
"Pagi pak?" sapa Rania pada pak Arga yang baru saja sampai di kafe.
"Pagi." pak Arga tersenyum lalu menuju ruangan nya.
"Novi, tumben ya udah mau siang gini masih belum ada pelanggan satupun." Keluh Rania pada teman kerjanya.
"Iya Ran, kemarin aja kita sampe gak sempet makan siang karena rame banget."
Novi dan Rania hanya duduk-duduk santai sambil memangku dagu mereka dengan tangan, menatap ke arah pintu masuk berharap ada seseorang yang mampir ke kafe.
"Bosen juga ya...?" gerutu Novi lagi.
"Heem. Bentar ya Nov." Rania mengambil ponsel di saku celananya.
"Mba Livi, apa kabar? " sapa Rania ramah. "Maaf ya mba semalam gak jadi telfon, soalnya aku pulang kerja sampe malam," lanjutnya.
"Ngga papa Ran. Kamu nanya kabar aku? Kabar aku buruk," terdengar suara Livi yang sedang bad mood.
"Kenapa mba?"
"Kemarin sore aku nikah."
"Apaa?????" sontak Rania, Novi yang ada di sebelahnya pun langsung membulatkan matanya.
"Kaget kan? Emang ni ya papa tu gak punya perasaan banget. Ran, tolong dong!" Livi tiba-tiba merengek.
"Ya ampun mba aku tu kaget banget tau. Gak ada kabar gak ada cerita tiba-tiba mba nikah?" "Ehe tapi pasti ganteng kan mba suaminya? "
"Ganteng.Kaya.Dan dia itu ustadz beneran lho"
"Yang bener mba? Ceritanya gimana mba? Ih pasti seru."
"Hemmm. Oya kamu gak kerja?" mengalihkan pembicaraan.
"Nggak mau cerita apa?" Rania memonyong kan bibirnya, "Aku lagi kerja ni. Tapi kafe sepi. Makanya aku nelfon mba."
__ADS_1
"Emm, kalo ketemu aja ya Ran." Suara Livi lirih. "Eh udah dulu ya suami aku dateng nih," ucap Livi lagi berbisik.
Telfon di matikan.
"Livi. Kamu belum bangun juga?"
"E hehe ini mau bangun." Livi nyengir, kebiasaan kali.
"Biasain kalo bangun pagi-pagi sekali, sholat subuh lalu masak buat sarapan. Setelah abang berangkat ke MA baru kamu lanjutin aktifitas kamu. Ya?" pak ustadz itu berbicara sambil mengaitkan kancing bajunya. Tanpa melihat livi.
"Iya." jawab aja iya, selesaikan? batinnya.
"Ya udah bangun sekarang. Aku mau sarapan" masih berdiri di depan cermin.
"I iya." Livi nurut banget, biasanya kan gadis ini selalu ngeyel.
Livi menuruni tangga, karena dia baru saja tinggal disini, Livi masih celingukan dimana dapurnya.
Candra menghampiri Livi yang masih berdiri di ujung tangga.
Livi berjalan kesana.
"Masak apa ini? Aku kan belum pernah turun tangan sendiri di dapur. Mama tolong Livi." Livi menggigit kecil jari-jarinya, bingung.
Tiba-tiba Candra sudah ada di belakangnya. Mengejutkan Livi.
"E sebentar ya, aku lagi cari ide hehe iya cari ide dulu mau masak apa," raut wajahnya lucu banget kalo lagi panik.
"Masak sebisa kamu. Aku tunggu di meja makan." Candra lalu pergi. Meninggalkan Livi yang sedang kesulitan.
"Aha gugling. Tapi hape aku ada di kamar. Duh gimana ya?" Semakin panik.
Tiba-tiba Livi ingat saat di rumah Rania. Rania selalu menggoreng telur atau nugget untuk sarapan.
Terpikirkan oleh Livi apa sebabnya, sebab mudah dan cepat.
__ADS_1
Livi lalu membuka kulkas. Dan benar ada telur disana. Livi mengambil empat buah telur itu.
Menyiapkan penggorengan, lalu dengan takut-takut menuangkan isi telur ke dalam penggorengan.
Livi berteriak saat telur itu menyatu dengan minyak. Candra yang mendengarnya langsung menghampiri.
"Ada apa?" Dengan cepat Candra mendekat.
"Itu...minyaknya kemana-mana." Dengan polosnya Livi meremas lengan baju Candra.
Candra langsung mematikan kompor. Menatap Livi, "Kamu gak bisa masak?" tanyanya pelan.
Livi menggelengkan kepala. Wajahnya memerah, malu juga cewek seusianya menggoreng telur saja gak bisa.
"Mulai sekarang belajarlah, bisa tanya sama mama kamu, sama ibu aku atau lewat gugling, sekarang kan sudah canggih, gunakanlah semuanya." Candra bicara dengan sangat hati-hati, mencoba mengajari Livi dengan penuh perhatian.
Livi hanya mengangguk, kemudian menundukkan kepalanya.
Candra kembali menyalakan kompornya, mengambil telur tadi yang sudah gosong. Lalu menuangkan isi telur yang baru.
Candra melirik tangan Livi yang masih menarik lengan bajunya. Livi mengikuti arah mata Candra, dan dengan cepatnya langsung menyembunyikan tangan itu di balik badannya.
"Udah dua saja cukup. Ayo kita sarapan." Candra menaruh telur itu di dua piring. Membawanya ke meja makan.
Candra menarik kursi dan mempersilahkan Livi duduk. Livi ternganga melihat suami dadakannya itu sungguh keren menurutnya.
"Ayo makan!" Candra membangunkan lamunan Livi.
"Iya," Livi menatap Candra yang masih duduk terdiam.
"Katanya mau makan?" rasanya suara Livi berat sekali.
"Kamu gak mau mengambilkan nasi untuk ku?" Candra tersenyum.
"E iya maaf," langsung bergerak mengambilkan nasi untuk Candra.
__ADS_1
begitulah awal kedekatan pengantin dadakan itu. Romantis juga si Candra, jangan baper ya readers 🔥