Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Tetanggaan


__ADS_3

Sekarang Haris tinggal di sebuah rumah minimalis yang di sewanya. Hidup sendiri,masih mencari cari belahan jiwa yang di inginkan hatinya.


"Ternyata hidup sendiri gak terlalu buruk. Rania, aku mencarimu. Dimana kamu sekarang?" gumam Haris sembari duduk di teras rumahnya, dengan memegang secangkir kopi.


Sore itu Rania, Diki dan Devi hendak pergi ke mall. Sejak menikah, mereka belum pernah bepergian selain mengantar Devi sekolah dan belanja di supermarket.


Diki selalu sibuk di kantornya , kadang juga Rania harus jalan kaki menjemput Devi pulang sekolah.


"Ayok berangkat, nanti kita main sampai puas ya." Diki meraih tangan Devi untuk di gandeng.


"Asyik, kita main mobil-mobilan ya kak." seru Devi dengan riangnya. Membuat Diki dan Rania gemas melihat pipi gembul nya.


"Iya. Yuk!"


Haris menatap agak jauh ke teras rumah, ada seorang laki-laki dan dua perempuan. Mengingatkannya pada Rania dan Devi.


Tak begitu jelas, namun bibir tipis Haris tersenyum. Andaikan itu Rania dan Devi.


Mobil mereka melaju, melewati rumah yang di sewa Haris. Rania menoleh, hatinya kembali berdetak cepat kala sekilas melihat sosok lelaki duduk di teras sebuah rumah. Sepertias Haris, namun dia buru memalingkan pandangannya.


"Mungkin karena tadi mas Haris menelfon ku, makanya aku teringat. Ah, sudahlah Rania, di sebelah ini suami kamu. Jangan buat dosa dengan memikirkan lelaki lain."


Diki menatap wajah melamun istrinya, "Hei kamu melamun?"


"Enggak, aku senang sekali bisa jalan denganmu. Kamu selalu sibuk di kantor."


"Sibuk juga kan untuk kita?"


"Terimakasih ya."


"Kamu gak mual-mual?"


"Kenapa tanya begitu?"

__ADS_1


"Sudah tiga minggu menikah, aku mau kamu cepat hamil."


"Masa secepat itu?"


"Maunya si yang cepat, biar kamu gak pergi-pergi dari aku karena terikat seorang anak."


"Bisa aja."


Sepanjang perjalanan mereka selalu tertawa, Devi duduk sendiri di belakang tengah asyik membayangkan main mobil-mobilan seperti dulu.


"Mba nanti main mobil-mobilan kaya dulu ya?" seru Devi.


"Emang kalian pernah naik mobil-mobilan?" Diki menyerobot ucapan Rania.


"Pernah, dulu sama kak Haris. Kita sampai sakit perut karena tertawa, ya kan mba?"


"Siapa itu kak Haris?"


"Temen di kafe sayang, Haris dulu teman di kafe, tapi cuma sebentar bekerja." Rania buru-buru menjawab, lalu mengedipkan mata ke arah Devi, biar dia gak bicara lagi. Devi tersenyum, mengangguk saja.


"Oh begitu, setau aku om Arga kan gak punya karyawan laki-laki ya."


"Memang dia hanya sebentar sekali kerjanya, itupun karena dia sedang ada tugas kampus disini, jadi cari kerja sampingan."


"Oh gitu. Devi kamu pengen punya adik kecil nggak?" Diki mengerlingkan sebelah matanya menoleh pada Rania.


"Mau kak, emang kakak punya?"


"Hahahhaha," Diki terbahak, mendengar jawaban polos Devi.


Rania mencubit lengan Diki, "Iseng banget deh."


Sesampainya di mall, mereka langsung menuju tempat bermain, jelas karena Devi yang rewel.

__ADS_1


Mereka menyewa dua mobil-mobilan, satu buat Rania, satu lagi buat Diki dan Devi. Terlihat betapa bahagianya gadis kecil itu.


Beberapa jam berlalu, Devi bilang kalau capek. Mereka menuju foodcourt lalu memesan minum dan camilan.


Hari menjelang malam, sekalian Diki mengajak makan malam di sana. Rania tak henti-henti bilang terimakasih pada Diki.


Hingga saat makan malam berlangsung, Rania beberapa kali mengucapkan terimakasih lagi.


Rania ingin ke kamar mandi, dan Diki juga Devi menunggunya di meja makan. Selesai dari kamar mandi, Rania yang sedang berjalan tiba-tiba di senggol seseorang yang tampak gugup.


Ponsel laki-laki itu terpental agak jauh, dan Rania berusaha membantu mengambilnya, saat wajah mereka saling berhadapan. Berasa jantung Rania berhenti berdetak, dia Haris, beberapa kali mengerjapkan matanya pun dia tetap Haris.


"Rani? Aku rindu Ran, tolong biarkan aku menemuimu." Haris memegang erat tangan Rania yang masih berdiri mematung.


"Apa yang mas lakukan disini? Jangan buat aku sengsara karenamu. Tolong, aku sudah bersuami!" bicara memelas, berharap laki-laki itu tidak mengacaukan rumah tangganya.


"Rani, tolong__"


"Lepas!!" Rania menarik keras tangannya, lalu berlari dan Haris mengejarnya, namun setelah melihat Rania menghampiri Diki dan Devi, Haris berhenti, mengamati mereka dari kejauhan.


"Kamu kenapa kok panik gitu sayang?"


"Hmm tadi kamar mandinya gelap, jadi aku takut sayang," jawab Rania kelu.


"Gimana nih, sekarang pulang atau mau main lagi?"


"Pulang saja ya, aku capek ... kita pulang dulu ya dek, besok-besok main lagi, kan besok kamu sekolah."


"Ya mba, janji ya kapan-kapan main lagi."


"Siap." Diki menggandeng tangan Devi, menuntunnya keluar mall.


"Devi cantik, kak Haris kangen sama kamu," batin Haris yang masih memperhatikan mereka dari jauh, serasa ingin menculik Devi dan Rania agar bisa hidup bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2