Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Baper


__ADS_3

Siang itu sangat terik, Rania berdiri di depan gerbang sekolah Devi. Sudah 10 menit menunggu, akhirnya terdengar lonceng yang menandakan jam pelajaran selesai.


Rania melihat satpam sekolah membuka gerbang itu, anak-anak mulai berhimpitan ingin segera pulang.


"Mba Rani!" terdengar lucu seperti biasanya suara Devi. Pipi tebal dengan rambut ikal yang sudah kusut karena keringat.


"Gimana sekolahnya hari ini dek?" ucapku seraya menggandeng tangan kanan Devi.


"Seru kak. Sebelum pulang tadi, bu guru ngasih teka teki dan kalau bisa jawab, dapat bintang."


"Kamu sendiri nomer berapa jawabnya?"


"Nomer empat, hehe."


"Emmm? ya udah yuk pulang."


Sesampainya di rumah, Rania mengambilkan makanan untuk Devi. Devi makan dengan lahapnya.


Hingga sore menjelang, Rania menunggu Diki pulang dari kantor. Duduk di kursi teras, Rania sesekali melihat ponselnya barangkali Diki mengirim pesan.


Sebuah mobil melintas, Rania mengamatinya tapi ternyata bukan mobil Diki.


"Seperti Rania," gumam Haris yang sedang menyetir mobil.


"Itu mobil siapa ya kok berenti di situ?" gumam-guman Rania, "Tapi bukan mobil papa," imbuhnya lagi.


Haris mengamati perempuan yang tengah duduk di teras rumah mewah itu, saking penasarannya Haris hampir keluar dari mobil dan memastikan dia Rania atau bukan. Secara dari penampilan sangat mirip, tidak ada yang berubah sama sekali.


Namun saat pintu mobil di buka, ada klakson dari belakang. Mobil Diki yang ingin masuk ke rumahnya terhalang oleh mobil Haris.


Langsung saja Haris melajukan mobilnya, "Mana mungkin itu Rania, ck!" decak Haris sembari memarkirkan mobil di garasi rumahnya.


Melihat mobil Diki, Rania langsung menghampiri dan membuka gerbangnya.


"Diki,"


"Ya ... Kenapa kok tumben manja gitu?"


"Aku mau bicara sesuatu, boleh?"


"Apa?"

__ADS_1


"Kamu kenapa jutek?"


"Ran, aku capek . Nanti aja ya!"


Rania mengangguk, kemudian masuk rumah menggandeng lengan Diki. Diki pun mendesah kasar.


"*Ada masalah kah? Diki berbeda sekal*i," batin Rania menatap Diki.


"Sini aku__"


"Udah gak usah." Diki menepis tangan Rania yang hendak melepas dasinya.


Rania malu, mencari cari apakah dia melakukan kesalahan? Tapi apa?.


"Tutup pintu kamarnya, aku mau istirahat." Diki menjatuhkan tubuhnya di ranjang, Rania pun menutup pintu kamarnya.


"Kamu kenapa?" Rania mendekat lalu mengusap pelan dada Diki.


"Ran, tolong ya aku capek banget."


Rania kebingungan sendiri melihat sikap Diki.


"Aku ke dapur dulu ya?"


"........"


"Kak Diki lihat deh, cantik kan?" Diki terkejut melihat Devi di kamarnya, Devi memang masuk tanpa permisi.


"Lain kali kalau masuk permisi dulu, nggak sopan!" ucap Diki ketus, membuat Devi menunduk.


"Maaf kak." Devi menyimpan lagi gantungan kunci yang dibelinya di sekolah.


"Udah keluar sana. Tuh mbak Rani di dapur." Diki memiringkan tubuhnya membelakangi Devi.


"Mba?" Devi sesenggukan.


"Eh kenapa sayang? Kenapa nangis?"


"Kak Diki kenapa marah? Padahal Devi mau ngasih gantungan kunci ini." Devi memperlihatkan gantungan itu.


"Marah? Ya udah Devi disini aja ya. Bantuin Mba mau nggak?" Rania memaksakan senyumnya, bingung juga kenapa Diki bersikap begitu.

__ADS_1


Tak berapa lama makan malam siap. Rania menghampiri Diki di kamar, samar-samar dari depan pintu Diki sedang menelfon seseorang.


"Diki?"


"Hmmm"


"Makan dulu." Rania hanya berdiri di ambang pintu.


Diki langsung berdiri dan berjalan saja tidak peduli dengan Rania yang di depannya.


Devi menundukkan kepalanya melihat kedatangan Diki, dalam hati Rania sendiri kesal kenapa Diki berubah sikap seperti ini.


"Jangan banyak-banyak!" Rania mengangguk saja dari pada menambah kekesalan dihatinya saat mengambilkan nasi dan lauk untuk Diki.


"Sini mba ambilin dek." Rania meraih piring di depan Devi, setelah menyerahkan piring makanan untuk Diki.


Mereka bertiga makan dengan hening sekali. Rania sendiri merasa canggung, dan masih memikirkan barang kali semalam atau tadi pagi dia melakukan kesalahan.


Diki pergi begitu saja setelah makan malamnya habis. Rania mengusap punggung Devi agar dia tenang.


"Devi berani kan bobo sendiri? Mba mau ke kamar Mba dulu," membujuk Devi.


Devi mengangguk , namun Rania melihat kekecewaan pada wajah Devi.


"Padahal Devi takut, pengennya di temenin mba dulu," batin Devi sembari melangkahkan kaki ke kamar.


Rania berbaring di samping Diki yang sudah meringkuk dengan selimutnya. Perlahan Rania memeluk perut Diki.


Berharap Diki menoleh dan membalas pelukannya. Terdengar bunyi "klik" berkali kali dari ponselnya, namun Rania tidak berani melihat. Salah-salah bisa menambah kemarahan Diki.


Hingga jam dinding menunjukan pukul 23.00 wib Rania masih belum memejamkan matanya, di tariknya perut Diki dengan pelan agar mereka berhadapan namun tubuh Diki terasa kaku seakan menolak.


Rania tidak tahan, perasaannya kini mulai sakit, bingung dengan sikap Diki.


"Diki, salahku apa?" isaknya tidak bisa di bendung lagi.


"........"


"Diki, maaf. Salahku apa sayang? katakan."


".........."

__ADS_1


Menyerah, akhirnya Rania terlelap juga dengan berlinang air mata dan hidung yang memerah.


__ADS_2