Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Mulai berubah


__ADS_3

Bulan telah menampakkan dirinya dalam kegelapan langit yang menjadikan sinarnya menjadi primadona dilangit. Meskipun tidak sempurna, namun tetap saja bulan adalah ratunya diatas sana.


Malam itu, seusai membersihkan dirinya, Haris membuka laptopnya. Entah mengapa semenjak bertemu Yura tadi siang, jiwa bucinnya muncul. Bukan karena mulai menyukai Yura, atau mulai ada rasa cinta untuknya. Tapi hati Haris semakin menggebu mengingat Rania. Semakin gila saja hatinya ingin memiliki Rania.


Kamu tau? Saat kabarmu mulai menjadi hal yang sulit untuk ku ketahui, saat itu pula aku mulai belajar membiasakan diri. Belajar untuk tak khawatir, belajar untuk menerima apa saja yang telah di rencanakan takdir. Entah apa yang ada di akhir kisah ini, pisah atau mungkin kita bisa memulainya dari awal lagi. Aku tak tau. Yang aku tau sekarang, bukan lagi aku yang kamu prioritaskan.


Haris Eka.


Setelah mengetiknya lalu menyimpannya, Haris menutup kembali laptopnya. Kemudian membuka pintu kamar, berjalan beberapa langkah ke balkon hingga tampak jelas bulan setengah sempurna di langit sana. Dia menatapnya lama, dengan senyum yang menyungging dengan sedikit paksaan.


Saat aku merasa sedih karena dia yang kini bahagia bersamanya, aku menyadari bahwa rasa suka ini telah menjadi rasa cinta. Awal-awal aku menyukainya karena dia gadis yang lugu mengasyikkan, tapi setelahnya ia pergi, aku menjadi cinta kepadanya karena dia gadis yang telah mampu mengetuk hatiku yang lama membeku ini.


"Huh," Haris menghembuskan nafas kasar. Lalu berjalan lebih kedepan lagi, kemudian bersandar pada tralis balkonnya.


Mengingat ingat lagi bagaimana ia dulu melihat Rania yang bahagia dengan kepura-puraan Haris, sekarang hanya tinggal kenangan masa lalu yang selanjutnya akan terkubur dalam. Entah dihati Rania atau pada hati Haris sendiri.


"Woi???" Apri tiba-tiba muncul di belakangnya, Apri menggerakkan tangan didepan wajah Haris yang melamun.


"Woiiiiii!" ulangnya, dengan sedikit membentak. Barulah Haris tersadar dan reflek memutar tangan Apri.


"Aaaaaw, ampun ampun," teriak Apri memohon, Haris pun melepaskannya dan mencampakkan tangan itu.

__ADS_1


"Sensi banget si! Noh dipanggil tante, suruh makan." Apri mengibaskan tangannya yang terpelintir tadi.


"Ngapain malam-malam kemari?" tanya Haris sinis.


"Mao nginep, ehe."


"Tapi jangan tidur di kamarku!" hardik Haris.


"Kenapa? Biasanya juga tidur bareng." Apri mengimbangi langkah Haris menuruni tangga.


"Aku sudah dewasa, ingin tidur dengan perempuan, gak mau lagi tidur sama otak cabul macam kamu." Haris memberhentikan langkahnya lalu dengan kuat menonyor kepala Apri.


Apri reflek balas menampol wajah Haris. Lalu terjadilah adegan saling tampol dan ledekan dengan tawa yang membuat ramai rumah mewah itu.


Haris pun mencekal tangan Apri yang masih mau menampol nya lagi, dengan nafas yang tersengal sengal, Haris duduk di kursi sebelah papanya. Begitu juga Apri. Mata mereka masih saling pandang kemudian pecah lagi tawa pada keduanya.


"Wah kenapa deh tumben banget dua bujangan ini bercanda sampe parah begini?" mama Haris datang membawa semangkuk besar sop yang masih panas. Lalu menaruhnya di atas meja .


"Tan, bukannya Haris udah gak bujangan ya?" Apri mulai meledek lagi.


"Woi diem!" Haris mulai menunjuk muka Apri dengan jarinya.

__ADS_1


"Udah-udah, makan dulu nih keburu supnya dingin."


Karena sudah diperingatkan, Haris dan Apri diam lalu makan dengan tenang. Mama dan papanya tersenyum, senang melihat Haris bisa dibercandain lagi. Rindu rasanya, setelah beberapa tahun Haris tumbuh menjadi laki-laki dingin yang jarang sekali menampakkan senyumnya.


Dua hari sudah Diki dan Tiara menginap di apartemen Diki. Tiara sendiri sepertinya sudah candu menikmati apa yang Diki lakukan kepadanya. Hingga lupa jika dirinya belum menemui sang mama.


"Hari ini aku pulang ya?" ucap Tiara sambil memoleskan make up di wajahnya.


"Kamu sudah puas melakukan itu denganku?" Diki tersenyum nakal, dan Tiara melihatnya dari pantulan cermin.


"Belum. Kita akan melakukannya lagi setelah aku menemui mama." Tiara pun membalikkan badannya, Diki gemas melihat pesona dalam diri Tiara. Diapun mendekat, memeluk Tiara kembali.


"Kamu nakal," bisik Diki ditelinga Tiara.


"Aku? Wow apa yang sudah aku lakukan?" Tiara tertawa menahan geli.


Diki semakin gila saja menciumi Tiara.


"Hentikan, aku mau pulang sebentar. Jangan rusak penampilanku yang sudah rapi ini!" Tiara mendorong tubuh Diki, senyum mereka kembali terpancar saat mata saling bertatapan.


"Kamu tidak akan meninggalkan setelah mendapat mahkotaku 'kan?" Tiara menaruh lemgannya di leher Diki.

__ADS_1


"Kamu tidak percaya padaku?" Diki mencium puncak kepala Tiara.


"Percaya, dan kamu harus buktikan!" Tiara melepas pelukannya. Kemudian mengambil kopernya. Diki membantu membawakan beberapa paperbag miliknya. Mereka menaiki mobil menuju rumah Tiara.


__ADS_2