Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Malam penuh tawa


__ADS_3

"Mba Livia!!! Iii apaan sih!" memonyongkan bibirnya.


"Beneran. Aduh sakitnya sampai aku gak berani pipis," masih tergelak melihat wajah Rania.


"Mba Livi ... Hmm aku bilangin ke mas Candra ni."


"Hahahaha eh eh jangan, jangan ya adik manis."


"Apa Mba Livi sudah mulai hamil?"


"Belum. Aku gak mau hamil," menjawab sekenanya sambil memakan cemilan yang sedang di taruhnya ke toples kecil.


"Kenapa mba?"


"Udah ah jangan bahas itu, yuk bawa keluar." Livi masih saja memakan cemilan itu sambil jalan, dan saat sampai di pintu masuk ruang tamu dia segera menelan cemilan itu dan mengusap bibirnya. "Kalau tau bang Candra bisa di ceramahin lagi nih sampe pagi," gumam-gumam sendiri.


"Silahkan minumnya om, tante, mas Candra."


"Terimakasih Rani, oya persiapan untuk besok bagaimana?" tanya tantenya .


"Sudah semua tante, Rani hanya tinggal berangkat ke hotel Diki pagi-pagi sekali."


"Berarti di rias disana?" tanya Livi


"Iya ... Devi turun sayang, duduk sendiri dong," Rania menatap Devi yang sedang di pangku Candra.


"Ga papa ko," ucap Candra sambil mengelus rambut panjang Devi.


Rania duduk di sebelah Livi, Livi langsung saja jail lagi padanya.


"Kamu harus siapkan mental penuh, saat nanti kamu di pelaminan kamu akan jadi seorang ratu. Di pandang ribuan mata." Livi menggoda lagi.


"Pasti malu kan Mba ..." pipi Rania merona lagi.


"Heem, apa lagi saat bersanding dengan suamimu. Ah rasanya mau mati saja."


"Kenapa mau mati Mba? Bukannya kita bahagia?"


"Tau tu Livi, kamu aja kali yang mau mati, yang lain mah bahagia!" serobot mamanya membuat Livi keki.


"Ehehe beda lagi ma, aku kan di jodohin," berusaha membela diri.


Semuanya tertawa lebar, malam ini rasanya sangat membahagiakan. Terlebih untuk Rania yang besok akan melangsungkan pernikahan.

__ADS_1


Malam semakin larut, Devi sudah menguap berkali kali lalu dengan polosnya tertidur di pangkuan Candra.


Candra membopong Devi menuju kamarnya.


"Kita istirahat saja dulu yuk, sudah kram nih perut om ketawa mulu."


"Iya om, tante. Rania juga sudah ngantuk," jawab Rania menutup mulutnya yang sedang menguap.


"Tante tidur dimana nih?"


"Di kamar ibu ya, kalo Mba Livi tidur sama aku sama Devi."


"Trus bang Candra?" tanya Livi.


"Ehehe gak ada kamar lagi."


"Ya sudah aku tidur di kursi ini aja. Sana kalian istirahat di kamar" Candra tersenyum menatap Livi .


"Maaf ya bang, malam ini kita nggak (Mengedipkan matanya)" tersenyum manja.


"Iya udah sana masuk." Candra tersenyum memperlihatkan lesung di pipi kirinya .


"Livi ini apa-apaan si!" ejek mamanya.


"Kamu gapapa tidur di sini Ndra?" tanya pak Faris pada menantunya.


"Nggak papa, pa. Silahkan istirahat," tersenyum.


"Ya sudah kita tinggal ya."


Tawa di ruang tamu itupun kini berubah hening. Candra sudah membaringkan tubuhnya di kursi yang hanya menopang setengah badannya saja. Berbantal tas ranselnya dia menatap langit-langit rumah Rania.


Saat mata hampir terpejam, terdengar langkah kaki mendekat. Candra membuka matanya, "kenapa Livi?" tanyanya.


"Ini bantal untuk abang," Livi mengangkat kepala Candra perlahan lalu menyelipkan bantal di bawahnya.


Mereka saling tatap, tersenyum.


CUP.


Livi dengan cepat mencium bibir Candra dan dengan malunya berlari ke kamar Rania. Candra menoleh lalu tersenyum saat melihat istri kecilnya itu berlari.


Di dalam kamar, Rania masih memainkan ponselnya sedangkan Livi sudah tidur memeluk Devi.

__ADS_1


"Aku juga sudah tidak sabar menunggu hari esok sayang," balasan pesan WA dari Diki membuat Rania merona.


"Kamu belum mengantuk?" balas Rania lagi.


"Belum, aku masih mau mengobrol. Kamu sudah ngantuk sayang?"


"Belum juga. Berjanjilah tidak akan berubah setelah kita berumah tangga nanti ya?"


"*Tidak akan, aku sangat mencintaimu 😘"


"😘 terimakasih, aku juga mencintaimu."


"Apa kita akan mengobrol sampai pagi*?"


Itu pesan terakhir dari Diki, lama tidak ada balasan dari Rania.


"Anak ini selalu meninggalkanku tanpa pamit," tersenyum menatap layar ponsel yang sudah terkunci, lalu menjatuhkan ponsel itu sembarangan.


Diki membaringkan tubuhnya di ranjang. Menatap langit-langit atap, membayangkan bahagianya hari esok.


Hingga Diki pun larut dalam tidurnya.


**************


"Akhirnya kita sudah sah jadi suami istri," ucap lelaki di sebelah Rania itu.


"Aku sangat mencintaimu, terimakasih mas. Akhirnya kita bisa bersama."


Rania dan Haris duduk di pelaminan, saling menggenggam tangan, saling melempar senyuman. Bahagia.


"Gimana dengan Diki?" tanya Haris seraya mencium tangan kanan Rania.


"Aku tidak memikirkannya, aku hanya memikirkan kebahagiaan kita mas." Rania terlihat sangat cantik dengan gaun putihnya senada dengan setelan jas yang di pakai Haris.


"Tunggu, mas Haris? Bagaimana kita bisa menikah?" Rania melepaskan tangannya dari genggaman Haris.


"Kita sudah menikah sayang, aku ini suamimu," ucap Haris tersenyum.


"Tidak. Harusnya Diki yang ada di sampingku." Rania menggeleng geleng kan kepalanya.


"Harusnya aku menikah dengan Diki. Mas Haris apa yang kamu lakukan?!!" Rania memukul mukul dada Haris saat dia mengangkat tubuh kecilnya, " Mas lepaskan!" teriaknya.


"Aku sudah tidak sabar ingin menjamahmu sayang." Haris menyeringai, tidak memperdulikan teriakan Rania.

__ADS_1


"Mas Haris lepas, turunkan aku. Mas Haris ... Aaa tolong mas Haris lepaskan!" masih terus berontak ingin melepaskan diri....


__ADS_2