Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Pasar malam


__ADS_3

Sepulangnya bekerja, Yura mencegat Rania yang hendak melajukan motornya. Dengan candaan konyol, Yura meloncat -loncat mendekati motor Rania.


"Tunggu.. " seru Yura mendekat.


"Apa si hany? , yuk lah pulang. Jangan ngajak aku boros lagi. " Rania tetap berada diatas motornya.


"Emmm, untuk malam ini saja.... " Yura menggoda Rania dengan wajah imutnya.


"Mau apa lagi hany ku?. " Rania pun ikut lebay.


"Di alun2 kota, pasar malamnya udah buka loh. Main yuk.. "


"Tuh kan, enggak ah, gaji ku bulan ini sudah ludes buat pergi kemarin malam sama kalian. "


"Pliiiisssss... "


Sumpah wajah kamu imut banget, bikin aku nggak bisa nolak tau. Batin Rania.


"Ya? ya?. " mengedipkan matanya berkali - kali, menambah kesan lucu menurut Rania.


"Sekali aja. "


"Oke.Janji."


"Siap.Yaudah pulang dulu ya.. ngeng... " sudah menarik gas motornya.


"Eeiit tunggu, jahat banget si. " Yura pun segeran naik ke motornya, kemudian motor keduanya melaju beriringan.


Seperti biasanya, mereka pisah di pertigaan. Yura merasa sangat senang, karena berhasil mengajak Rania jalan2 lagi malam nanti.


Rania berharap dalam hati, semoga Yura mengajak Haris. Tidak bisa dipungkiri lagi, hati yang dulu pernah ia sisihkan untuk Haris telah kembali. Mulai terisi kembali dengan benih2 cinta setelah berbulan- bulan tak berpenghuni.


Sesampainya dirumah, Rania langsung mengajak adiknya untuk makan. Rania tau, meskipun usia Devi sudah bertambah tapi tetap dia adik kecil yang harus dia perhatikan.


Selama ini Devi selalu menahan rasa laparnya hingga Rania pulang kerja. Beberapa kali Rania menegur supaya Devi langsung makan saja setelah pulang sekolah, tapi jawabannya selalu sama, makan siang sendiri tidak enak mba, Devi lebih suka makan barengan sama mba.


Setelah beberapa bulan bekerja, Rania mulai bisa membiayai sekolah Devi dengan uangnya sendiri. Meskipun om dan tantenya selalu melarang, tapi Rania diam2 pergi kesekolah Devi lalu membayar semua tagihan disekolahnya.


Selesai makan, Devi pergi ke kamarnya, sedangkan Rania duduk bersantai dibalkon kamar. Menikmati udara sore yang menyejukkan.


Setelah agak rileks, Rania pergi kekamar mandi. Dibawah guyuran shower dia membersihkan dirinya. Dan merasakan tubuhnya begitu segar.


Tak berapa lama kemudian Rania selesai mandi, dia memainkan ponselnya membuka sosial media.

__ADS_1


Tiba2 ada chat dari Haris.


"Nanti, aku jemput ya.. "


"Mau kemana?. "


"PM."


"Lah nanti aku mau pergi sama Yura, dia mengajakku tadi. "


"Yaudah berarti besok saja sama akunya. "


"Kenapa nggak sekalian nanti malam?. "


"Pengennya sama kamu aja. " Rania merona membaca pesan Haris.


"Ris."


"Kita tidak mungkin bisa bersama. Sampai kapanpun. "


"Kenapa?. "


"Karena aku janda. "


"Aku sudah pernah ***** sama Diki. "


"Lalu kenapa?. "


"Bukannya kamu jijik?. "


"Berapa kali lagi harus aku katakan? . Kita sudah mengulang perkenalan kita, jadi untuk apa mengingat masa lalu?. "


"Terimakasih, maafkan aku pernah meninggalkanmu. "


"Jangan dibahas lagi. "


"Sedang apa Devi?. "


"Belajar.Sudah dulu ya, aku pengen istirahat sebentar. Kamu beneran nggak mau ikut?. "


"Enggak.Istirahatlah, pulangnya jangan malam2 banget nanti. "


Rania tersenyum, wajahnya sangat merona menerima perhatian dari Haris, meskipun terkadang dia malu dengan statusnya yang janda tapi Haris selalu membantu membuang perasaan itu.

__ADS_1


Bisakah aku menaruh hati padamu lagi sekarang???


Jam menunjukkan pukul 19 .00 malam, Devi menepuk pelan punggung Rania karena Yura sudah menunggunya diluar.


Rania terperanjat, saking nyenyak nya tidur sorenya itu.


"Dek, mbak pergi sebentar boleh? Devi bisa bobo sendiri kan?. " rayuan maut khas Rania.


"Iya. Mba lupa ya Devi kan sudah besar. " ucap Devi dengan bangga.


"Hehe Iya Iya. Kak Yura nunggu diluar ya dek?. "


"Iya."


"Ya sudah, mba siap2 dulu. "


Beberapa menit kemudian Rania siap dengan penampilan sederhananya, hanya mengenakan kaos dan kardigan dan celana jeans panjang.


Semenjak berteman dengan Yura, Rania lebih sering mengikat rambutnya tinggi, menurutnya itu lucu. Yura dan Rania terlihat seperti gadis kembar. Tapi bedanya Yura lebih tinggian dikit.


"Yuk."


"Sudah siap? . " Rania mengangguk, tanpa aba2 terus naik membonceng Yura. Motor pun melaju sedang.


"Emmmm dingin juga ya.. " Yura bergidik kedinginan.


"Iya nih, kamu hangat dong pakai jaket. " Dibelakangnya, Rania mengatupkan tangannya dan meniupnya.


"Bentar lagi sampai kok. "


"Aaaaa??. " Rania menjerit saat tiba2 Yura menarik gas motornya dengan kencang. Reflek memeluk perut Yura.


"Woah itu kelihatan Ra. "


"Iya.... sudah deket. "


Yura dan Rania tertawa, tak sabar ingin segera sampai.


Dan sampailah mereka di keramaian itu. Setelah memarkirkan motornya, Yura dan Rania berjalan menuju pembelian karcis masuk kemudian dengat tawa lepasnya mereka berlarian.


"Eh naik itu yuk?. " Yura menunjuk kora-kora yang berada di tengah-tengah kerumunan manusia.


"Jangan, aku belum pernah naik. " Rania memegang erat lengan Yura.

__ADS_1


"Ya makanya ayo naik. " Langsung saja Yura menyeret tangan Rania ke wahana ekstrim itu. Meskipun ramai tapi ternyata tidak terlalu mengantri, mereka hanya menonton saja.


__ADS_2