
Sesampainya di rumah, Rania terus menghampiri Devi yang sedang memainkan boneka nya di ruang tamu.
Devi sangat senang melihat kakaknya pulang, walaupun sudah terbiasa di rumah sendiri tapi Devi tetap saja jadi adik yang manja untuk Rania.
Mereka saling peluk, dan Rania ingat tadi ada pesan dari Apri. Rania selalu membalas saat ada orang yang ingin menjalin persahabatan dengannya, tidak pilih2.
Rania mengambil ponsel di tas kecilnya,mencoba menelfon Apri. Sudah di coba namun tak ada jawaban, lalu di coba lagi. Sampai beberapa kali, tetap tidak ada jawaban. "Mungkin lagi sibuk. " gumam Rania.
"Kenapa mba? "
"Tadi mas Apri telfon katanya kangen sama Devi. Tapi barusan mba telfon balik malah gak di angkat. " jawab Rania menatap Devi.
"Kak Apri saja kangen, kenapa kak Haris gak pernah telfon ya mba? Apa dia gak kangen sama Devi? "
Rania tersenyum kecut mendengar pernyataan Devi, rasanya hati Rania sedikit bergejolak. Rania menatap Devi sambil tersenyum. Padahal pikirannya sedang berjuang untuk memberikan jawaban pada Devi.
"Mas Haris mungkin sibuk, gak mungkin dia gak kangen sama Devi. Devi ini kan gadis cantik, pintar, dan menggemaskan. Semua orang yang pernah kenal Devi pasti bakal kangen, seperti kak Apri, iya kan? " Rania tersenyum, padahal sedang berbohong.
Devi tersenyum lebar, Rania mengelus rambut Devi kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Kenapa membekas sekali kenanganmu mas? padahal hanya 5 hari pertemuan kita. Apa hanya aku yang merasakannya? "
Rania termenung di dalam kamar mandi, terduduk di tepi bak mandi.
"Mana mungkin kamu merasakannya? kan sudah ada gadis itu di sampingmu. Kalian sangat cocok, di lihat dari segi apa pun kalian sangat serasi. Pantas saja papa mu langsung menghinaku. Salah ku juga kan terlalu berharap? Ah bodohnya aku?! "
__ADS_1
Umpatan untuk dirinya sendiri terus bermunculan di pikiran Rania.
Cinta pertama yang dia dapatkan ternyata secepat itu pergi dan meninggalkan luka di hatinya.
"*Sekarang aku hanya bisa melihat mu bahagia , takdirMu bersamanya kan? "
"Lalu bagaimana denganmu? Andai kamu menanyakan itu padaku, jelas jawabanku aku harus melupakanmu. Merelakan angan2 indah yang ku buat saat bisa bersamamu. Aku akan jadi Rania yang dulu, yang hidup hanya dengan Devi, Rania karyawan pak Arga"
"Aku sudah biasakan hidup hanya dengan Devi? Lalu apa lagi yang kamu khawatirkan jika kamu meninggalkanku?. Ah benarkan aku ini bodoh, masih saja memikirkan kamu dan berharap kamu seperhatian itu padaku. Benar2 bodoh*?!!! "
Rania benar2 menghabiskan waktu mandinya hanya dengan melamun, hingga Devi mengetuk pintu kamar mandi itu lalu Rania tersadar dari lamunannya.
"Mba Rani lama sekali di dalam? " teriak Devi dari luar.
"Aduuuhhh " Rania merasakan kesakitan di kaki dan pinggangnya sekaligus malu. Untung saja di kamar mandi hehe.
"Kenapa mba? " teriak Devi lagi.
"Hehe ini mba jatuhin ember trus kena kaki dhe. Tunggu sebentar ya. " Rania masih meringis kesakitan.
Devi manggut2 lalu pergi, masuk ke kamarnya dan mengeluarkan buku sekolahnya. Hari ini tidak ada PR jadi Devi hanya membaca baca saja buku paket dari sekolah.
Tak berapa lama, Rania keluar dari kamar mandi. Berjalan tertatih karena mungkin kakinya terkilir. Devi melihatnya saat Rania berdiri di depan pintu kamar, memegang tembok dengan kuat sambil memasang senyum terpaksanya.
"Devi mau makan yang kuah2 atau yang enggak? " Menahan kakinya yang terkilir.
__ADS_1
"Iya mba, Devi mau yang ada kuahnya. " tersenyum manja pada Rania.
" Oke. Mba ke dapur dulu ya. "
Berjalan dengan susahnya.
"Kenapa jatuh segala si? " gumamnya saat di dapur.
Rania langsung mengambil plastik yang berisi sepaket sayur sop di kulkas. Memotongnya lalu mencuci nya.
Sambil menunggu air di panci mendidih, Rania menggoreng nugget di tungku kompor sebelahnya.
Rania memang biasa belanja yang instan2 seperti itu. Bisa memudahkan dan mempercepat ia memasak.
Setelah semua siap, Rania memanggil Devi.
Devi datang lalu duduk di samping Rania.
Mereka menikmati makan malam ini dengan tenang seperti biasa,setelah keduanya lelah dengan aktifitas seharian tadi mereka makan dengan lahap.
Setelah selesai makan malam, Rania kembali menemani Devi belajar. Hingga mata mereka terasa lelah, kemudian membaringkan tubuh di ranjangnya.
Saling peluk dan menatap langit2 kamar, berharap malam ini akan mendapatkan mimpi yang indah.
"Semoga aku tidak egois untuk selalu ingin memikirkan mas Haris. " Batin Rania kemudian terlelap masuk ke dalam ruang mimpi.
__ADS_1