Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Pasar malam 2


__ADS_3

"Hoek hoek hoeeekkk.. "


"Duh Ran, maafin aku. Aku tadi udah maksa kamu naik, pusing dan mual banget pasti ya?. " Yura terlihat sangat khawatir saat menunggui Rania yang sedang mabok di kamar mandi dadakan pinggir alun-alun.


"Eehhh... Yura, hoeekkk... " Rania lagi2 memuntahkan isi perutnya, Yura dengan pelan memijit tengkuk Rania.


Beberapa menit kemudian, Rania kembali membaik. Yura menggandeng tangan Rania lalu berjalan mencari minuman hangat.


"Nih minum. " Yura menyodorkan satu gelas teh hangat pada Rania.


"Maaf ya Rania, kamu mau pulang sekarang?. " Yura merasa tidak enak.


"Kita kan baru memulainya. " Ucap Rania setelah meneguk teh hangatnya. Lalu tersenyum menatap Yura.


"Aku senang, bisa berteman denganmu. Punya banyak pengalaman. " Lanjut Rania, tersenyum kemudian menyeruput tehnya lagi .


"Beneran nggak papa?. "


"Iya. Kamu hebat ya, bisa sesenang tadi. Padahal untuk membuka mata saja aku tidak sanggup. " Rania tertunduk malu.


"Apa sebelumnya kamu tidak pernah menaikinya?. "


Rania menggeleng, " pernah tapi dulu sekali sebelum ayah Ibuku meninggal. Setelah itu, aku sama sekali tidak pernah main lagi. Paling ya.... bermain boneka dengan adikku. " Mata Yura berkaca - kaca mendengarkan cerita pilu Rania waktu kecil.


"Maaf... " Yura memeluk Rania. Terisak.


"Tidak apa. Jangan menangis. Terimakasih sudah simpati terhadap aku. Makasih Yura. " Rania menepuk -nepuk punggung Yura.


"Mau main lagi kan?. "


Yura mengangguk.


Setelah menghabiskan tehnya, lalu membayarnya, mereka berbaur lagi dengan keramaian. Banyak sekali hal yang Rania dan Yura lakukan. Dari mulai lempar karet, naik komedi putar, lempar botol dan masih banyak lagi. Hingga beberapa jam kemudian mereka berdua sama2 merasa lapar.


Dengan berjalan santai mereka menyusuri lapak pedagang kaki lima disekitarnya. Banyak sekali pilihan makanan, tapi mereka sepakat membeli sate.

__ADS_1


Mereka duduk dikursi yang disediakan si penjual sate tersebut. Sambil menunggu, mereka menatap sekeliling.


"Aku seneng banget malam ini. " seru Yura.


"Aku juga, makasih ya Yura. "


"Kita belum selfie!. " seru Yura lagi yang kemudian mengambil ponsel di saku celananya.


Klik klik klik klik klik.


Cekrek -cekrek sampai leher pegal. Setelah cukup, Yura menyimpan kembali ponsel nya. Sate yang dipesan pun jadi, mereka kegirangan melihat banyak tusukan sate dihadapan mereka. Memang sengaja pesan doble biar puas.


"Emmm enak banget. " Yura lagi2 menyerukan isi hatinya.


"Kalau mau nambah, ambil ini. " Rania mendekatkan piringnya kesebelah piring Yura.


" Boleh, tapi nanti setelah punyaku habis. " ucap Yura dengan mulut penuh daging sate itu.


"Setelah makan beberapa tusuk, Yura pun meneguk minuman soda yang tadi dibelinya.


"Ya?. " Yura masih asyik menggigit satenya.


"Aku boleh curhat nggak?. " Yura menatap Rania dalam.


"Tentu. Aku siap dengerin sampai pagi. "


"Ih nggak bisalah kitakan nggak serumah. "


"Hehe iya juga. Curhat saja Yura. Aku akan dengerin. "


"Gini.... Ehem.... eee soal kak Haris. "


Rania menatap Yura serius, dia mencoba biasa2 saja saat mendengar nama Haris meskipun yang dia rasakan sekarang hatinya berdenyut.


"Kenapa sama Haris?. "

__ADS_1


"Aku.... sepertinya mulai sayang sama dia. " wajah Yura merona seketika.


"Oh ya? , bagus dong. ".


" Rania tenang, Yura ini sahabatmu, dengarkan dia dulu jangan langsung gugup seperti ini. " batin Rania kemudian.


"Tapi aku tidak tau caranya agar kak Haris peka. Karena dia selalu menganggapku itu teman, selebihnya sebagai adiknya. Dari dulu, sejak kami bertemu saat aku masuk SMA.


" Emmm coba bilang saja langsung. Lagian sekarang entah cewek maupun cowok tidak mempermasalahkan siapa duluan yang ngungkapin perasaannya. " Balas Rania dengan sok nya, padahal dihati dia merasa perih.


Setelah dia mulai berharap lagi pada Haris. Sekarang malah sahabatnya sendiri suka sama Haris.


"Aku malu lah, kamu bantu aku. Ya?. " Yura memohon, dan Rania langsung luluh saja kalau gadis itu memasang wajah imutnya dengan sempurna disaat- saat mendesak seperti itu.


"A aku??? . Bantu bagaimana Yura??. " Rania terus menahan gemetar dibibirnya.


"Ya dengan pelan2, kamu baik-baikin aku didepan Haris. " Sekarang Yura tersenyum, menatap Rania penuh harap.


"Akan aku coba. Eh habisin gih satenya, keburu dingin lho. " Rania mengalihkan pembicaraan.


"E iya, makasih ya. Kamu terbaik deh. "


Saat itu juga Rania dengan cepat menghabiskan sate miliknya. Dia ingin segera pulang. Ingin segera meluapkan kekecewaan, setelah hati mulai terbuka lagi dan tiba2 ada sebongkah batu besar yang bergelinding menutup hati itu lagi dengan paksa.


"Rania cepat sekali kamu makan?. "


"Ehe iya aku lapar Yura. Habis ini kita pulang atau mau ngapain lagi?. "


"Kamu nggak mau beliin oleh2 buat Devi?. "


"Oh tentu, sambil jalan keluar nanti aku belinya. "


"Pasar malam inikan pasti bakal lama, kapan2 kesini lagi ajak kak Haris juga yuk. "


"Uhuk - uhuk... " Disisa sate yang sedang ia makan, Rania tersedak saat mendengar kalimat Yura barusan.

__ADS_1


"Duh kamu ini. Hati2 dong. " Yura segera mengambilkan air putih yang ada di galon. Lalu menyodorkan segelas air putih untuk Rania..


__ADS_2