
"Kamu bohong kan? Aku tau kamu masih sakit hati, tapi aku yakin kamu tidak akan secepat ini berubah. Rania jangan bohong!" Haris berkata lirih, memegang kedua pundak Rania. Menunduk menatap wajah Rania.
"Enggak, aku sudah tunangan, dan besok kita akan menikah. Jadi mas Haris harus pergi dari sini sekarang karena hatiku sudah menghapus semua nya tentang mas." Matanya mulai basah, air mata tak bisa terbendung lagi, Rania memberanikan diri menatap Haris. Berusaha bilang baik-baik, biarpun dia pernah tersakiti tapi Rania tidak mau menyakiti hati orang lain.
"Hahahaha bagaimana bisa kamu menghayal dengan begitu indah. Aku akan tetap menunggumu, aku tau kamu sedang bohong kan?"
"Aku minta maaf, aku memang sangat berharap bisa bersamamu, kamu baik, perhatian dan punya segalanya, aku akui kamu sempurna, tapi dulu. Sebelum aku melihatmu duduk di pelaminan bersama gadis lain, setelahnya aku berusaha membuang semua tentangmu jauh-jauh. Ini undangan untuk kalian, datanglah jika berkenan. Tapi jangan lagi ungkit pertemuan angin kita yang dulu, aku tidak mau calon suamiku salah paham."
Menarik nafas sebentar, Haris dan Apri tercengang menatap selembaran undangan bersampul foto Rania dan seorang lelaki.
"Terimakasih sudah ada niatan untuk menemuiku dan meminta maaf, aku tidak membencimu mas, tapi biarkan aku bahagia dengan lelaki yang ku pilih. Jangan sakiti istrimu, dia yang mencintaimu saat ini. Jagalah dia."
Rania menepuk lengan kanan Haris, tersenyum padanya dengan deraian air mata, lalu berbalik hendak menjauh.
"Aku paham, aku yang salah Rania. Maafkan aku. Tapi bisakah kamu batalkan semua ini? Seperti aku meninggalkan istriku demi kamu?"
"Sudahlah Ris, Rania akan bahagia dengan pilihannya, jangan bebani dia karena egomu," tungkas Apri menyadarkan Haris.
"Rania, aku mohon"
Mendekat, bersimpuh dan memeluk kaki Rania.
"Mas apa yang kamu lakukan?"
"Ris, benar yang dikatakan Rania, dia sudah memaafkanmu ayo pergi dari sini!" Apri menarik Haris.
"Aku mau kita menikah." Mata Haris membulat membuat Rania ketakutan.
"Mas Apri... Aaah mas Haris sakit!" Rania menjerit saat Haris memeluk Rania paksa.
"Ris sadar Ris! Haris!" wajah Apri memerah, kenapa Haris segila ini sih.
Dengan kuatnya Haris menepis tubuh Apri yang sedang menariknya.
__ADS_1
"Rania, menikahlah denganku sayang."
Rania gelagapan, karena wajahnya tertekan di dada Haris. Haris sangat kuat memeluknya, menjadikan Rania sulit bernafas.
"Mas," suara Rania terdengar lemas.
"Kita akan menikah sayang." Haris masih memeluk Rania.
Haris menciumi rambut Rania, mengelus punggungnya. Saat Haris masih kuat memeluknya, tiba-tiba tangan Rania yang tadinya mencengkeram punggung Haris itu terjatuh lemas.
Haris tersadar, lalu melepaskan pelukannya. Terkejut melihat wajah Rania yang pucat.
"Rani?" mulai panik.
Apri yang sedari tadi memperhatikan langsung menonjok wajah Haris.
"Kamu sudah gila Ris, kamu gila!" umpatnya.
"Devi, ayo sayang kita ke rumah sakit." Apri berteriak, dan sudah menggendong Rania.
"Mba Rani? hiks hiks ..." Devi langsung terisak melihat kakaknya lemas tak berdaya.
"Ayo cepat sayang," terus keluar menuju mobil, tidak memperdulikan Haris yang berdiri mematung di sana.
Saat mobil akan berjalan, tiba-tiba Haris masuk dan duduk di jok belakang bersama Rania dan Devi.
Apri memelototinya, tapi langsung melajukan mobil, menunda uneg-uneg hatinya pada Haris.
"Rani? Maaf Rania... Devi maafkan kak Haris ya sayang." Haris sangat panik.
Menyibak rambut Rania yang menutupi wajahnya, lalu mengangkat kepalanya untuk dia pangku.
Tidak ada jawaban selain isak tangis Devi.
__ADS_1
"Mba Rani bangun... hiks hiks... Mba Rani...."
"Devi maaf ya sayang, Mba Rani nggak papa. " Haris memaksa bibirnya tersenyum.
"Kak Haris... hiks, hiks." Devi terus menangis dan sesekali mengusap tangan Rania.
Sesampainya di pelataran rumah sakit, Haris bergegas menggendongnya. Berlari, langsung masuk ke ruang UGD dimana dulu dia membawanya saat sakit.
Haris menidurkan Rania di ranjang rumah sakit, dokter segera memeriksanya. Rania masih bernafas tapi lemah.
"Dok gimana?" Haris kepanikan bercucuran keringat.
Devi masih saja menangis di luar kamar, menunggui bersama Apri.
"Apa dia barusan tenggelam?" dokter itu tampak tenang .
"Tidak." Haris panik bertambah malu harus menjawab apa.
"Kenapa jantungnya bisa lemah begini?"
"Saya memeluknya," ucap Haris spontan.
Dua perawat di belakangnya tersenyum, geli mendengar pernyataan Haris.
"Nggak papa kan dok?"
"Nggam papa. Suster tolong pasang oksigen ya!" perintah sang dokter kepada dua perawatnya.
"Bu dokter, apa Rania perlu menginap disini?"
"Kita lihat nanti setelah dia sadar, apakah lemas atau tidak," jelas dokter wanita itu.
Dengan cekatan para perawat memasang selang oksigen pada hidung Rania. Beberapa menit saja terus selesai. Haris mendekat, mengecup kening Rania, dan membelainya.
__ADS_1