
Rania menatap Yura dengan khawatir, Yura sendiri bingung karena merasa ada yang dirahasiakan oleh Rania. Tapi Yura tidak terlalu memaksa Rania, mungkin masa lalu kelam telah membuatnya trauma dan ingin menutupi semuanya.
"Ya sudah Rania, lepasin tu kasihan Devi. Kalau tidak boleh tau ya sudah, aku tidak memaksa kok. " Senyum Yura membuat Rania merasa lega. Akhirnya Devi dilepaskan.
"Mba ini, Devi kaget tau. " Rajuk Devi.
"Hehe maaf deh, maaf ya?. "
Devi mengangguk, "Mba ini permen kapas nya sudah Devi makan setengah, ini buat Mba. "
"Buat Devi aja semuanya. " jawab Rania, lalu Rania duduk di lantai yang beralaskan karpet bulu2.
"Makasih, eemmm Devi suka banget. "
Rania dan Yura tersenyum.
"Yura, maaf bukannya aku tidak mau cerita soal hubungan asmara ku. Aku tidak pernah pacaran Yura, sungguh. "
"Iya, ngapain si serius banget. Biasa aja kali. " Yura tertawa melihat wajah khawatir Rania.
"Kamu nggak marah dong ya?. "
"Enggak lah, ngapain marah. Ran, menurut kamu nih ya, Haris ganteng nggak? Trus menurut kamu sifatnya bagaimana?. "
GLEK! Rania menelan ludahnya sendiri terasa susah.
"Iya tampan, baik juga, kan lebih tau kamu Yura. Kalian sudah kenal lama kan. " Wajah Rania pucat pasi, melirik Devi. Bagaimana kalau adiknya itu ikutan bicara soal Haris.
"Kak Haris? mana kak Haris???. " Devi langsung menoleh kearah Yura dan Rania.
__ADS_1
"Emangnya Devi kenal?. "
"Enggak lah mana mungkin, Haris yang Devi kenal itu dulu temen dari tempat asalku. " Rania menjawab sebelum Devi bilang macam-macam.
"Iya, kak Haris yang Devi kenal juga ganteng banget, baik, sayang sama Devi juga. Sayangnya Mba si malah ninggalin kak Haris. " Ucap Devi panjang kali lebar dengan wajah polosnya. Rania dan Yura saling tatap.
Bersamaan dengan rasa penasaran Yura, Rania menyesali perkataannya sudah mengajak Yura mampir. Dan sekarang bagaimana caranya menyuruh Yura pulang, agar masa lalunya tidak terkuak melalui Devi.
"Rania????. " Tatapan Yura penuh tanda tanya.
"Dia tunanganku dulu, Iya, tapi nggak jadi nikah karena dia dijodohin sama papanya. " Jawab Rania dengan sangat gugup.
"Oh begitu. " Yura mengangguk, namun masih menyimpan kecurigaan. Mengingat dulu Haris pernah bilang dia mencintai seorang gadis tapi cintanya pupus karena papa menjodohkannya.
"Yura? , kapan kamu akan mengungkapkan perasaanmu sama mas, eh sama Haris?. " Rania menundukkan wajahnya karena sekarang sangat panik.
"Hah?? . "
"Aku? gimana bilangnya??. "
"Yaaaa bilang aja kalau sepertinya Yura mencintai kamu, gitu?. "
Rania membulatkan matanya, antara panik dan sakit menyatu dalam hatinya. Yura yang tak tau apa-apa tentang perasaan Rania, asyik saja sambil sesekali memasukkan camilan kedalam mulutnya.
"Gimana? . " Yura menepuk paha Rania agak kencang.
"Aw, Iya aku bilang. "
"Sekarang ya? ya? lewat telfon? aku pengen banget denger, please . "
__ADS_1
Lagi-lagi mata Rania membulat, kalau dia menelfon Haris sekarang lalu Haris keceplosan dan Yura mendengar, pasti masalah akan menerpa persahabatan mereka.
"E e , Yura, sebaiknya aku bicarakan saja berdua dengan Haris ya? , biar ada banyak waktu. Lagian kan ini sudah mulai malam, nanti kamu tidak berani pulang. "
"Rania, aku mohon..... "
"Aku janji, sepulang kerja besok akan menemui Haris. Aku akan langsung bilang ke dia. Aku janji... "
"Emmm memangnya kenapa kalau sekarang?. " Pertanyaan Yura sangat memojokkan Rania.
"Yura,, nanti malam akan aku pikirkan kata-katanya, kalau asal takutnya nanti Haris salah paham. "
"Okedeh, kalau gitu aku pulang sekarang. Sudah malam juga. "
"E Iya, Yura maaf ya. Aku janji besok pasti bilang. "
"Iya Iya, ya sudah aku pulang. Devi... kak Yura pulang dulu ya. " Yura melambaikan tangannya sembari berjalan keluar. Rania mengantar sampai depan rumah, saat motor Yura mulai tak terlihat, Rania merasa bisa bernapas lagi.
"Ya Tuhan apa yang akan aku katakan pada Haris??. " Batin Rania.
Dia pun kembali masuk, mengambil kimono handuknya kemudian mandi. Mengguyur tubuhnya, terasa dingin. Lama Rania berdiri dibawah guyuran air shower nya, meratapi betapa merana kisah cintanya.
Luka hati yang perlahan mengering itu seakan membuka lagi dan semakin menambah sakit. Setelah Haris pergi, Rania mencoba mencintai Diki. Disaat mulai tulus mencintai Diki, ternyata cinta Diki hanyalah sebatas balas dendam. Rania mencoba sabar atas semua itu. Dan ketika ia mulai bahagia dengan dirinya sendiri, Haris tiba2 kembali, dengan pesona dirinya yang hebat ternyata mampu membuka hati Rania lagi. Kemudian Rania mulai berharap lagi, tapi nyatanya sekarang dia harus menutup hatinya rapat-rapat untuk Haris demi Yura, sahabatnya.
Tubuh Rania terasa menggigil setelah dua puluh menit berada dibawah guyuran air, mungkin mulai saat itu Rania akan trauma berat tentang cinta.
Apakah aku tak pantas bahagia??? Hiks.
___Halo Hai Hai readers kesayangan ? jangan lupa pencet like dibawah, mencetnya pelan aja kok nggak akan bikin pegal . Hehe. Terimakasih banyak 🙏🙏🙏. ____
__ADS_1