
Siang menjelang sore,Yura terlihat sedang mengunci pintu kafe karena hari ini Rania tidak masuk kerja dan Kevin pun tengah menghadiri pernikahan om nya.
"Lelah sekali bekerja sendirian saja!." Keluh Yura sembari melajukan motornya.
Tiga bulan berikutnya, Yura semakin gencar saja mengejar cintanya Haris. Meskipun tidak ada respon baik dari Haris. Tapi Yura masih kekeh ingin memilikinya.
Suatu hari Yura mendapati Rania sedang duduk disebuah restoran. Hari itu Rania memang mengambil cuti karena katanya ada urusan.
Yura yang sebenarnya mau membeli makan untuk nanti malam tidak sengaja melihat Rania, dia terlihat sedang mengobrol dengan seseorang tapi tidak terlihat karena terhalang oleh vas bunga yang cukup besar.
Dengan ceria Yura menghampiri Rania karena kangen meskipun baru sehari tidak bertemu tapi kebaikan Rania membuat Yura selalu ingin bersamanya. Setelah dekat, wajah riang Yura berubah.
Yura berdiri tepat dibelakang Rania duduk.
"Yura?. " Haris langsung berdiri menyapanya.
"Yura?. " Rania ikut terperanjat.
"Kalian sedang apa disini?. " Tanya Yura dengan mata sudah berkaca - kaca.
"Kita tidak sengaja bertemu. " Jawab Rania agak gugup.
"Benarkah?. " Sedikit ragu.
"Benar, iya kan?. " Rania beralih menatap Haris.
"Tidak!. " Balas Haris.
Rania dan Yura sama -sama membulatkan mata.
"Rania, aku tidak bisa lagi pura-pura. Aku mohon sudahi saja sandiwara ini.! " Ucap Haris tegas.
"Sandiwara?, " wajah Yura pucat. Begitupun dengan Rania.
__ADS_1
"Haris!. " Rania menatapnya penuh harap supaya tidak membeberkan semuanya sekarang karena dia belum siap.
"Yura. Maaf.... " Haris menghela nafas panjang.
Mata Yura sudah penuh membendung air mata.
Rania duduk dan melipat tangan diatas meja, wajahnya ia benamkan disana. Sama-sama sudah menangis,dan tidak berani lagi melihat wajah Yura.
"Apa yang akan kakak katakan?. " Dengan bibir yang sudah berdenyut, Yura mencoba menghilangkan prasangka terburuk tentang mereka berdua.
"Kamu cinta sama aku ya?. "
Wajah Yura tiba-tiba bersemu merah. " Apakah kak Haris mau menembakku? , maafkan aku Rania sudah mengira kalian berhubungan dibelakangku. " Batin Yura kemudian.
"Iya kak.. maafkan aku, aku memang mencintaimu. "
"Baiklah, "
"Apa kak Haris juga mencintaiku?. " Karena tidak sabar, Yura memotong ucapan Haris.
"Lalu selama ini kenapa kakak tidak menolakku jika sebenarnya tidak sudi?." Setetes air mata menitik di pipinya.
"Karena Rania. Dia yang memaksaku untuk membalas perasaanmu. Aku tetap baik kepadamu seperti biasa. Aku tetap membiarkan kamu memelukku bahkan menciumku. Rania bilang kamu sangat menyukaiku dan kamu meminta bantuannya, Rania sudah melakukan itu demi kamu. Rania sangat sayang padamu dan tidak mau kehilangan sahabat sepertimu. " Haris menarik nafas panjang.
Saat itulah tangis Yura pecah. Dipandangnya punggung Rania yang sedang menunduk itu. Yura memegang pundak Rania.
Rania menoleh, dan wajahnya kini sangat kacau, penuh derai air mata. Matanya pun sudah merah.
"Rania terimakasih, sudah membantuku sampai saat ini. " Rania mengangguk, berdiri dan memeluk Yura.
"Apa kakak suka Rania?. "
"Aku sudah mengenal Rania lama sebelum kamu. " Ucap Haris lagi, seketika Yura langsung melepas pelukannya.
__ADS_1
"Apa maksud kakak?. "
"Kamu ingat gadis yang sudah aku tinggalkan karena perjodohan papa? , dia adalah Rania. " Rania duduk lagi, merasa sangat kecewa harusnya Haris tidak perlu menceritakan masa lalu itu.
Dan Rania yakin Yura sekarang sudah mulai membencinya.
"Begitukah?. " Air mata Yura jatuh lagi membasahi pipi nya. " Bagaimana bisa selama ini kalian bersikap tak acuh seakan belum pernah saling mengenal?. " Lanjutnya.
"Karena kita sama-sama ingin melupakan luka masa lalu. " Jawab Haris tegas.
"Lalu apa selama ini kalian berhubungan?. "
"Tidak!!. " Rania membentak.
"Iya." Jawab Haris tak kalah keras.
"Rania, kamu hebat. " Kata-kata terakhir Yura sebelum akhirnya dia pergi dari restoran itu.
Masih menangis, Yura mengendarai motornya untuk pulang. Rasa laparnya hilang, dihatinya sekarang hanya ada rasa benci.
Benci kepada Rania.
Direstoran.
"Kamu tega ya?, menghancurkan persahabatanku dengan Yura. "
"Kamu lebih tega sudah membuat kita tersiksa dengan ambisimu itu!. "
"Aku tidak tersiksa!!. "
"Aku tidak percaya. Selama ini kamu menangis tiap Yura mengajakku kencan dan kamu mengantarnya. Kamu pikir aku tidak memperhatikan wajah sengsaramu itu?!. " Haris memegang kedua pipi Rania.
"Tatap aku?! , sekarang semuanya selesai, kita bisa kembali. Tanpa ada rasa takut ketahuan Yura. "
__ADS_1
"Apanya yang selesai?. " Rania menghempaskan tangan Haris.
"Masalahku baru saja dimulai!. Yura pasti sangat membenciku! . Hiks. "