
"Mas tolong lepaskan, aaaa sakitnya." Rania teriak sekencang kencangnya.
"Aduh nih anak kenapa si?" Livi terbangun karena mendapat sabetan tangan Rania.
"Mas Haris, ampun. Jangan mas!" teriak Rania lagi.
"Ngigau ya? Eee bangun Rania. Hey bangun!" Livi menggoyang goyang kan tubuh Rania.
"Jangaaaaaannnnnnn!"
PLAK!!!!
"Awwww?!!!" Livi meringis kesakitan saat lagi-lagi tangan Rania mendarat keras di mukanya.
"Aaa Mba Livi? Kenapa Mba?" Rania bangun dengan nafas yang tersenga- sengal. Panik juga mendengar teriakan Livi.
"Kamu mimpi apa sih?" bernada kesal.
"Enggak, aku nggak mimpi," masih berwajah panik .
"Makanya kalo mau nikah jangan mikirin orang lain."
"Hehe maaf Mba, jam berapa si?"
tanya Rania memalingkan topik pembicaraan.
"Jam 3. Aku mau tidur lagi." Livi menarik selimut lagi hingga menutupi tubuhnya.
"Apa maksudnya mimpi seperti itu? Jelas-jelas aku sudah membuangmu jauh-jauh dari hatiku!" gumamnya heran dengan mimpinya barusan.
Rania menatap Devi dan Livi yang tertidur pulas. Matanya terasa sangat berat karena baru saja terlelap tapi harus di bangunkan oleh mimpi konyol itu.
Merasa masih mengantuk, Rania membaringkan tubuhnya lagi.
Memiringkan badannya membelakangi Devi dan Livi, Rania melihat lampu ponselnya berkedip.
"Apa kita akan mengobrol semalaman?" pesan dari Diki yang tak sempat dia buka.
__ADS_1
"Kamu sudah tidur?" Rania membalasnya.
"Enggak, aku dan mama papa masih mengobrol disini, tidak sabar menunggu pagi datang," balas Diki dengan cepat.
"Maaf tadi aku tertidur."
"*Biasanya seperti itu kan? tapi tidak apa-apa. Habis ini jangan tidur lagi ya. Bentar lagi ada jemputan menuju rumahmu. Aku sudah menyuruh sopir menjemputmu dan keluarga."
"Iya ... Diki ... aku gugup sekali."
"Tenang sayang, aku ada di sampingmu nanti"
"😓 aku sangat gugup*."
"*🤗 biar nanti aku peluk ya. Tenanglah. Aku mau mandi sebentar, kamu juga siap-siap ya!"
"Terimakasih ... Iya aku juga mau mandi."
"Oke, jangan lupa bersihkan mahkotamu dengan baik. Biar wangi*."
"Huuufff hufff aku benar-benar gugup!" gumam-gumam lirih.
Rania duduk ditepi ranjang sambil mengambil nafas dalam-dalam kemudian melepaskannya perlahan, begitu terus sampai beberapa kali. Livi sudah mengamatinya dari tadi. Dia paham gimana gugupnya Rania saat ini.
"Tenang Ran, dulu juga aku gugup apa lagi mendadak.Berdoa saja biar semuanya di beri kelancaran ya." Livi menepuk pundak Rania, memeberikan sedikit saran.
"Iya Mba, terimakasih. Aku ambil wudhu dulu ya Mba."
Jam dinding menunjukkan pukul 4 pagi. Rania sudah selesai membersihkan diri, om dan tantenya sudah rapi. Candra pun sudah siap dengan penampilan berbeda karena memakai celana katun dan kemeja, sangat beda dari biasanya. Lebih ganteng tentunya.
"Devi, bangun sayang!" dengan kelembutan Rania membangunkan Devi. Juga membangunkan Livi.
"Baru juga jam 2 Ran, kamu gak sabaran amat," jawab Livi dengan suara serak khas bangun tidur.
"Udah jam stengah 5 Mba, keburu jemputannya datang."
"Ha?? yang bener??" Livi langsung saja bangun, segera menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Bang Can__" baru saja Livi mau membangunkan suaminya, ternyata semuanya sudah rapi, "Hehe kirain belum bangun, tunggu aku mandi bentar ya!" bergegas masuk kamar mandi.
Candra, om Faris dan istrinya tersenyum, melihat tingkah Livi.
Rania menuntun Devi, masih sangat pagi karena biasanya Devi bangun hampir jam 6.
"Mbaa ngantuk," rengek nya.
"Kita harus segera berangkat, hari ini kan Mba mau nikah sayang." mengusap wajah Devi penuh sayang, "Ya udah sini duduk dulu sambil nunggu Mba Livi selesai mandi ya."
"Heem."
Saat semua sudah siap, mobil jemputan untuk mereka datang, semuanya menaiki mobil itu kecuali Candra dan Livi. Mereka menaiki mobilnya sendiri.
Di sepanjang perjalanan, Rania terlihat sangat gugup, "Tante aku gugup sekali!" memegang tangan tantenya.
"Pasti Rania, ini adalah hari bahagia. Tapi tenang ya."
Rania mengangguk.
Rania tertegun ketika melihat dari dalam mobil betapa ramainya pelataran hotel Diki. Pak sopir membawa Rania masuk lewat pintu samping.
Para perias segera menjemput Rania di depan pintu lalu menuntunnya menuju kamar yang sudah di siapkan untuk meriasnya.
"Mari lewat sini nona," ucap salah satu perias
Rania mengikutinya, sesampainya di kamar, dua perias di antara empat perias itu memakaikan gaun untuk Rania.
kemudian dua perias lagi segera merias wajah Rania, dan juga menata rambutnya.
Hingga beberapa menit saja Rania tampak sangat anggun, badan mungilnya terlihat sangat indah memakai gaun putih brokat itu, make up yang tidak terlalu menor, membuat Rania sangat berbeda.
Kini saatnya dia menghampiri Diki dan para tamu di aula hotel. Semua mata tertuju padanya, tentu Rania salah tingkah .
Devi yang di gandeng Livi tersenyum manis melihat kakaknya secantik itu.
Rania duduk di sebelah Diki. Diki tersenyum juga saat menoleh pada Rania, pagi ini dia sangat cantik. gumamnya..
__ADS_1