Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Haris, suamiku


__ADS_3

"Sayang, tolong gendong key sebentar. Ini Rey pup aku mau ganti popoknya dulu!" seru Rania pada Haris yang tengah menikmati sepoi-sepoi angin sore di balkon kamar.


"Iya, utututu mana sini dede Keyla-nya ayah. Aduh kak Reyhan pup, bauk ya!" Rania melirik tingkah Haris yang lebih menggemaskan ketimbang bayi kembarnya itu.


"Jangan gitu dong ayah, ini juga udah di bersihin bunda," kata Rania membela Baby Reyhan.


"Hehe becanda dong Rey, maaf ya?" ujar Haris sembari menina bobo'kan Keyla.


"Udah bersih. Udah wangi. Udah taruh sini baby Reyhan. Biar mereka main berdua," kemudian Haris mendudukkan Rey di sebelah key. Bayi 7 bulan itu terlihat gemuk menggemaskan.


"Mau kemana?" Haris menahan lengan Rania yang hendak melangkah.


"Ke bawah. Sayang lepasin tu di lihatin baby," tungkas Rania mencubit pinggang Haris karena memeluknya dari belakang.


"Aku ingin. Sejak mengurus Key dan Rey kamu jarang memanjakanku." Haris menyandarkan kepalanya di pundak Rania dan mencium tengkuknya hingga Rania terasa merinding.


"Sayang__" lenguh Rania.


"Di bawah?" Haris merayunya.


"Enggak nanti baby kita jatuh." Melirik bayi kembarnya yang sedang berdiam memandang ayah bundanya.


"Kenapa si kamu gak pernah setuju aku ambil baby sitter?"


"Lebih baik kan aku yang jaga, aku bisa kok, aku kuat."


"Ya udah, makasih ya sayang kamu sudah merawat mereka dengan baik."


Rania mengangguk, Haris membalikkan badan Rania, mereka berhadapan. Saling mendekap hingga Rania merasakan pusaka Haris yang menonjol.


"Nanti malam? Aku janji__" kata Rania memohon agar tidak melakukan hubungan di siang bolong seperti itu.

__ADS_1


"Oke. Tapi sampai aku puas!"


"Sampai kamu puas!" balas Rania.


Haris terlihat senang, menciumi Rania bertubi tubi dan tanpa sadar si kembar ikut tertawa melihat mereka, "Udah mas, malu."


Sore yang indah. Rania dan Haris kemudian duduk di samping ranjang baby Key dan Rey. Sesekali Haris menggelitik mereka karena ketagihan dengan tawa si kembar yang membuat hatinya bahagia.


"Kakak? Hai baby Reyhan, hay baby Keyla?" sapa seorang gadis cantik mendekat ke ranjang baby twins.


"Eeeee, jangan langsung sentuh mereka!" cegah Rania pada gadis cantik yang baru pulang kuliah. Ya dia Devi, sudah tumbuh menjadi gadis cantik, pintar dan membanggakan.


"Ih mba pelit. Aku kangen tau," rajuknya sembari salim dengan Rania dan Haris.


"Tapi cuci tangan dulu gih, baru boleh megang baby," Rania tersenyum, tak berubah kasih sayangnya walaupun Devi sekarang sudah remaja. Masih saja lembut kepadanya.


"Iya deh, kak minta uang. Nanti malam Devi mau ke pesta temen."


"Nggak nyangka ya Devi sudah tumbuh jadi remaja yang cantik, tapi istriku ini tetap yang paling cantik." Haris meraih dagu Rania, lalu ******* bibirnya. Hingga di kejutkan dengan kedatangan Devi.


"Dih pilih-pilih tempat dong kalau mau begituan, Devi 'kan malu lihatnya!" Devi tetap cerewet seperti 11 tahun yang lalu. Pipi Rania merona menahan malu.


"Hay kembar? Duh tante kangen nih. Sini sini tante gendong, siapa dulu yang mau di gendong?" Devi mendekat ke ranjang Key dan Rey.


"Devi mereka kan bayi, kok kamu tawarin begitu?" Rania dan Haris tergelak.


"Biarin, ah pasti Keyla dulu ya. Duh endut banget si." Devi mengangkat Keyla dan menggendongnya. Tiba-tiba Reyhan menangis, cemburu mungkin ingin di gendong juga.


"Sini Reyhan sama ayah. Tante nakal ya, iya? Sini sama ayah aja ya!" Haris mengangkat Reyhan, lalu mereka turun.


"Ya udah karena udah ada yang jagain, bunda masak dulu. Titip ya Dev!" ucap Rania mengerlingkan matanya pada Devi.

__ADS_1


"Siap. Sayang Keyla, eh kak berat siapa si Keyla sama Reyhan?"


"Ya sama lah, mereka 'kan kembar," jawab Haris.


Rania tersenyum dari kejauhan, sangat bersyukur sekarang hidupnya sebahagia ini.


Livi menatap Rania dengan heran, kenapa si Rania senyum-senyum begitu. Batinnya.


"Eh bangun, Ran, Ran, bangun!" Livi mengguncangkan tubuh Rania.


"Eeemmh, mas aku capek banget. Bentar lagi ya?" di mimpinya, Rania tengah tidur lalu Haris membangunkannya menagih janji sore tadi.


"Hahahahah." Livi tergelak keras sekali. Hingga Rania terkejut lalu bangun.


"Mana baby? Rey? Key? Maaf bunda ketidu__ "


"Hahahahha." Livi tak habis pikir, mimpi apa sepupunya itu.


"Eh mba Livi!" nyengir, malunya. Pengen deh nguburin diri di dalam tanah.


"Kamu mimpi apa? Asyik banget!" Livi ketawa sampai kaku perutnya.


"Nggak ada. Aku pengen ke kamar mandi. Bentar ya mba." Berlari terbirit-birit saking malunya.


"Eh Rania? Kamu harus cerita nanti. Hahahahaha . Aduh aduh perutku, ah baby? Maaf ya. Aduh jangan tegang sayang," Livi tertawa sampai perutnya bergetar dan membuat perutnya kram lagi.


Rania menatap wajah nya yang merah padam dicermin kamar mandi.


Rania apa yang kamu pikirkan hingga bermimpi seindah itu? Kenapa juga sampai mengigau? Membuatku malu saja. Aaaa apa yang akan aku katakan ke Mba Livi nanti???? Aku maluuuuuuu ....


Teriak Rania dalam hatinya.

__ADS_1


___kenapa like nya tiap hari makin menurun ya? Kurang bagaimana ceritanya ya readers? Butuh kritik dan saran biar aku bisa bikin cerita yang lebih seru. Terimakasih buat yang udah dukung selama ini.Di tunggu jejak like dan komentnya ya. Salam sayang dariku IkkaFahrie. __


__ADS_2