Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Bertemu mertua 3


__ADS_3

Haris melihat jam di tangannya.


Pukul 09.00 WIB.


"Ran, bawa barang seperlunya saja. Kita berangkat sekarang!" perintah Haris.


"Devi kan belum pulang mas."


"Kita jemput dia."


"Aku ambil tas dulu ya?"


Haris hanya mengangguk.


Tak lama kemudian Rania keluar dari kamarnya, lagi-lagi Haris terpesona melihat penampilan Rania dengan make up ringan di wajahnya, menambah kesan imut untuk dirinya.


"Kamu udah siap?" berdiri mendekati Rania.


"Sudah, aku juga membawa sedikit makanan siapa tau nanti lapar di jalan," menenteng tas kecil di tangan kiri dan tas baju di tangan kanan.


"Sini aku bawain," tersenyum sambil meraih tas baju Rania.


"Kalo bukan gadis lugu, mana ada sekarang orang yang bepergian membawa bekal." Haris tertawa kecil.


Mereka keluar rumah, mengunci pintu lalu berangkat menuju sekolah Devi.


Tak ada obrolan di perjalanan mereka, hanya sesekali Rania menunjukan jika ada jalan yang bercabang.


Sekolah Devi tak terlalu jauh dari rumah. Makanya Devi dan beberapa teman lainnya selalu berjalan kaki.


Tak lama kemudian sampailah Haris dan Rania di sekolahan Devi.


"Aku jemput Devi dulu ya mas," ucap Rania sambil membuka pintu mobil.


"Ya. Aku tunggu di ujung jalan sana ya. Di sini terlalu sempit," ucap Haris sambil menunjuk tanah lapang di sebrang sekolah.


Rania mengangguk. Lalu masuk mencari kelas Devi.


Ruang kelas satu berada dipaling dekat dengan gerbang masuk sekolahan. Rania melebarkan pandangannya pada anak-anak yang berlarian, karena sekarang tepat jam istirahat.


"Mba Rani?" sapa Devi dari belakang.


"Devi, mengagetkan saja," mengelus pipi Devi.


"Mba mau ke mana kok cantik banget?" rayu nya.

__ADS_1


"Hari ini kak Haris mau ngajakin kita jalan-jalan."


"Wah asyik jalan-jalan lagi." Devi teriak kegirangan. Menoleh ke kanan kiri.


"Kak Haris nya mana?"


"Ada di depan sekolah. Mba ijin ke guru kamu dulu ya?" Devi mengangguk lalu pergi ke kelas mengambil tas nya.


Rania masuk ke ruangan guru, meminta ijin untuk Devi pada guru kelasnya. Sebentar saja urusan selesai.


Rania menggandeng Devi menuju mobil Haris.


"Itu kak Haris." Devi tersenyum senang melihat Haris yang sedang berdiri di dekat mobilnya.


"Cantik..." ucap Haris saat Rania dan Devi mendekat.


"Kak Haris." Devi langsung memeluk Haris.


Haris berjongkok membalas pelukan Devi.


"Kita jalan-jalan lagi yuk, Devi mau kan?"


"Mau, kita ke tempat bermain kemarin ya kak," girangnya.


"Kita mau jalan jauh banget. Ke rumah kak Haris. Mau kan sayang?"


"Ya udah berangkat yuk!"


Haris menyalakan mesin mobil.


Mobil melaju perlahan.


Melewati kafe tempat Rania kerja. Terlihat Novi di depan kafe sepertinya sedang melayani pelanggan. Rania hanya tersenyum.


Hanya dua puluh menit dari sekolah Devi, mobil Haris berhenti di sebuah rumah besar.


"Katanya jauh, ternyata cuma di sini rumah kak Haris." Devi tertawa kecil.


"Disini 'kan kak Haris menginap, sebentar ya kakak panggil kak Apri dulu." Turun dari mobilnya.


Haris memanggil Apri.


Mereka langsung pergi karena memang biaya selama mereka menginap sudah di bereskan Apri tadi.


Devi tambah senang ketika melihat Apri. Baginya Apri itu lucu, gendut seperti dirinya.

__ADS_1


"Kak Apri?" menoleh pada kaca mobil.


"Eh cantik," tersenyum lebar.


Mobil melaju pelan, kali ini Apri yang menyetir nya.


Perjalanan sangat menyenangkan, mereka saling bercerita tapi Apri yang paling banyak ceritanya, lucu-lucu lagi tentang nembak cewek tapi ditolak dan banyak banget yang Apri ceritain. Mereka tertawa lepas.


Hingga setengah perjalanan, Devi mengantuk, tertidur di pangkuan Rania.


Haris menoleh, melihat kakak beradik yang sudah tertidur.


"Aku pindah belakang ya?" Haris masih memandang Rania.


"Jangan cari-cari kesempatan ya, noh ada Devi juga di belakang." protes Apri.


"Nanti Rania bisa terbentur kalo gak di jagain."


"Gak akan , Rania juga pasti udah jaga-jaga kalo nanti mau jatuh. Alesan kamu aja tu,"


gerutunya Apri.


Haris hanya bernafas keras. Melihat ke depan lagi.


Melamun. Memikirkan apa yang akan di katakan papanya nanti pada Rania.


Ponsel Apri berdering. Apri memasangkan headset di telinganya.


"Apri?" suara perempuan seperti memecahkan gendang telinga Apri. Bahkan Haris pun bisa mendengarnya. Apri memejamkan mata saking kagetnya.


"Huh Livia. Biasa aja kenapa? Nih telingaku mau pecah rasanya."


"Ehehe maaf. Kamu dimana?"


"Di jalan, Kamu gak kuliah?"


"Mau kemana? Enggak."


"Mau ke kota, gimana kabar kamu?" sok perhatian.


"Oo mau pulang. Baiklah. Haris pulang juga?"


"Hmm, iya. Liv, Rania ikut juga lo. Hari ini Haris mau ngenalin dia ke orang tuanya."


"Yang bener? Wah bentar lagi nikah dong mereka."

__ADS_1


"He.em . Kemungkinan kita bisa ketemu lagi di pernikahan mereka kan?" Apri tertawa kecil.


Semakin asyik aja mereka ngobrol dari hal biasa sampe hal paling konyol. Haris hanya menyenderkan kepalanya. Terlihat sangat bosan mendengar obrolan Apri yang nyeleneh kemana mana..


__ADS_2