
Hanya duduk-duduk, berbaring di ranjang, saling peluk, hingga siang. Jam menunjukkan pukul 11.40 wib, Diki beranjak dari manja-manjaannya itu atas perintah Rania untuk menjemput Devi di sekolah.
Saat Diki menaiki mobilnya, tampak sebuah mobil di depan pintu gerbang.
"Itu mobil papa," gumam Diki lalu menghampirinya dan membukakan gerbang itu.
Terlihat pak Indra, Bu Eri, Fani dan Sabila dari kaca jendela mobil, Diki tersenyum namun tampak tak ikhlas,
"Semoga Rania sabar ngadepin mama dan adik-adik itu," batin Diki seraya mengantarkan mereka masuk rumah.
"Ran, mama papa sudah datang nih," seru Diki dari lantai dasar. Rania yang mendengarnya langsung menuruni anak tangga.
"Siang pa, ma?" sapa Rania melebarkan senyumannya. "Hai adik ipar?" lanjutnya, menatap Fani dan Sabila.
Mama dan papanya tersenyum, namun jelas senyuman mama sangat tidak iklas. Hanya mengangkat satu ujung bibirnya saja.
Begitu juga dengan Fani dan Sabila, mereka memasang wajah datar, tidak balik menyapa Rania. Mereka kemudian duduk, Rania dan Diki duduk bersebelahan, Diki merangkul Rania.
"Wah pengantin baru, lengket terus kan."
"Apaan si papa." Diki menatap Rania yang ternyata merona wajahnya.
"Rani ambil minum dulu ya," ujar Rania memalingkan rasa malu nya, untuk pergi ke dapur.
Diki mengikutinya, sesampainya di dapur Diki berpamitan pada Rania untuk menjemput Devi. Rania mengiyakan, Diki juga pamit pada orang tuanya, dan berlalu keluar rumah.
"Pa, aku ke kamar mandi dulu ya." Fani dan Sabila berdiri, lalu berjalan beriringan menuju dapur. Alasan saja mau ke kamar mandi. Sebenarnya mau bikin repot kakak iparnya.
"Fani, Sabila," ucap Rania terkejut melihat mereka berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Aku gak mau es jeruk, aku mau jus buah naga!" seru Fani dengan judes nya, "Aku juga maunya jus mangga, gak mau es jeruk itu!" ucap Sabila kemudian.
"Nanti kakak telfon kak Diki buat beli buah-buah ya, sekarang hanya ada sirup jeruk ini," dengan sabarnya Rania mencoba mengakrabi adik ipar itu.
"Mau sekarang!" jawab mereka bersamaan.
"Tapi kita belum belanja, nanti ya?"
"Apaan si punya kakak ipar gak guna banget!" seru Fani, akhirnya mereka keluar dari dapur dengan wajah senang, bisa memarahi Rania.
Fani dan Sabila duduk di tempat sama, lalu Rania datang dengan membawa nampan berisi lima gelas es jeruk.
"Repot-repot saja kamu Ran."
"Tidak kok pa, cuma air es."
Setelah menaruh gelas-gelas berisi minuman segar di meja, Rania duduk kembali. Dia bingung sekarang, gak ada Diki yang jadi pelindungnya dari tatapan tajam mama mertua.
"Hmm segar juga ya!" papa meneguk setengah gelas minumannya.
Rania merasa sangat canggung, terlebih saat mama menatapnya dengan kesal.
Beruntung, Diki cepat kembali. Devi langsung menyalami mereka namun lagi-lagi Fani berlagak.
"Maaf ya adik kecil, tangan kamu pasti penuh kuman dari luar sana. Aku gak mau ya tangan bersih ini terkena kuman dari tangan kamu." Fani jelas membuat Devi canggung, Rania langsung mendekati Devi dan membawanya ke kamar atas.
"Apaan sih Fan, gitu banget." Diki menatapnya tak suka.
"Kakak baru tinggal semalem sama mereka kok langsung ikutan jorok, padahal kakak yang selalu ngajarin kita buat jaga kebersihan," sewot si fani.
__ADS_1
"Tapi nggak gitu juga."
"Apa si, kakak sendiri yang ngajarin, kakak sendiri yang gak jelas." Sabila ikut-ikutan.
"Udah-udah, kalian ini udah pada gede kok berantem terus, gak di rumah gak di mana!" papa melerai ketiga anaknya itu.
"Untung aku udah nikah trus punya rumah sendiri, jadi gak tiap hari liat kalian, bosen banget." Diki menyeringai, melihat kedua adiknya berwajah sebal begitu.
"Tu kakak pa," Fani masih saja repot.
"Hmm makan siang aja yuk, kalian pasti lapar?" ucap Diki.
"Emang ada makanan?" Bu Eri berbicara .
"Ada, tadi Rania masak, yuk pa."
"Enak nggak? Higienis nggak? Mama gak mau ya__"
"Ssttt sudah-sudah, kalau mama gak mau ya udah ayo Dik kita makan dulu," ucap Pak Indra memotong ucapan istrinya.
Diki dan papa nya berjalan menuju ruang makan, yang bersebelahan dengan ruang tamu namun terpisah oleh lemari besar di tengahnya.
"Ayo makan siang sayang," ucap Diki saat Rania hendak turun bersama Devi.
"Mama dan adik-adik mana?" tanya Rania.
"Nanti juga nyusul kalau laper."
"Iya ayo duluan saja, mereka mah gampang," pak Indra menambahi dengan sedikit tawa.
__ADS_1
"Aku coba kesana dulu ya." Rania merasa tidak enak.
"Ngapain? Udah ayo biarin nanti juga mereka kesini," pak Indra tampak sangat menyayangi Rania, dia begitu tulus, beda dengan istri dan kedua anak perempuannya yang judes-judes..