Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Berkenalan, lagi


__ADS_3

Haris, Rania, Apri dan juga Yura menghabiskan hari itu di museum kota.


Karena menurut Yura, pergi ke mall itu membosankan dan hanya akan menghabiskan gajinya.


Jadilah mereka pergi ke museum. Haris menyetir mobil, Rania disampingnya lalu Apri dan Yura duduk dibelakang. Apri terus saja menatap aneh dua orang didepannya itu.


Bagaimana bisa mereka bertingkah seperti orang yang baru pertama kali kenal saja. Apa mereka sedang mencoba melupakan masa lalu masing2 kemudian memulainya dari awal lagi???


Yap! tebakan kamu benar Pri.


Haris melihat kecurigaan Apri dari kaca spion didepannya, mereka seperti sedang perang batin saja.


"Rania?, Haris? , diem terus. Ngobrol dong . " Yura tersenyum geli melihat Rania dan Haris yang sedang malu2 itu.


"E iya, eh, hehe. " Rania merasa sangat gugup. Sedangkan Apri berdecak sebal, "Tau tu, makanya Ris... punya nyali tu kaya aku jadinya mudah kalo mau ngedeketin cewek . Haha. " ucap Apri bermaksud menyindir.


Gini nih aku contohin.. " Hai Rania? boleh aku pegang tangan kamu??? " lalu Apri mengulurkan tangannya, Rania tersenyum canggung namun tetap mendekatkan tangannya pada tangan Apri. Haris sesekali memperhatikan, Yura yang didekatnya sudah menahan tawa.


"Nah, tangan kamu sangat lembut kaya tangan ibu,cocok nih.. " Apri mengusap lembut tangan Rania.


"Lah? kok?, " tanya Rania polos.


"Iya Ibu, Ibu dari anak2 ku... EEEAaaaa... hahaha. "


Haris reflek mengeplak tangan Apri, dan dengan cepat menarik tangan Rania kedepan. Yura pun ikut menyumbangkan tawanya. Tapi tetap saja, tawa milik Yura sangat anggun.


Haris menatap Apri dari balik kaca spion, Apri mengangkat alisnya sok. Lalu menggoda Haris dengan menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


Perjalanan yang hanya satu jam itu jadi sangat sebentar rasanya berkat candaan Apri yang mengocok perut mereka.


Mobil pun terparkir didepan parkiran, semuanya turun dari mobil. Yura menggandeng tangan Rania erat seperti bergandengan dengan adiknya saja. Dan mereka jalan terlebih dahulu.


"Apa maksud kalian pura2 nggak saling kenal gitu?, " Apri menanyakan langsung, agar hatinya tidak penasaran.


"Pri , yang namanya masa lalu nggak perlu diungkit . Udah lah yuk masuk. " Haris menepuk pelan pundak Apri, lalu mereka berjalan menyusul Rania dan Yura yang sudah didalam.


Mereka sedang mengamati beberapa keris dan pedang sejarah didalam sebuah etalase besar. Kemudian berkeliling lagi. Hingga mereka merasa haus kemudian Apri menyeret Yura keluar Museum. Tak jauh dari pintu masuk, terdapat warung makan dan beberapa kafe kecil.


Apri pun menarik Yura masuk ke sebuah kafe terdekat.


"Iii lepasin kak, tanganku sakit. " Yura menarik tangannya kasar.


"E maaf, habisnya kamu pelan banget jalannya. "


"Itu mereka, " Apri menunjuk Rania dan Haris yang masih diluar. Mereka pun memesan dua gelas jus jambu dan makanan.


"Ayo kita kesana.. " untuk pertama kalinya Rania mengeluarkan suara setelah dari tadi hanya diam.


"Sebentar, aku mau melihat pedang ini. " Haris mengambil pedang panjang yang dipajang disebuah.


Perlahan Haris membuka tutup kayu yang menyelimuti pedang itu.


Rania sebenarnya ngilu melihat itu.


"Bagus ya. " Haris mengusap tepian pedang dengan kedua jarinya. " Aahk. " pekik Haris, jari telunjuknya tergores pedang itu. Dan darah mulai menetes dilantai.

__ADS_1


Karena panik, Rania langsung saja meraih tangan haris lalu meniupnya. Tapi darah masih saja mengalir, " aduh gimana ni aku nggak bawa tisu. " Rania panik sendiri. Sedangkan Haris menikmati perhatian dari Rania. Dia menatap Rania dengan senyuman yang mekar dibibirnya.


Haris menaruh pedang itu ditempat yang tadi, lalu menggenggam tangan Rania. Terkejut, Rania dan Haris berhadapan dan saling tatap.


"Mas Haris, "


"Ran, aku tidak apa2. Jangan khawatir. " mereka saling melempar senyum. Kemudian Haris melepaskan tangan Rania.


Berjalan menuju kafe dimana Yura dan Apri sedang beristirahat.


"Habis ngapain si?, "


"Kamu bawa tisu? atau kain handuk? atau apa gitu yang lembut2, tangan mas Haris terluka. " kepanikan Rania belum usai.


"Ciee mas.... Awwww!! " Apri meringis kesakitan saat kakinya diinjak oleh Haris. Apri menatap Apri kesal, Haris pun mengeringkan matanya.


"Mas Haris?, " Yura menatap Rania bingung.


"Iya ini mas Haris, lihat tu darahnya. " reflek mengangkat tangan kanan Haris.


"Aaa darah, darah, mama tisu.. eh ini, ini cepetan lap. Aku ngilu banget niiii... " Yura menyerahkan satu pak kecil tisu kepada Rania.


Kemudian Rania dan Haris duduk berdampingan, dengan pelan Rania mengelap darah yang mulai membeku di sela2 jari Haris. Apri dan Yura tersenyum melihat mereka berdua.


Sepertinya luka Haris sudah mulai merapat, Haris melarang Rania membeli plester. Mereka berdua memesan makanan dan juga minum.


Hari2 selanjutnya dijalani sangat baik oleh Haris ataupun Rania. Mereka sering bertemu, entah hanya berdua, bertiga sama Yura atau berempat dengan Apri. Apri, Haris dan Rania pun tidak pernah mengungkit masa lalu lagi sehingga Yura tidak mengetahui jika sebenarnya mereka bertiga ini dulunya pernah saling kenal.

__ADS_1


Hingga suatu hari, Yura menceritakan perasaanya pada Rania..


__ADS_2