
"Kamu masak apa aja? Banyak banget," Diki yang tiba-tiba berdiri di samping Rania membuat Rania tersontak kaget.
"Kaget tau!" mencubit kecil pinggang Diki. Diki memamerkan lesung indah di pipinya." "Nantikan mama sama papa mau kesini, aku masak lumayan banyak," kata Rania
"Oh, emm yang aku udah lapar."
"Manja banget sih, ya udah aku ambil piring dulu ya."
Pagi menjelang siang itu, menjadi momen pertama yang sangat menyenangkan bagi Rania dan Diki.Meskipun biasa makan berdua, tapi pagi ini berbeda,serasa anugrah bagi Rania bisa hidup dengan lelaki yang dicintainya.
Hingga keduanya selesai sarapan, Rania beranjak membenahi piring dan gelas yang kotor. Diki masih menduduki kursi di ruang makan, mengamati lekuk tubuh Rania, dan pikiran nakal mulai berlarian disana.
"Kenapa senyum begitu?" rajuk Rania yang mendapati Diki tengah melihatnya hingga tidak berkedip.
"Emang nggak boleh lihatin istri sendiri?" guraunya membuat Rania salah tingkah.
"Emm boleh nggak ya?"
"Nggak boleh, aku paksa."
"Jangan, aku lelah Diki."
"Muncul deh manjanya."
"Ke kamar yuk?"
"Aku mau nyuci piring"
"Udah nanti aja."
Tawar menawar mereka berhenti setelah Diki menggandeng tangan Rania lalu menuntunnya ke kamar atas.
"Jangan lagi,aku lelah," rengek Rania.
"Enggak, aku mau kamu manja disini , janji gak ingin." Diki menepuk dadanya dan mengacungkan jari kelingkingnya di depan Rania.
"Janji ya?" Rania mengangkat jari kelingkingnya juga.
__ADS_1
"Janji," sekarang jari kelingking merek saling terpaut. Dan tak lama kemudian melepaskannya lagi.
Diki meraih kepala Rania lalu menyandarkan nya pada dada bidang Diki, "Aku mau cerita soal mama," ucapnya kemudian.
"Mama kenapa?" Rania menatap ke atas wajah Diki.
"Nanti kalau mama gimana-gimana sama kamu, jangan di ambil hati ya?"
"Gimana-gimana? Maksudnya?"
"Yaahhh, awal kita kenalan kemudian menjalin hubungan lalu ada rencana mau menikah, sebenarnya mama menentangku. Dia nggak mau aku menikah sama kamu, tapi aku kekeh mau lanjut soalnya papa mendukung. Takutnya nanti dan seterusnya mama bakal gak suka sama kamu, tolong maklumin ya."
"Tapi mama baik sama aku."
"Kalaupun baik, mungkin hanya di depan aku dan papa."
"Benar, saat kita tunangan, bahkan mama menarik rambutku dan mengancamku." Batin Rania, wajahnya tertunduk sambil memainkan jari jemari Diki.
"Aku tau, kamu bohong sayang, aku melihat mama menarik rambutmu di depan kamar mandi." Batin Diki, mengingat perlakuan mamanya waktu acara tunangan bulan lalu.
"Tenang saja, aku pasti akan maklum. Dari kecil aku kehilangan sosok ayah dan ibu, aku janji akan sayang dengan mama dan papa."
Diki tersenyum, mengecup ujung kepala Rania.
"Yang terpenting itu kamu selalu ada buat aku, selalu cinta, dan selalu memberikan kasih sayang," ucap Rania lagi, sambil masih memainkan jari-jari tangan Diki.
"Tentu."
FLASHBACK ON ____
Kejadian bulan lalu, saat keluarga Diki datang, mama, papa, dan kedua adik nya datang ke rumah Rania. Mereka berniat untuk melamar sekaligus memberikan cincin tunangan pada Rania.
Saat pertama kali mendatangi rumah Rania, mama Diki terlihat jijik dan enggan masuk ke rumah kecil itu. Tapi papa Diki sudah melotot kan matanya agar istrinya tidak bertindak memalukan.
Saat itu juga, Fani dan Sabila menggandeng tangan mamanya. Mereka bertiga berwajah kesal, kenapa kakaknya yang ganteng dan hebat itu bisa mencintai gadis miskin seperti Rania.
__ADS_1
Kedatangan Keluarga diki di sambut hangat oleh Keluarga om nya, ada Livi dan Candra juga. Mereka duduk di ruang keluarga di rumah Rania, kursinya hanya bisa di duduki oleh enam orang. Lima dari keluarga Diki, dan satunya om Faris. Sisanya duduk beralas tikar di sebelah kursi itu.
Mereka saling berbincang, dan memakan beberapa camilan yang Rania sediakan. Tapi calon mama dan calon kedua adik iparnya itu tampak tak suka. Wajah mereka sangat menyebalkan.
Hingga beberapa jam berlalu, Rania berpamitan ke kamar mandi. Melihat ada kesempatan untuk bicara, mamanya Diki langsung mengikuti, begitu juga dengan Fani dan Sabila.
Langsung saja mamanya Diki mencekal lengan Rania, Rania berhenti saat tepat di depan pintu kamar mandi.
"Ada apa tante?" sapa Rania ramah.
Wajah mereka bertiga sangat menyebalkan. Apa lagi si kecil Sabila yang juga sok-sokan membuat wajah marah.
"Jangan harap kamu bisa masuk ke keluarga kami. Diki itu berpendidikan, kaya, dan sukses. Kamu enak-enakan saja pengen ngambil dia dari kami," ucap mamanya Diki dengan lirih, namun menusuk relung kalbu.
Merasa ada yang tidak beres, Diki ikut pergi ke kamar mandi.Dia penasaran apa yang di lakukan mamanya.
Diki melihat perlakuan mamanya pada Rania dari balik lemari kecil di ujung ruang dapur.
"Maaf tante, aku tidak seperti ... Aahh?!" Rambutnya di tarik oleh calon mertuanya, Rania meringis kesakitan. Fani dan Sabila ikut tertawa melihat itu.
"Terima saja lamaran Diki, tapi jangan harap bisa hidup bahagia dengannya!" ucapnya kemudian.
Mereka bertiga pergi begitu saja setelah mengucapkan ancaman untuk Rania. Rania terisak sendirian di kamar mandi agak lama.
Diki langsung berlari kecil menuju ruang tamu, dan sudah menaruh kesal pada mamanya sendiri.
Hingga hari menjelang sore, keluarga Diki pamit pulang setelah membicarakan niat kedatangannya hari itu. Diki menatap Rania sedih dari balik kaca mobil yang perlahan berlalu pergi.
"Aku harap kamu tidak berubah pikiran untuk menikah denganku Rania, maafkan mama." Batin Diki saat mobilnya sudah menjauh dari rumah Rania.
__ADS_1
FLASHBACK OFF_____