
Malam telah berganti, pagi yang masih belum menampakkan mentarinya. Rania sudah terbangun, membasuh dirinya dengan air wudhu. Melaksanakan sholat subuh.
Doa-doa terbaik Rania panjatkan untuk dirinya juga Devi . Tak lupa mendoakan kedua orang tuanya yang telah tiada.
"Bahagianya jadi mba Livi , sudah gak jomblo lagi, padahal baru kemarin dia merengek kalau kekasihnya berpaling dengan sahabatnya, eh tau-tau kejombloannya itu malah mempertemukan dia dengan suaminya sekarang. Allah, bolehkah aku mengakhiri kejombloan ku secepatnya?" batin Rania setelah melepas mukenanya, diiringi tawa kecil karena doa terakhirnya itu lumayan menggelitik hati.
Rania membereskan piring kotor sisa semalam, mencucinya. Setelah itu merapikan seluruh ruang di rumahnya.
Kalau mood sedang baik Rania biasa melakukan tugas paginya sepagi itu.
Selesai beberes, Rania membangunkan Devi. Menyuruhnya mandi kemudian dia sendiri membuat sarapan.
Rania menyiapkan roti tawar dan membuat dua gelas susu.Biasanya Devi bisa habis tiga sampai empat lembar roti tawar berukuran sedang. Entah kenapa anak itu suka sekali makan. Tak heran badannya bulat dan sangat beda dengan Rania yang cenderung kurus.
Selesai sarapan, Devi berangkat sekolah. Rania sendiri turut berangkat ke kafe.
Saat di dalam angkutan, ada dua pemuda duduk di depan kursi yang ia duduki, dua pemuda itu terus berdebat dan sesekali tertawa, mengingatkan Rania dengan Haris dan Apri. Postur tubuh dua pemuda itupun sangan mirip, satu nya tampan seperti Haris dan satu lagi gemuk dan agak pendek seperti Apri. Rania terus tersenyum melihat kekonyolan dua pemuda itu.
Hingga kafe tempat dia bekerja terlewat, karena Rania keasyikan melihat dua pemuda itu.
Tak beberapa lama, dua pemuda itu turun, lalu Rania fokus kembali melihat ke depan. Dia baru tersadar setelah sopir yang bertanya.
"Mau kemana mba?"
"Berhenti di kafe xxx ya pak."
"Wah kalau kafe itu udah kelewatan mba."
"Ha kok bisa pak?"
"Saya kan gak tau tujuan mba mau kemana, mba nya juga diem aja dari tadi."
Mobil terus berjalan.
__ADS_1
"Ya udah deh aku berhenti disini saja ya pak." menyerahkan uang sepuluh ribuan kepada pak sopir.
Mobil pun berhenti, Rania turun dan melihat lihat dimana ia sekarang.
"Inikan mall itu," gumamnya menunjuk mall yang pernah Rania datangi bersama Haris dan Devi. "Kenapa kesini si?" gumamnya lagi.
Setelah terdiam beberapa saat, Rania menelfon Novi, "Nov, kafe rame nggak?"
"Enggak Ran , ini aja aku di suruh pulang sama pak Arga soalnya pak Arga mau pergi dan kita di suruh libur dulu."
"Oh gitu, ya udahlah aku gak jadi berangkat aja ya."
"Iya Ran gak usah, kamu dimana si kok berisik banget?"
"Tadinya mau berangkat, tapi aku kejauhan berentinya, jadi nya aku main ke mall aja deh hari ini." Rania menutup dahinya dengan tangan karena matahari mulai meninggi.
"Mall mana Ran?"
"Oke, aku jalan kesana. Tungguin ya!"
Novi langsung naik ojek, terlihat bahagia sekali karena sepanjang perjalanan dia tersenyum terus.
Sesampainya di depan mall x, Rania melambaikan tangannya pada Novi yang baru saja turun.
Novi berlari kecil menghampirinya.
Mereka masuk, tempat pertama yang Rania lihat adalah toko boneka, dimana Haris membelikan boneka untuk Devi. Menyayangi Devi dengan penuh ketulusan. Rania terdiam beberapa saat di depan toko boneka itu.
Novi menarik tangan Rania begitu saja, mengajaknya keliling mall itu.
"Kamu mau beli apa si Ran?" tanya Novi sambil masih menggandeng lengan Rania.
"Enggak, pengen jalan-jalan aja," jawab nya singkat.
__ADS_1
"Ouh kirain mau beli sesuatu, buat pacar. Hehe."
"Nggak usah ngeledek" wajah Rania tampak datar.
Novi yang sengaja mengejeknya itu tertawa. Lalu menggandeng lengan Rania lebih kuat.
"Karena kamu jomblo, oke aku temenin kamu jalan-jalan sampai puas hari ini." Novi kembali terbahak dengan candaannya.
"Udah deh jangan mulai," wajah Rania masih datar-datar saja.
"Kita main yuk?" Novi menarik Rania begitu saja. Menuju area bermain.
Dada Rania berdebar, saat melihat mobil-mobilan yang pernah ia mainkan tentunya bersama Haris dan Devi. Melihat ada cowok dan cewek yang mungkin mereka berpacaran menaiki mobil-mobilan itu dengan tawa bahagia,yang Rania lihat malah itu dirinya dan Haris.
Tanpa sadar bibirnya mengembang, tersenyum begitu saja. Novi menatap Rania lama, Rania masih bengong menatap ke arah mobil-mibilan itu dengan bibir tersenyum.
"Jiwa kejombloan kamu pasti iri kan melihat mereka?" Novi lagi-lagi meledek.
Rania tidak menanggapi.
"Rani ayo main..." Novi menggoyang goyangkan tubuh Rania.
"Iiii ih Rani!!!?"
Kali ini memanggil agak keras karena Rania masih saja melamun.
"Eee enggak mas aku takut, aku disini aja."
Jawab Rania gugup.
Sebentar Novi menatap Rania bingung, tapi kemudian Novi tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Rania tadi.
Rania menoleh langsung menutup mulut Novi dengan kedua tangannya..
__ADS_1