
Kepanikan juga menyerang keluarga besar Candra. Candra yang baru saja pulang mengajar, sangat panik begitu mendapati Livi yang sedang tertatih menuruni anak tangga sambil menahan perut bagian bawah yang sudah sangat besar.
"Livi kamu mau kemana?. " Candra berlari menghampiri Livi sampai membuang tas tentengnya sembarangan.
"Sepertinya bayinya akan segera lahir. Akhhh sakit bang. " Candra memapah tubuh Livi untuk cepat masuk kedalam mobil.
"Tahan ya sayang. Kita kerumah sakit sekarang. "
"Jangan panik bang, aku masih kuat. " Livi mencoba menenangkan suami agar bisa fokus menyetir.
Meskipun dulunya manja dan kekanak kanakan, tapi sekarang Livi sudah cukup dewasa menyikapi jalan hidupnya. Candra sudah merubahnya jadi pribadi yang lebih baik.
"Lepas saja jilbab kamu kalau panas sayang. Kita akan segera sampai, tahan ya. " Sesekali Candra melirik Livi yang duduk dibelakang.
Masih sempat juga menelfon pihak rumah sakit.
"Abang tenang, aku kuat. " Tersenyum kecut.
Dengan kecepatan maksimal, 10 menit kemudian mereka sampai dirumah sakit. Langsung masuk ruang bersalin karena sudah dipersiapkan setelah Candra menelfon tadi.
Candra ikut masuk, dokter memeriksa Livi ternyata sudah pembukaan lengkap. Livi masih sempat tersenyum menatap Candra. Mengelus pelan pipinya.
"Jangan takut bang, semua wanita menginginkan ini. Dukung aku ya, bayi kembar kita akan segera lahir. " Begitu Livi mengatakan, dan Livi merasakan lagi sakit di perutnya merambah kebagian punggung dan v*****nya sudah terasa perih.
"Aaaa dokter, tolong. " Pekiknya, seraya meremas jari tangan Candra.
Seorang dokter dan dua perawat memberikan aba-aba agar Livi menarik nafas dan membuangnya seiring rasa kontraksi yang dirasakan.
__ADS_1
Livi mengejan dengan kuat sesuai yang dokter ajarkan. Lalu pecahlah air ketuban nya karena ditusuk oleh perawat. Setelah itu mulai terlihat rambut si bayi. Livi mendorongnya saat merasakan desakan dari bayinya.
Tiga kali Livi mengejan dengan susah payah, lalu terdengar tangisan bayi yang langsung diambil oleh salah satu perawat untuk diurus.
"Sayang... " Livi tersenyum menatap Candra. Candra membalas senyumannya meskipun berderai air mata.
"Dokter katanya bayi ku kembar.. " protes Livi.
"Iya biasanya akan ada jarak waktu kelahiran, tunggu sampai ibu merasakan ada dorongan dari perut lagi ya bu. " Dokter masih menunggu bayi kedua mereka, andai tidak ditahan mungkin tangisan Candra akan sangat keras.
"Jangan nangis.. " Lirih Livi lagi mengusap air mata di dagu Candra.
Candra menciumi tangan dan wajah Livi terus selama persalinan berlangsung.
"Ini... ah aaaa aaaahhh. " Livi meremas kuat lagi tangan Candra.
Livi mengangguk paham.
Lalu hanya dalam hitungan menit, bayi kedua lahir. Tangis Candra langsung pecah dan menghujani wajah Livi dengan ciuman. Livi sangat bersyukur memiliki suami yang se perhatian ini.
Setengah jam kemudian.
"Ini bayi kalian, selamat ya bayinya cewek dan cowok. " Dua perawat menggendong baby kembar dan menidurkannya disamping kanan dan kiri Livi.
"Bang ini bayi kita. "
Candra tidak bisa berkata -kata dan hanya bisa menangis terharu. Setelah keadaan tenang, Candra menelfon orang tuanya dan orang tua Livi.
__ADS_1
Mereka dengan cepat tiba di rumah sakit. Kebahagiaan keluarga Livi dan Candra sudah sempurna rasanya setelah kelahiran debay kembar.
Kembali ke jalan.
"Tiara apa yang kamu lakukan?. " Apri menarik lengan Tiara yang hampir terjun ke sungai.
"Lepas, sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup. Aku lebih baik mati. Aku hamil dan dia tidak mau tanggung jawab. Aku tidak mau menanggung kesusahan sendirian. Aku takut, aku lebih baik mati. " Teriak Tiara, dan memberontak saat Apri menahannya. Apri pun memeluk Tiara sangat erat.
Beberapa saat kemudian, tangis Tiara reda. Lelah, rasanya sangat lelah. Perlahan Apri mengendurkan pelukannya.
"Kamu tidak boleh mati. Ada bayi yang ingin hidup dan melihat dunia. Jangan kamu bunuh dia. " Apri membisiki telinga Tiara.
Mobil Haris terhenti juga saat melihat mobil Apri parkir dipinggir jalan. Dicarinya Apri kedalam mobil tapi tidak ada. Dan Haris kesal sekali saat melihat Apri berpelukan dengan wanita, dipinggir jalan lagi.
"Ngapain tuh anak kaya gak ada hotel aja. " Gerutu Haris, lalu berlari kecil menghampiri Apri.
"Aku tidak sanggup merawatnya sendirian, aku takut... hiks. " Rengek Tiara lagi.
Haris berhenti berlari dan mendekat pelan-pelan. "Gila cantik bener ceweknya Apri. " Haris dibuat heran karena Apri bisa berpelukan dengan wanita secantik Tiara.
"Kamu harus terima,bayi ini tidak salah apa-apa." Ucap Apri menenangkan Tiara.
"Hah Apri hamilin cewek??. " Jarak Apri dan Haris hanya 2 meter saja, Haris mendengar jelas percakapan mereka. Tiara dan Apri tidak sadar ada yang melihat, Tiara pun tidak melihat Haris didepannya karena dia menutup mata.
"Apri! . Kamu hamilin dia?!. "
Keduanya langsung melepas pelukan mereka dan membulatkan mata melihat Haris..
__ADS_1