
Pagi itu dirumah Liviana.
Semenjak kepulangannya dari rumah sakit empat hari yang lalu, Livi bedrest. Tidak ada kegiatan apapun yang dia lakukan dirumah. Kecuali menciumi aroma tubuh Candra.
Terpaksa Candra pun ijin tidak mengajar untuk seminggu kedepan. Livi jadi sangat cengeng dan manja. Tidak seperti nyidamnya kebanyakan Ibu yang lain yang ingin makan ini, makan itu, pergi kesana, main kesini.
Nyidamnya Livi itu, menciumi aroma tubuh suaminya. Sampai2 akan melakukan ibadah pun, Candra harus pandai2 nyiapin kata2 biar Rania tidak menangis.
Bukannya enak istirahat dirumah, tidak mengajar. Malah badan terasa remuk semua, karena saat bersama Livi, Candra harus tidur telentang kemudian Livi sembunyi dibawah ketiaknya.
"Liv, abang ke kamar mandi sebentar. Kalau abang ngompol disini kasian dede bayi nanti kebauan. Ya?, " bujuk Candra dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
"Nanti aku mual nih kalau abang pergi. " rajuk Livi menarik kaos Candra.
"Sebentaaaaarr banget. Habis itu abang kesini lagi. "
Akhirnya Candra berhasil juga merayu Livi, "Sabar Candra, demi debay kembar. " Candra menyeka keringat di wajahnya. Merayu Livi, lebih menyusahkan dari pada mengajari anak2 batita menghafal huruf hijaiyah.
Dengan segera Candra menyelesaikan hajatnya didalam kamar mandi. Lalu buru2 mandi mumpung ada kesempatan. Setelah selesai, Candra kembali memeluk Livi yang sudah mulai cemberut.
"Abang mandi?, " Livi menciumi kaos yang dipakai Candra.
"Iya. Maaf ya, kamu nggak suka?. "
"Suka. Wangi. Aku juga pengen mandi. "
"Ya sudah, abang bantu sini. "
Akhirnya, setelah dua hari Livi tidak ada daya untuk bangun dari rebahan nya, kini dia mulai ingin bangun. Ingin mandi.
Candra membantunya berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian sudah selesai. Livi merasakan segar disekujur tubuhnya . Lalu dengan pelan, Candra memakaikan baju untuk Livi.
__ADS_1
Setelahnya, Livi juga minta makan tapi ingin masakan Candra. Candra merasa sangat senang, dia begitu mencintai Livi sehingga rasanya tidak tega satu minggu kemarin melihatnya berbaring tanpa makan apapun.
"Abang akan buatkan, tapi kamu tunggu disini. Tidak usah ikut kebawah. "
"Mau ikut. " rengeknya lagi.
"Nanti capek jalannya, kasian debay ya?, " lagi2 debay nih yang jadi alasannya.
Livi pun mengangguk, Candra segera turun dari kamar.
Memasak sup karena memang ada bahan2nya. Lalu menggoreng sosis kesukaannya, dan seiring berjalannya waktu, sosis juga menjadi makanan favorit Livi.
Candra membawakan makanan yang sudah siap ke kamar atas. Sesampainya dikamar Livi sudah tertidur. Candra bingung sendiri, dibangunin takut salah, dibiarin nanti makanannya dingin.
Akhirnya Candra membangunkan Livi dengan sangat pelan, Livi tidak bergeming. Diangkatnya kepala Livi ke pangkuannya, Livi juga masih tidur. Candra pun membiarkan Livi tidur, sepertinya sangat nyenyak.
Mau bagaimanapun tingkah kamu saat ini, bahkan sampai membuatku kehabisan nafas pun asal aku masih bisa menuruti, akan aku turuti semuanya sayang. Kamu calon Ibu terbaik, kamu istri yang sangat baik. Aku ikuti apapun kemauanmu sebagai tanda terimakasih ku telah mau merasakan semua ini untuk buah hati kita.
