
"O iya mas, apa mas Haris punya kakak atau adik?"
"Aku anak tunggal."
"Emm, pasti orang tua mas Haris cantik dan ganteng juga."
"Hmmmm."
"Cuek banget."
Haris gemas saat tau kalo Rania ini ternyata crewet banget. Ditariknya lagi hidung jambu milik Rania. Rania mengaduh kesakitan.
Tapi wajah Haris datar-datar saja.
Flashback cerita Haris semalam.
Sepulangnya dari rumah Rania, Haris merebahkan badannya di tempat tidur. Apri yang biasanya suka nanya-nanya dengan jiwa kekepoannya itu sudah tidur. Jadi Haris merasa lega karena bebas dari celotehan Apri.
Baru saja matanya mulai terlelap, ponsel Haris berdering. Dia langsung terjaga, meraba raba kantong celananya.
"Ya halo pa."
[Ris, pulanglah papa mohon sama kamu kali ini. Papa tidak bisa lagi mengelak permintaan pak Taufan untuk segera menjodohkan putrinya denganmu. Bahkan jika tidak segera dia mengancam akan membuat perusahaan papa ini hancur] suara pak Faisal terdengar sangat marah.
"Apa papa kurang puas selama ini mengekangku? Aku sudah memiliki seorang gadis, aku akan segera pulang tapi tidak untuk menuruti permintaan papa," suara Haris tak kalah menakutkannya.
[Kamu tega melihat papamu ini menjadi gelandangan? Tega melihat mama mu mati kelaparan? HAH?]
"Biar! Hati ku terlalu sakit untuk menuruti kemauan papa kali ini. Aku akan merawat mama jika papa sudah tidak sudi lagi merawatnya!"
[Kamu akan semakin sakit melihat mama mu yang tidak bisa membeli dan meminum obat lagi. Dia akan mati secara perlahan. Kamu pikir harga obat mama mu itu seharga kerupuk di warung? Lakukan saja kemauan kamu jika kamu mau melihat mama mu mati!] Pak Faisal mematikan sambungan telfonnya.
Haris berteriak. Tak habis pikir papa nya akan menindas dia hingga seperti ini.
"Aku akan bekerja keras. Menghidupi mama dan membahagiakan Rania," batinnya dengan tangan yang mengepal.
__ADS_1
Apri terbangun karena terkejut oleh teriakan Haris.
"Kenapa kamu? Om Faisal lagi? ucap Apri sambil menguap.
Haris mengangguk.
"Aku tidak bisa melakukan apa-apa karena ini menyangkut hal pribadimu. Ikuti saja kata hatimu. Hatimulah yang paling benar." Apri kembali menjatuhkan badannya,lalu dengan cepat tertidur lagi.
Haris menoleh, "Apa barusan dia mengigau?" gumam Haris.
"Aku menyayangi mama, tapi kini Rania juga mulai mendapatkan tempat di hatiku. Apa sesulit ini pilihanku? Aku ingin melupakan sakit hatiku atas kepergian Hanum, kini Rania sudah mulai membantuku menghapus kenanganku dengannya."
Hampir semalaman Haris memikirkan bagaimana ia harus bertindak.
Hingga langit mulai memperlihatkan fajar nya, Haris masih terduduk di dekat Apri.
"Tumben udah bangun." Apri menguap lagi.
"Aku gak tidur," jawab Haris dengan tatapan mata kosong.
"Yang bener? Trus kamu ngapain semalaman?"
"Hahaha kurang kerjaan banget." Apri beranjak dari tempat tidur, hendak ke kamar mandi.
Haris membaringkan tubuhnya setelah Apri pergi. Saking ngantuknya dia pun tertidur.
Apri geleng-geleng kepala melihatnya tidur.
"Udah kaya kelelawar aja malam gak tidur malah pagi tidurnya. Lagian ngapain juga ngeliatin aku ngigau hahaha." Apri lalu pergi ke teras kamar. Perutnya berbunyi karena semalam mau beli makan tapi mobilnya di bawa Haris. Jadi terpaksa dia tidur dengan perut yang lapar.
Apri pun melajukan mobilnya, berjalan pelan-pelan sambil mencari makanan apa yang pas untuk pagi ini.
Mobilnya berhenti di depan sebuah grobak yang ada di pinggiran jalan.
"Emm makan lontong sayur enak kali ya?" gumamnya. Turun dari mobil, mendekati penjual ketoprak yang sedang banyak pengantri disitu.
__ADS_1
"Bang, ketopraknya satu ya!" ujar Apri.
"Bungkus ato makan sini mas?" tanya penjual itu tanpa menoleh pada Apri.
"Makan sini." Apri pun ikut duduk di sebelah para pembeli lainnya.
Apri ini orangnya memang mudah berbaur dengan orang lain. Tidak seperti Haris, makanya Apri cuma memesan untuk dirinya sendiri. Mana mau Haris makan makanan jalanan seperti ini.
Tak lama kemudian Apri mendapatkan jatahnya, dia makan dengan tenang dan di sebelahnya lagi ada dua orang cewek yang sedang mengantri juga.
Jiwa ke playboy'an Apri pun muncul. Sambil makan sesekali dia menoleh dan tersenyum pada dua cewek itu.
Tanpa malu nya Apri mengulangi perbuatan itu. Cewek-cewek itu pun segera pergi setelah pesanan mereka selesai.
Tiba-tiba Apri tersedak, kedua cewek dan penjual lontong sayur tadi tertawa bersamaan. Apri masih saja biasa-biasa saja. Memang deh jiwanya ini tangguh banget. Pantesan playboy wkwkwk.
Apri pulang ke penginapan. Haris sudah mandi dan terlihat sangat keren dengan gaya penampilannya.
"Mau kemana kamu?" tanya Apri.
"Ke rumah Rania, bentar. Kamu siap-siap aja hari ini kita balik ke (Menyebutkan kotanya)"
"Lah mendadak amat."
Haris pergi begitu saja.
Haris terbangun dari lamunannya, karena Rania menepuk bahu nya. Rania takut kalo Haris nanti kerasukan mahluk halus kalo bengong lama-lama.
"Ngagetin aja."
"Mas mikirin apa? Lama banget ngelamun nya." Rania mendekatkan wajahnya pada Haris.
Haris mengernyitkan alisnya.
"Kamu mau nyium aku ya." Haris teriak
__ADS_1
"Apaan sih. Nih mas sampe keluar liur tadi bengongnya." Rania meraih tisu di meja lalu mengusap pipi Haris dengan lembut..
Mohon Like, koment dan tambahkan ke favorit kalian ya dear. Terimakasih