Ajeng lalu tersenyum.


"Tau gitu aku gak usah liburan segala ya kan? Nambahin perasaan aja." ucap Livi lagi.


Pagi yang menyebalkan. Gumam Livi lagi setelah masuk di kelasnya..

__ADS_1


__ADS_2