
Rania, Devi, Diki dan papanya sedang menikmati makan siangnya. Pak Indra memuji masakan Rania yang enak.
"Emmh enak, kamu pintar masak juga ternyata," ucap pak Indra.
"Terimakasih pa."
"Pintar juga kamu cari istri," canda pak Indra kepada Diki.
"Diki gitu!" berlagak sok keren.
"Emm ada yang nyuekin tamu nih." Bu Eri berdehem melihat mereka yang sedang makan siang .
"Ma, silahkan duduk, kita makan sama-sama ya." Rania sontak gugup dan tidak enak hati.
"Terimakasih." Bu Eri duduk di kursi dekat suaminya, tak lama kemudian Fani dan Sabila juga datang dan duduk di dekat Devi.
"Kelihatannya lumayan," ucap Sabila. Mana tahan dia, gadis yang hobi makan namun badannya tetap kurusan itu hampir saja ngiler.
"Makan saja dek, ini ambil." Rania mendorong ikan asam manis di depannya agar Sabila bisa dekat mengambilnya.
"Aduh ma." Sabila menyipitkan matanya menatap Bu Eri yang habis menginjak kakinya.
"Kenapa Bil?" mengernyitkan alisnya.
"Ehe gapapa kak." Sabila salah tingkah sendiri antara mengikuti mamanya atau mengikuti nafsu nya untuk makan.
Namun akhirnya Sabila makan juga, meskipun harus melihat lirikan mama dan Fani yang menakutkan.
"Ma, terimalah aku!" batin Rania yang sebenarnya terluka melihat tatapan tak suka mama mertuanya.
Di lain tempat, Livia dan Candra sedang saling membantu membereskan rumah. Livia yang belakangan ini mual-mual dan lemas, membuat Candra tidak tega meninggalkannya di rumah sendiri.
"Kalau capek istirahat saja sayang!"
"Enggak, jangan memanjakan aku begitu bang. Hamil itu gak boleh malas."
"Dilihat dari tingkah kamu, kayaknya bayi kita laki-laki deh."
"Hmm laki-laki atau perempuan sama saja kan?"
"Iya juga, eh telfon mama yuk, beliau pasti senang denger kamu hamil."
"Jangan, aku malah mau telfon Rania. Dia udah itu belum ya," seringai nakal membuat Candra tertawa geli.
__ADS_1
"Malah mikirin orang lain, ah aku mau telfon mama pokoknya, habis itu telfon ibu juga."
"Ihhhh jangan, aku ngambek nih."
"Lo kenapa?"
"Aku malu."
"Malu kenapa?"
"Hmm oya deh gak kasih tau mereka. Jangan cemberut lagi."
Candra mencubit kecil pipi Livia lalu kembali membereskan bantal-bantal di atas ranjang.
"Aku mau telfon Rania," rengek Livia lagi.
"Ya udah, tapi jangan tanya aneh-aneh ya?"
Candra ikut tersenyum saat Livia dengan senangnya ingin menelfon sepupunya itu.
Ponsel Rania berdering dengan kencangnya, dia segera menerima panggilan itu.
Kringgg!
"Mba, gak usah kenceng-kenceng aku dengar kok."
"Hehe maaf deh. Lagi apa kamu?"
"Nih lagi beberes rumah, mba sendiri?"
"Sama, suami kamu mana?"
"Kerja mba, aku sendirian di rumah, mba apa kabar?"
"Baik, eh Ran kamu sama Diki udah belum?" Candra mulai menatap penasaran pada Livia.
"Udah apa mba? Udah nikah? Ya udahlah mba." Di sebrang telfon sana tertawa lepas.
"Ish gak nyambungan banget si. Udah malam pertama belum?"
"Jangan gitu lah, kasian Rania pasti malu tu." Candra menimpali. Livia hanya menatap Candra dengan mata menyipit.
"Udah kok mba, santai saja!" jawab Rania enteng.
__ADS_1
"Wah kamu berani deh sekarang."
"Berani gimana?"
"Hoek hoek!!" terdengar suara orang muntah dari sebrang telfon, Rania mengernyitkan dahinya.
"Mba Livia? Mba kenapa?"
Tidak ada jawaban, hanya samar-samar terdengar suara orang mengobrol tapi tidak jelas.
"Rani, sudah dulu ya, Livia sedang gak enak badan." tuttuttut telfon terputus.
"Kenapa si mba Livia, aneh banget. Kok kak Candra di rumah, apa mba Livia sakit?" tanya jawab sendiri.
Akhirnya Rania melanjutkan aktifitas paginya.
Di sela-sela menyapu, Rania mengambil ponselnya yang berdering. "Mas Haris?"
"Rania apa kabar?" suara familiar itu menyapanya, berasa mati jantung Rania.
"Ba-baik mas."
"Syukurlah. Rani, aku merindukanmu."
"Jangan begitu mas, aku sudah menikah."
"Lalu kenapa? Kamu mau mutus hubungan denganku?"
"Tidak, tapi jangan berlebihan. Kita sama-sama sudah menikah. Hargailah perasaan mereka."
"Rania, aku hampir gila karena mencarimu dan Devi."
"Lupakan saja mas, aku sudah rela melihat kalian bersama."
"Apa aku boleh tau alamat rumah mu sekarang? Aku tidak akan merusak rumah tanggamu."
"Enggak, mas sudah ya. Aku sibuk sekarang." tuttuttutt.
"Aa arghhh!!!" Haris berteriak histeris,tiga minggu setelah Rania menikah dirinya seperti orang stres tidak terarah.
Beberapa kali mampir ke rumah lama Rania namun kosong. Lima hari sejak Rania menikah, Haris selalu cuek sama Hanin. Dan dua minggu kemudian, Hanin merasa tidak sanggup. Lalu menceritakan rumah tangganya dengan papanya.
Hari itu juga Hanin pergi dari rumah Haris. Papa Haris merasa malu. Dia marah dan mengusir Haris dari rumah.
__ADS_1
Dengan uang tabungan seadanya, Haris pergi dari rumah itu. Meskipun tidak tega melihat mamanya, namun Haris tetap pergi. Setidaknya mamanya kini sudah baik, bisa berjalan lagi.