Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Morning kiss


__ADS_3

Rania membalikkan badan mendengar ancaman suaminya. Dengan tatapan mata yang mulai memerah, Rania menguatkan diri tegar di depan adiknya.


"Aku pikir kamu lelaki yang lembut, yang percaya aku, yang mencintai aku, ternyata kamu sama saja dengan kebanyakan laki-laki lain yang mencampakkan wanita," ucap Rania tegas, Diki masih dengan wajah marahnya.


"Tinggallah. Aku minta maaf." Pergi begitu saja setelah apa yang dia lakukan, lalu minta maaf dan pergi. Padahal ya ... wanita jika sedang marah, inginnya dirayu dan diperhatiin. Betul apa betul.


Rania memandang tubuh belakang Diki yang berjalan menaiki tangga. Memandang dengan tatapan nanar, pikir-pikir juga masa iya semalam ini mau pergi. Jarak rumah itu ke rumahnya paling tidak ditempuh 20 menit jika menggunakan kendaraan itupun kalau ngebut.


Lebih-lebih memikirkan anak kecil (Meskipun badannya gendut ya, dia tetap anak kecil) di gendongannya. Apa tidak terlalu beresiko jika pergi sekarang.


Akhirnya Rania membuka hatinya lebar-lebar. Menarik nafas lama lalu mengeluarkannya lagi dengan pelan. Diki menoleh lagi saat sampai di ujung tangga. Masih dengan ekspresi yang sama.


"Mba, takut," cicit Devi semakin kencang saja melingkarkan tangannya di leher Rania.


"Nggak papa sayang, kita ke kamar lagi ya, besok saja pulang ke rumah kitanya." Rania mencoba tenang merayu Devi. Seumur umur Devi baru melihat orang dewasa bertengkar, makanya sampai setakut ini.


Berjalan dengan pelan, menaiki anak tangga sambil menggendong Devi. Sebenarnya ini menyiksa pernafasan nya tapi Rania tidak mau membuat Devi semakin khawatir.


Sampai di atas Rania melirik pintu kamarnya yang tertutup dan berjalan melewatinya menuju kamar Devi.Devi turun dari punggung Rania. Mereka menaiki ranjang kemudian menarik selimut dan tidur saling peluk.


"Devi senang bisa tidur bareng mba lagi," batin Devi.


"Maafkan mba yang tidak menjaga mulut dan akhirnya menakutimu sayang," batin Rania juga.


Merasa nyaman, dan kelelahan juga Devi pun cepat tertidur. Terdengar nafas yang teratur dari hidung Devi.


Rania mengendurkan pelukannya.


Menatap pipi bakpao dan rambut ikal yang lucu itu. Rania mulai terisak.

__ADS_1


Pernikahan yang diharapkan akan membuatnya bahagia malah cepat sekali pudar. Disaat dirinya mulai nyaman, dengan tega Diki berubah.


Perlahan kesadarannya hilang terbawa ke alam mimpi. Lagi-lagi tidur dengan deraian air mata.


"Hoaaammm," Rania meregangkan tangannya ke atas kepala dan kaget saat menyentuh sesuatu.


"Aaa Diki!" terkejut melihat dia ada di pelukan Diki sekarang.


"Jangan bergerak!" gumam-gumam masih dengan mata tertutup.


Rania melihat ponselnya dan jam menunjukkan pukul 02.30, "Semalam dia menggendong ku dari kamar Devi???" Bertanya- tanya bagaimana dia ada di kamar ini sekarang, "Tentunya dia menggendongku." tersenyum senang akhirnya Diki memaafkannya.


Tidak canggung-canggung lagi Rania memeluk Diki. Diki menggeliat, dan menurunkan tubuhnya. Diki menyembunyikan wajahnya di dada Rania.


Lagi-lagi tersenyum, begitu cepatnya melupakan kejadian beberapa jam lalu.


Tidak mau melewatkan pelukan yang di rindunya ini, Rania tetap terjaga hingga subuh.


Nyaman sekali memeluknya, melihat wajah teduhnya. Bolehkah waktu berhenti saat ini???


Masih saja mengusap usap rambut Diki. Sepertinya lelakinya ini habis potong rambut. Ehhmmm wangi sekali rambutnya ini. Berbunga bunga sendiri di hatinya.


Diki menggeliat lagi, mengeratkan pelukannya di pinggang Rania. Semakin dalam menyembunyikan wajahnya di dada Rania. Merasa geli Rania mendongakkan wajahnya lalu tertawa kecil.


"Sabar. Sebentar lagi urusanku selesai. Kamu hanya perlu bersabar," gumam Diki sangat pelan. Rania melebarkan senyum lagi, mungkin Diki akan menyelesaikan masalah perusahaannya kemudian kembali perhatian pada Rania.


Di cium berkali kali kening lelakinya. Sesekali mencium rambut depannya. Diki tidak bergeming. Hanya suara nafas yang tertekan yang terdengar darinya.


Hingga alarm berbunyi pukul 05.15 tapi Rania masih membiarkannya. Diki melepaskan pelukannya, lalu menyeret tubuhnya agak naik. Rania menatapnya dengan senyuman.

__ADS_1


Kini Rania yang di tenggelamkan di dada Diki. Merasa nyaman sekali. "Kamu mungkin bingung dengan sikapku.Tadi marah, sekarang sayang. Andai aku tidak terjerat oleh cinta lain, pastinya kamu akan jadi wanita paling bahagia di dunia ini. Tapi sayang, cinta untukmu tidak utuh." Diki merasakan seperti guratan kecil di hatinya.


Rania mencuri pandangan, tapi Diki memeluknya semakin erat. "Sa - yang , aku susah nafas," cicit Rania kemudian, Diki menunduk lalu tersenyum.


"Kamu gak mau bangun?"


"Enggak, mau seperti ini terus. Biar kamu gak berubah lagi."


"Nggak akan berubah. Aku lapar sayang." Diki bicara manja. Rania geli sekali mendengarnya.


"Aku bangun, lalu membuat sarapan dan mengurus Devi. Tapi janji jangan berubah?" hidung mereka menempel sekarang.


Diki mengangguk manja.


Seperti tidak iklas, Rania bangun dari ranjang, tangannya masih memegang erat jari jemari Diki.


"Udah sana!" perintah Diki, lalu Rania melepas pegangannya. Berjalan mundur tetap tersenyum hingga ujung pintu.


Tiba-tiba berlari mendekati ranjang.


CUP.


"Ciuman pagi untukmu." Diki kaget dan membulatkan matanya.


Rania berangsur mundur dengan wajah malu-malu yang merona.


Manja-manja pagi di jeda dulu untuk tugas penting tiap hari.


___Gimana readers? Kalian bosan atau tambah suka? Author harap sih tambah suka ya. Dan kalian tetap ngasih semangat buat author 😉 " ____

__ADS_1


__ADS_2