Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Masih sakit


__ADS_3

Haris terus berlari, hingga melihat satpam di depan pintu rumah sakit. Satpam yang melihat Haris membopong seseorang langsung sigap mengambilkan kursi roda.


Haris mendudukkan Rania di kursi roda itu.Dua orang perawat langsung membawa Rania ke ruang pemeriksaan.


Haris dan Apri menunggunya diluar kamar.


"Saya nggak papa'kan dok?" ucap Rania lirih setelah dokter memeriksanya.


"Nggak papa, Mba masuk angin biasa. Beristirahatlah, saya akan memberikan resep obat."


Seorang perawat yang mendampingi dokter yang memeriksa Rania keluar, memanggil Haris.


Haris masuk ke ruang pemeriksaan itu.


"Rania, Dok Rania bagaimana?" masih dengan wajah panik.


"Mba Rania tidak apa-apa, dia masuk angin dan butuh istirahat saja. Dua atau tiga hari juga pasti sudah membaik," jelas ibu dokter sambil tersenyum


"Ini resep obatnya, silahkan di tebus di ruang administrasi," dokter menyerahkan selembar kertas pada Haris. Haris mengambilnya.


Haris mendekati Rania, hendak membopong nya lagi.


Tapi Rania menolak....


"Mas aku bisa jalan sendiri..." menatap Haris.


"Tapi aku ingin menggendongmu lagi." Haris tersenyum kecil.


Rania menatapnya, lalu mengusap keringat yang menetes dipelipis Haris.


"Terimakasih mas." Rania tersenyum.


"Maafkan aku, semalam aku mengajakmu pergi hingga larut malam sampai kamu sakit seperti sekarang."


"Mungkin badanku saja yang sedang capek mas, ayo kita pulang."


Haris mengangguk, merangkul pundak Rania dan mereka berjalan menuju kasir rumah sakit.


Setelah itu mengambil obat Rania dan mereka pulang.


Di mobil, Apri berdehem melihat Rania yang menyandarkan kepalanya didada Haris.


"Kamu kenapa?" Haris ketus.


"Ada nyamuk disini," jawab Apri cengengesan.


"Nyamuk raksasa ya?" Haris ikut tersenyum.

__ADS_1


Rania yang mendengar dua sahabat bercanda itu ikut tersenyum kecil.


"Nyaman sekali bisa bersandar seperti ini. Bolehkah setiap hari aku meminta seperti ini Tuhan? Sakitku sekejap saja hilang." Rania tersenyum dan berkata dalam hatinya.


Haris memandang Rania yang terpejam, di sibakkan anak rambut yang menutup wajahnya. Haris tersenyum


"Tau begini aku lebih baik di penginapan saja tadi." Apri mengoceh sendiri.


"Kamu iri atau kenapa si. Cemburu ya?" Haris bicara lirih takut membangunkan Rania.


"Bukannya cemburu. Aku gak Terima dong aku jadi obat nyamukmu." Apri melihat Haris dan Rania dikaca spion.


Haris tak menanggapi.


"Kamu serius mau nikahin Rania?"


"Iya."


"Mendadak banget."


"Terserah aku dong lagian papa juga selalu menyuruhku menikah."


"Yah aku kesalip dong."


"Barengan aja. Siapa yang mau kamu ajak nikah?"


Haris terdiam lagi, memandangi gadis di sampingnya itu. Haris memeluk erat Rania, mengelus elus rambutnya dan sesekali menciumnya.


Mereka sampai di rumah Rania.


Apri turun dulu lalu membukakan pintu belakang. Haris membopong Rania yang masih tertidur.


Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba kaki Haris keseleo. Tubuh Haris terguncang, hampir saja terjatuh bersama Rania jika dia tidak menahan tubuhnya dengan kuat.


Rania terkejut lalu membuka matanya.


"Eee Rani, maaf maaf tadi kaki ku keseleo." Haris dan Rania saling tatap.


"Aku mau turun saja mas."


"Ini udah sampai kok."


Apri membuka pintu rumah Rania, mereka masuk. Haris membaringkan Rania di tempat tidur.


"Maaf merepotkan mas lagi." Rania masih lemas.


"Jangan sungkan, kita kan akan jadi pasangan suami istri sebentar lagi." Haris duduk di samping Rania

__ADS_1


Rania tersenyum.


Lagi-lagi Apri berdehem keras.


"Kenapa kamu? Nelen kodok? " Haris mulai.


"Nelen sapi. NIH!" Apri memegangi lehernya.


Mereka tertawa...


"Bentar ya Ran?" Haris menghampiri Apri yang sudah duduk di kursi teras.


"Kamu pesenin makanan gih, bentar lagi waktunya makan siang," perintah Haris pada Apri.


"Siap, pesen apa ya?"


"Ayam panggang aja buat aku kamu Devi, dan satu bubur ayam buat Rania."


"Setuju."


Apri mengambil ponselnya dan memilih menu yang Haris mau, memesannya.


Haris duduk di samping Apri.


Menyenderkan kepala belakangnya di tembok.


Apri memandang Haris.


"Menggendong badan kecil seperti itu saja kamu kelelahan," ledek Apri.


"Bukannya lelah, aku pusing mikirin papa." Haris kesal.


"Kenapa? Masih maksain kamu nikah sama Hanin?"


Haris mengangguk..


"Kalo misalnya kamu nikahin Rania aja gimana?"


"Gitu maksud aku ngedeketin Rania. Tapi sekarang aku ragu, takut hatiku gak bisa move on dari Hanum. Takut menyakiti Rania," jelas Haris.


"Semua orang punya masa lalu. Tapi semua orang juga punya masa depan. Kamu mau hidup menjomblo selamanya gara-gara gak mau lupain Hanum?"


"Benar juga. Tapi aku mau nikahin Rania kalo aku sudah bisa mencintainya."


"Cinta akan bersemi jika terus di jaga. Bagaimana kamu akan menjaga Rania kalo kamu balik ke kota? Kamu pikir menjaga hubungan yang berjarak itu gampang?"


"Wih ternyata ke playboy.an kamu berguna juga ya..." Haris tertawa mendengar ucapan Apri..

__ADS_1


__ADS_2