
"Apri. Bisa kita ketemu? Aku akan sampai di rumah papa tiga jam lagi!" pesan suara yang dikirim Haris untuk Apri, saat itu juga ia mengemudikan mobilnya sangat kencang.
Membuka pesan itu Apri yang sedang berada di kampus segera menuju apartemen. Dia butuh istirahat untuk menyiapkan tenaga saat bertemu Haris nanti, karena tau jika dia panik maka Apri ikut kena masalah juga.
Di baringkannya tubuh lelah itu, "Apa lagi masalahnya? Udah sedewasa itu masih saja libatin aku!" gerutunya .
"Lagian selama ini dia kemana? Tugas ku jadi menumpuk kan gara-gara dia pergi, huh."
Pusing sendiri memikirkan kemauan Haris.
Dulu inginnya memanfaatkan Rania untuk menolak perjodohan, giliran Rania sudah menikah malah di kejar-kejar. Seperti tidak punya istri saja.
Diki tengah sibuk di ruang kerjanya, lelah setelah bepergian jauh, Diki memutuskan tidak pergi ke perusahaan. Dan mengecek laporan dari rumah saja.
Lalu ponsel di sebelahnya berdenting, sebuah panggilan masuk.
"Ada apa Nin?"
"Ki, tolong, aku hamil. Dan Haris curiga ini bukan anaknya," suara panik perempuan di sebrang telefon.
"Lah emang kamu hamil ama siapa?"
"Waktu itu aku mabuk dan entah dengan siapaa aku tidur. Paginya aku sudah di hotel."
Kepanikan berubah jadi isakan, perempuan itu adalah Hanin. Orang yang telah menyuruh Diki menikahi Rania, mereka masih saudaraan, Hanin memaksa agar Diki menolongnya. Padahal Diki sendiri memiliki pacar.
Setelah tau perempuan yang di kejar Haris adalah Rania, Hanin merencanakan semua itu. Menyuruh Diki menikahi Rania, dengan maksud agar Rania tidak bisa kembali dengan Diki.
Yakin sekali jika Rania sudah menikah, Haris akan berhenti berharap pada Rania lalu menerima cintanya, dan hidup bahagia. Tapi nyata nya Haris masih saja mengejar Rania, malah sekarang meninggalkan Hanin yang sedang hamil entah dengan siapa.
"Trus gimana???? Kenapa gila begitu sih!!" Diki menyerukan kekesalan nya pada Hanin yang teledor.
"Aku gak tau, please bantu aku Ki. Aku bingung. Apa kamu tau kalau Haris suamiku ada di kotamu? Dia masih saja mengejar Rania."
__ADS_1
"Beneran??? Apa jangan-jangan yang sama Rania kemarin malam itu Haris?" semakin geram.
"Kok marah gitu? Bukannya pernikahan kalian cuma main-main? Eh jangan-jangan kamu cinta beneran ya?"
"Iya juga. Nggak lah aku cuma cinta sama pacarku. Sampai kapan nih aku bantuin kamu? Aku gak mau lama-lama ya, aku mau segera nikah sama pacarku."
"Tunggu sampai Haris menyerah sama Rania, inget ya kamu jangan sampai suka beneran."
"Gak bakal dong."
"Masalah kehamilan kamu itu, aku gak ikut campur ya." Diki menimpali.
"Trus gimana Ki? hiks," tangis Hanin mulai pecah, "Aku harus gimana lagi sekarang? Haris gak mungkin mau tanggung jawab karena memang semenjak menikah kami tidak pernah berhubungan badan. Hiks."
"Hanin!" yang di panggil terkejut lalu menoleh.
"Haris? Kamu pulang?" Diki mendengar percakapan mereka karena panggilan masih tersambung.
"Tidak, bukan, i -ini saudara aku di kampung."
Jelas ucapannya terbata bata.
"Jadi siapa ayah anak yang kamu kandung?"
"Haris__" memeluk Haris, "Aku khilaf, maaf, aku frustasi waktu itu lalu mabuk. Dan tiba-tiba aku di bawa oleh laki-laki, aku gak inget semuanya. Haris maaf. Hiks hiks."
"Aku akan bantu carikan laki-laki itu. Tapi setelah ketemu, kamu janji akan melepaskan aku tanpa dendam." Haris mendorong pelan tubuh Hanin.
"Aku cinta sama kamu ... Hiks."
"Sudahlah, tidak ada harapan lagi. Aku minta kamu jangan sedih terus, ada satu nyawa di perutmu yang harus kamu perjuangin. Aku pulang." Melangkahkan kakinya ke luar kamar Hanin.
"Ma ... Jangan memojokkan ku lagi, dia hamil dengan laki-laki lain. Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya." Berhenti sebentar saat berpapasan dengan mama mertua di tangga.
__ADS_1
"Maafkan Hanin nak Haris," menunduk malu atas perbuatan putrinya itu.
Haris kembali berjalan, menuju mobil lalu pergi.
"Ris dimana nih? Aku udah di rumah om."
Apri meneriaki Haris karena kesal sudah menunggu lama .
"Hmm bentar." Mematikan telfon lalu melajukan mobilnya dengan kencang.
Sudah sampai saja di rumahnya, Haris memeluk mama yang dia rindukan. Kemudian menuju lantai atas, menemui Apri di kamar.
"Lama amat!" ketus.
"Brisik," tambah ketus.
"Woi gak berubah-berubah ya dari dulu.Aku jotos juga nih!!"
"Pri diem. aku pusing! Aku minta bantuan lo!" menarik nafas sebentar, "Hanin hamil, dia tidur sama laki-laki lain dalam keadaan mabok, jadi gak inget siapa aja yang nidurin dia."
"Trus aku di suruh tanggung jawab gitu?" Apri main serobot saja .
"Ck!! Ya kamu cariin orang yang udah hamilin Hanin lah. Emang mau nikahin dia???" geram sendiri melihat Apri.
"Owwy santai dong gak usah ngegas. Gak maulah udah bekasan!"
"Gak usah mesum!!" Dengan wajah suntuk nya Haris merebahkan tubuh di dekat Apri duduk.
"Kalo gak ketemu ,kamu mau pertahanin dia?"
Haris hanya menarik nafas dalam, menatap langit-langit kamar. Apri meliriknya sebentar.
"Aku lihat, Rania juga udah bahagia sama suaminya. Kayaknya aku bakalan merana lagi, selamanya," wajah tampannya berkurang 3% sekarang karena sedih.
__ADS_1