Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Masih Rania, dihati Haris


__ADS_3

Sebelumnya ...


Diki memberhentikan mobilnya di tengah perjalanan mengantarkan Tiara, karena Tiara tertidur, dan Diki sangat rindu padanya hingga Diki berpikiran macam-macam saat melihat Tiara tidur.


Mobil sudah terparkir di depan sebuah apartemen, Tiara mengerjapkan matanya karena Diki mengendusi wajah dan lehernya.


"Kenapa sayang? Sudah sampai?" ucap Tiara dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kita istirahat di apartemenku dulu, kamu kelihatan sangat capek," kata Diki sambil turun dari mobilnya.


"Enggak, kita langsung ke rumah saja ya! Aku ingin segera bertemu mama."


"Sebentar, nanti kalau sudah di rumah, kita tidak bisa bermesraan, mau ya?" rayu Diki.


Sepertinya Tiara juga sudah dirasuki setan penuh gairah hingga menyetujui permintaan Diki.Hingga terjadilah persetubuhan haram dua insan dimabuk cinta itu.


Di kafe.


Rania sedang menunggu orderan sambil memainkan ponsel baru dari Kevin. Dia belum paham betul cara kerja barunya itu, tapi dengan bantuan Yura, Rania bersemangat untuk belajar.


"Kamu lincah juga ya bawa motornya," ujar Yura, sembari memberikan sekaleng minuman soda pada Rania.


"Makasih Yura, kamu sudah mengajari aku dengan telaten." Rania meneguk minuman dingin itu.


"Dua hari lagi kan minggu, kamu minta libur dong sama mas Kevin. Nanti aku ajak kamu jalan-jalan," pinta Yura.


"Aku kan baru satu minggu kerja disini, apa boleh?"


"Coba saja, mas Kevin baik kok. Cuma cara bicaranya saja yang kadang bikin orang kesel."


"Baik apanya sih orang ngomel trus gitu!" batin Rania.


"Ya sudah besok aku coba bilang ya?" Rania senang bisa memiliki sahabat seperti Yura, dia jadi teringat Novi. Sahabat ditempat tinggalnya dulu.


"Rania kamu melamun?"


"E- e -enggak, hehe," Rania menyibakkan anak rambut ke belakang telinganya untuk mengusir gugup.


"Aku boleh tanya nggak?" Yura menatap Rania penuh harap.


"Boleh. Mau nanya apa?"


"Kamu kan, bilang pindah kesini dan tinggal bareng om kamu, emang di tempat tinggal kamu dulu kenapa? Kemana mama sama papa kamu?"

__ADS_1


Rania mengatupkan bibir yang tadinya tersenyum lebar, Yura langsung menggenggam tangan Rania karena merasa tidak enak, " Eh Rania maaf ya, maaf sudah lancang menanyakan hal pribadi kamu."


"Jangan sungkan Yura, kita kan sudah berteman. Aku nggak papa kok."


"Maaf, " Yura masih menggenggam erat tangan Rania.


Rania mengangguk, melemparkan senyum untuk Yura lagi.


"Dari kecil aku hanya hidup dengan adikku Devi, dan juga seorang pengasuh. Mama dan papa kecelakaan, tapi setelah aku lulus SMP, pengasuh kami mengundurkan diri jadi, aku yang mengurus Devi sampai sekarang. Lalu om dan tante merasa kasihan mungkin, trus ngajak kita pindah kesini." Rania menunduk, cerita singkat untuk Yura. Rania tidak mau menceritakan detailnya, sebab akan melukai hatinya lagi, berharap pernikahan menyakitkan itu tidak pernah ada yang tau selain dirinya dan keluarga Livi.


"Maaf ya Rania, kamu pasti sedih. Aku yang salah, maaf aku tidak tau," mata Yura berkaca -kaca.


"Tak apa. Aku tidak sedih lagi sekarang, karena punya keluarga yang sayang padaku, dan juga punya kamu."


"Hehe," Yura mengusap mata yang basah," emm belum ada orderan lagi ya?"


Rania memeriksa ponselnya.


"Belum,"


"Aku pamit sebentar ya, teman SMA ku dulu mau ketemu. Aku ke ruangan mas Kevin sebentar."


"Iya,"


"Kemana?" taman depan, jawab Yura," Rania ada?" tanya Kevin lagi.


"Ada mas, didepan."


"Ya sudah, suruh dia gantiin kamu sementara."


"Baik, makasih mas."


"Oww tumben mas Kevin santai bicaranya hehe," batin Yura.


Yura mengambil tas kecil di loker miliknya, kemudian minta tolong pada Rania untuk menggantikan dirinya sementara di kasir. Rania mengiyakan, Yura pun pergi menuju taman.


Yura berlarian manja saat melihat seseorang yang akan dia temui sudah duduk di bangku taman.


"Kak Haris?"


"Yura, sudah sampai?" Haris menggeser duduknya, lalu Yura duduk disampingnya.


"Aku kangen kak, kenapa si kakak gak pernah datang ke kafe atau kerumahku?" Yura memanyunkan bibirnya, dan memeluk lengan Haris.

__ADS_1


"Aku sibuk. Gimana kabarmu?" Haris menarik hidung mancung Yura, gadis cantik dan manja itu selalu menggemaskan menurutnya.


"Baik, kak?"


"Hmmm, " Haris menunduk menatapnya yang sekarang bersandar di pundak Haris.


"Mana sih pacar kak Haris yang dulu pernah mau di kenalin ke aku?"


"Siapa?"


"Pacar kak Haris lah, siapa sih dulu kayaknya pernah deh cerita sama aku."


"Hmmm nggak ada. Kakak nggak pernah pacaran."


"Yah, kapan dong kakak pacaran trus nikah? Kakak udah tua tau."


"Kalo udah ada jodoh dong. Ehem, Yura, kakak lagi galau sekarang."


"Woah kakak bisa galau juga?!!!" Yura terperanjat dan menatap serius wajah Haris.


"Bisalah kakak kan normal." Haris tergelak.


"Cerita dong!" wajah manjanya muncul lagi.


"Nggaklah kamu masih kecil."


"Ish, kita kan hampir seumuran!" Yura menjotos lengan Haris, Haris sendiri tertawa melihat tingkah konyol sahabat lama sekaligus adik angkat bagi Haris.Meskipun umur mereka nggak beda jauh, tapi Yura tidak terlihat sudah dewasa seperti Haris karena wajah imut-imutnya itu.


"Kakak sudah menikah."


"Waaaa apa?" Yura berteriak kencang sekali. Haris langsung menutup mulut Yura dengan tangannya.


"Dengerin dulu!"


"Eemmm iya- iya hehe."


"Kakak nikah karena dijodohkan sama papa enam bulan yang lalu, tapi selama pernikahan kakak tidak mencintai istri kakak," berhenti, menghembuskan nafasnya yang terasa berat.


Yura masih menatap lekat wajah Haris, "Lalu tiba-tiba dia hamil padahal kakak tidak pernah menyentuhnya. Dan dia mengaku sudah tidur dengan laki-laki lain. Lalu kami cerai."


"Kenapa kakak nggak cinta sama dia?"


"Karena kakak sudah cinta dengan gadis lain tapi papa tidak merestui, malah menyuruh kakak menikahi gadis pilihan papa."

__ADS_1


"Oooo, hmmm kak, jangan sedih lagi ya?" Yura menepuk pelan punggung Haris. Haris tersenyum, merasakan kenyamanan saat bersama Yura.


__ADS_2