Tanpa sadar airmata Candra terjatuh tepat diwajah Livi, Livi pun mengerjapkan matanya, memandangi wajah Candra diatasnya.
"E ah enggak papa, kamu terganggu ya? maaf ya, " Candra dengan cepat mengusap airmata nya.
"Mana masakannya? Livi lapar. "
"Itu, duduk dulu ya abang suapi makannya. " Candra membantu Livi untuk duduk, bersandar di tumpukan bantal.
Dengan penuh kesabaran, Candra menyuapi Livi meskipun beberapa kali Livi ingin memuntahkan makanannya. Candra memaklumi itulah konsekuensi menjadi suami yang harus ekstra sabar ketika istrinya hamil.
Epilog pertemuan Rania dan haris.
Saat sampai tepat didepan motor yang dimaksud Yura. Haris dan juga Rania saling tatap. Dunia berubah menjadi tanah lapang yang sangat luas, hanya ada mereka disana yang saling memandang melebur rasa rindu diantara keduanya.
Sampai beberapa menit mereka masih saling tatap hingga tidak berkedip. Sampai2 lupa ada dua manusia lain di dekat mereka.
__ADS_1
Yura yang sedari tadi memperhatikan mereka malah ikut melongo.Apri kemudian menyimpan ponselnya disaku dan melihat keluar kaca mobil.
Apri pun ikut membelalakkan matanya.
"Inikah takdir.... " ucap Apri, tidak percaya bisa melihat Rania lagi.
"Aku tidak percaya ini.... " ucap Haris kemudian, dengan mata tak berkedip.
"Apa sih yang kalian bicarakan. Seperti melihat bidadari saja. Eh memang si Rania cantik. plak plak. " Yura memukul pundak Haris dan Apri yang masih mematung.
Keduanya langsung mengerjapkan mata, Rania pun ikut terbangun dari mimpi siang bolongnya.
"Ehem." Haris berdehem menghilangkan kegugupan di dirinya .
"Rania, kenalin ini kak Haris, teman yang aku ceritain kemarin. Ini kak Apri, teman ku juga . kak Haris, kak Apri kenalin ini teman baruku.Rania." Ucap Yura lugas memperkenalkan Rania kepada Haris dan Apri.
"Di di di..... " Rania ingin bicara tapi segera diputus oleh Yura.
"Udah kenalin, nih dia kak Haris, kak Haris ini Rania. " Yura dengan cepat menarik tangan Rania dan Haris kemudian menyatukan tangan mereka untuk bersalaman . Apri yang duduk dibelakang hanya melongo saja.
"Ha haaaris... " ucap Haris terbata bata.
"Ran nia.. " balas Rania sangat pelan .
Lalu mereka menarik tangan masing2, tanpa ekspresi apapun .
"Hus woi, kak Apri!! kak!!! kak Apri iiii iiii iiii!!!!!! . Yura berteriak sangat kencang tepat ditelinga Apri, karena dipanggil2 tidak menyaut. Sekalinya menjawab ikut berteriak. " Wooiiiiiiiiiii bagaimana bisa kalian bertemu disini???? Kalian ini pasangan sejati atau apa??? bisa2nya kalian bertemu lagi setelah perpisahan menyakitkan itu?!!!!! Yura, jelaskan???!!!!. "
Mengheningkan cipta sebentar.
"Apa yang terjadi???????? " Yura gemas sekali dengan keadaan saat ini. Apa yang dimaksud Apri?.
Semuanya terdiam lagi. Haris tidak bisa melepaskan pandangannya dari Rania.Rania menunduk, menahan air mata yang sudah diujung pelupuk.Apri bengong lagi sampai sulit untuk menelan ludahnya dan hampir menetes. Sedangkan Yura terlihat gemas, bingung. Tidak tau apa yang sedang terjadi saat itu.
__ADS_1
"Yura, jelaskan. Mengapa Rania bisa ada dikota ini?? Mengapa Rania bertemu Haris lagi???. " Apri masih tidak bisa percaya, ini Rania gadis desa itu atau Rania lain.