Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Bertemu mertua 5


__ADS_3

Rania benar-benar tertegun saat menapakkan kaki di teras rumah mewah itu.


"Ini rumah kakak?" Devi pun sama herannya.


"Iya, yuk masuk?" Haris menggenggam tangan Devi.


Mereka masuk.


Merinding rasanya Rania memasuki rumah sebesar dan seindah itu.


"Ma... Pa..." Haris memanggil mama papanya.


Mata Rania menyebarkan pandangan ke seluruh aksesoris yang ada di rumah itu. Sungguh sangat mewah.


Datang lah seorang lelaki gagah dengan di ikuti perempuan tua yang berjalan dengan mendorong kursi roda diduduki oleh wanita yang cantik pula.


"Ma..." Haris memeluk wanita yang duduk di kursi roda itu. Lalu menyalami papanya.


"Kamu pulang..." ucap mama nya lirih.


"Iya ma. Bagaimana keadaan mama?"


"Ya seperti ini Ris," sambil memegang erat tangan Haris.


"Siapa mereka?" tanya papa Haris sambil menatap sinis Rania dan Devi.


"Dia kekasihku pa. Kekasih yang Haris janjikan ke papa," menjawab dengan tenang.


Rania tersenyum. Devi mendekat ke arah mereka lalu salim dengan mama papa Rania dan bi Ndari pembantu di rumah itu.


Hanya papa Haris saja yang tidak mau membalas sambutan tangan Devi. Devi memandangnya. Rania dengan perasaan yang tadinya bahagia kini mulai meredup mendengar kata-kata papa nya haris.


Rania menarik pelan Devi agar mundur.


"Oh jadi gadis kampung ini yang kamu bangga-banggakan? Gadis seperti dia?" menunjuk dan menatap sinis Rania.

__ADS_1


"Apa maksud papa?" suara harus meninggi.


"Harusnya kamu cari saja di sekitaran jembatan depan sana. Tidak perlu jauh-jauh ke desa hanya untuk menemukan orang seperti dia." Suaranya menggelegar, bagaikan petir yang menyambar tubuh Rania.


"Papa hentikan!" Haris mendekati Rania.


"Kembalikan dia ke rumahnya. Papa tidak sudi memiliki menantu gembel sepertinya." Papa Haris langsung menaiki tangga. Meninggalkan Rania apri dan Devi yang berdiri terpatung.


Haris mengejar papa nya. Rania kini menangis. Memeluk Devi.Menyesali keinginan hatinya untuk bisa menikah dengan Haris. Rania menyesali semua angan-angan bahagia yang ia ciptakan semenjak mengenal Haris.


Tanpa berkata kata Rania keluar dari rumah Haris, menggandeng Devi. Devi hanya mengikuti sesekali menatap Rania yang menangis tersedu sedu.


Apri langsung mengejarnya.


"Ran, tunggu. Maaf Ran, Om Faisal memang seperti itu orangnya. Jangan pergi dulu, tunggulah Haris Ran!" Apri mencoba menahan Rania.


Rania tetap berjalan, perasaannya kini hancur berkeping-keping. Tak menyangka cinta pertamanya untuk Haris akan sesakit ini.


Apri pun masih mengeluarkan jurus merayu nya. Playboykan punya banyak jurus untuk menenangkan perempuan yang marah.


Tubuh Rania tertahan saat Haris tiba-tiba memeluknya dari belakang.


Rania malah menangis sejadinya. Apri mengajak Devi menjauhi Rania dan Haris.


"Ran? Maaf," kini Haris menjatuhkan tubuhnya. Berlutut pada Rania. Berharap perasaannya pada Haris belum ia buang.


"Mas, benar apa kata om Faisal. Mas Haris pulang lah, aku akan kembali ke desa dengan Devi," ucap Rania masih sesenggukan.


"Ran? Bertahanlah. Aku akan meyakinkan papa. Aku janji," meremas tangan Rania.


"Devi.Sini sayang." Rania melambaikan tangannya pada Devi. Apri dan Devi mendekat.


"Ran? Jangan pergi. Aku mohon."


"Apri antar Rania ke apartemenku. Aku akan menemui kalian nanti malam ya?" Haris berdiri. Mengusap pipi Rania yang basah, mengecup kepala Devi lalu berlari menuju rumahnya.

__ADS_1


"Ran, Kita ke apartemen Haris dulu ya?" Apri merayu lagi.


"Enggak mas, aku lebih baik kembali ke desa. Di sini bukan tempat kami," bersuara serak.


"Ran, ayolah. Haris pasti akan marah padaku kalo kamu pulang."


"Maaf mas , aku akan menyudahi semua ini sebelum aku terluka lebih dalam."


Rania berjalan merangkul Devi. Apri tetap mengikutinya. Bingung harus berkata apa lagi.


Rania tak memperdulikan Apri di belakangnya. Tapi tangisnya sudah reda, meyakinkan dirinya jika tidak sepantasnya ia menangis. Hubungan mereka berdua bahkan baru saja di mulai.


"Pergilah mas Haris, jangan datang lagi di hatiku. Cukuplah luka ku sampai disini," batin Rania.


Tin. Klakson mobil membuat mereka bertiga berhenti.


"Ran, naiklah. Aku akan membawamu ke apartemen."


"Apa mas suka melihatku menangis?"


Haris menggeleng.


"Kalau begitu usaikan saja semuanya,"


mata Rania kembali berkaca kaca.


Haris turun dari mobilnya. Kembali memeluk Rania.


Rania hanya bisa terisak.


"Cantik, maafin kakak ya?" Haris menggendong Rania.


Devi mengangguk. Wajahnya ikut pucat, pasti sudah paham dengan apa yang sedang terjadi.


"Ran, aku mohon!" Haris menggenggam erat tangan Rania.

__ADS_1


"Hubungan akan berjalan jika yang berkaitan saling menghargai. Bagaimana bisa aku bertahan jika cacian sudah menungguku.Menunggu untuk menyakitiku. Mas, sudahlah. Lagian aku pun belum mencintaimu, kita sudahi saja ya!" Berbicara dengan tenangnya,Rania sudah bisa mengendalikan hatinya lagi.


Haris merapatkan giginya. Kesal, lalu apa arti kebersamaan lima hari kemarin? Kebahagiaan itu? Apa artinya kalau bukan sudah merasa jatuh cinta???


__ADS_2