
Rania merasakan dingin menusuk -nusuk tubuhnya.Setelah beberapa menit mengendarai motornya, sampailah Rania di sebuah restoran mewah tempat mereka bertemu.
Rania mengirim pesan kepada Yura alamat kafe dan resto yang akan didatangi, kemudian dengan sedikit gugup Rania berjalan masuk.
"Aku duduk di meja nomor 4.Masuk saja kalau sudah sampai. " Pesan dari Kevin, Rania pun memantapkan diri untuk masuk dan dengan mudahnya menemukan Kevin.
Padahal mas Kevin sudah melihatku, kenapa tidak menyapa duluan? , batin Rania. Terus berjalan mendekat.
"Mas Kevin, sudah dari tadi?, " pada akhirnya, Rania mengalah untuk menyapa bos nya duluan.
"Enggak, duduk. " Perintah Kevin sambil tangannya menunjuk kursi didepannya.
Dengan pelan Rania menarik kursi itu kemudian duduk. Tiba -tiba udara sangat panas menerpa tubuh Rania.
Apa hanya aku saja yang kepanasan?, kenapa gugup begini?. Rania.
"Haaiii Rania.... " saat lagi gugup-gugupnya, Yura berteriak dari kejauhan dan Haris disebelahnya.
Pandangan Rania dan Kevin langsung saja tertuju pada suara itu. Rania tersenyum canggung, melambaikan tangannya juga. Yura berjalan mendekat diikuti Haris.
"Kok mereka disini?. " Kevin mengernyitkan alisnya, menatap Rania. Yang ditatap semakin salah tingkah.
Rania mengangkat bahunya, pura -pura tidak tahu.
"Hmmm yang lagi PDKT nih!, " Yura langsung saja menarik kursi didekat Rania, lalu menarikkan kursi disebelahnya lagi untuk diduduki Haris.
Haris dan Kevin saling berjabat tangan.
" Kevin, "
"Haris, " balas Haris.
"Kak duduk sini. " Yura menepuk - nepuk kursi disebelahnya. Harispun menurut.
__ADS_1
"Kok belum pesen makan sih?!. " seru Yura.
Haris, Kevin dan Rania tidak ada yang merespon. Yura menatap mereka bergantian.
"Aku yang pesan aja kalau gitu. " Yura ,Mengambil keputusan sendiri.
Kenapa Rania disini dengan laki-laki lain?, Haris.
Apa yang mas Haris pikirkan??, wajah Rania memucat.
Dasar gadis cerewet, dan siapa laki-laki ini?, apa dia kekasihnya?. Hmm tampan juga. Kevin ikut menyerukan pertanyaan dalam hatinya.
Yura kembali duduk setelah memesan menu Ala Carte, dan mereka harus menunggu beberapa saat untuk bisa menikmati pesanan mereka.
Yura menatap Haris, Kevin dan Rania bergantian.
Kenapa mereka aneh begini?. Batin Yura.
"Mas Kevin, kak Haris ini sahabat aku. Apa mas Kevin mau ikut gabung sahabatan sama kita?, tapi masih kurang satu orang lagi namanya kak Apri. "
"Oh, begitu ya? , kalian sering ketemu begini berarti?. " Gaya bicara Kevin normal tidak membentak -bentak seperti biasanya. Yura pun berpikiran kalau Kevin benar-benar sedang mencari muka didepan Rania.
"Sering juga, iya kan Rania?. "
Rania mengangguk, pandangannya tidak berani melihat Haris.
Haris ingin sekali duduk didekat Rania, tapi takut Rania akan marah padanya karena tugasnya malam ini adalah membuat Yura senang.
"Permisi kak... " tiga orang pelayan menaruh beberapa piring kemeja dengan masakan yang terlihat sangat enak. " Silahkan menikmati. " Pelayan itu pun pergi.
"Woah ini pasti enak. Ayo kita makan mumpung masih panas!. " seru Yura bersemangat.
Meskipun canggung, mereka sama -sama menikmati makan malam itu. Sesekali Haris melirik Rania, berharap Rania pun menatapnya. Tapi yang terlihat, Rania malah bertatapan dengan Kevin.
__ADS_1
Rania ,apa yang kamu pikirkan dengan laki-laki itu? , batin Haris.
Setelah makan malam selesai, Yura mengajak mereka pergi ke mall, namun Kevin tidak mau karena mungkin akan bertemu dengan anggota keluarganya di mall. Malas saja jika harus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari keluarganya saat melihat kevin, si presiden jomblo sedang jalan dengan gadis yang sebenarnya adalah karyawannya.
"Trus kemana nih?, " tanya Yura lagi, tidak sabar ingin segera menghabiskan malam itu berjalan -jalan dengan Haris.
"Kemana?, " Kevin melirik Rania. Yang dilirik malah gelagapan.
"Kemana? e aku ngikut saja. "
"Kalau pasar malam? bagaimana?, " Yura memberikan masukan lagi.
"Setuju!, " Kevin berdiri, terlihat senyum tipis dibibirnya.
"Kalian setuju kan ya?. " Yura menatap Haris dan Rania bergantian. Keduanya mengangguk pasrah.
Terpaksa lagi, motor Rania dititipkan pada security kafe. Lalu Rania ikut Kevin dan Yura ikut mobil Haris.
Sesampainya di lokasi pasar malam, Kevin dengan sigap membeli 4 karcis. Kemudian langsung saja masuk, tanpa canggung, Yura memeluk lengan Haris dan mereka berjalan didepan Rania dan Kevin.
"Kak aku mau naik itu.. "dengan manja, menunjuk wahana kora-kora. Haris ingin mengucapkan sesuatu tapi telat karena tangannya sudah ditarik oleh Yura.Tanpa peduli jika mereka bersama Kevin dan Rania juga.
Melihat Yura dan Haris mendekati wahana kora-kora, mata Rania langsung membulat. Teringat beberapa hari lalu dia mabok karena mengikuti Yura menaikinya.
"Ayo kita susul mereka?, " Kevin melangkah, dengan cepat Rania menarik baju belakang Kevin.
"Kenapa?, "
"Jangan ikut... " pinta Rania.
"Kamu takut?. " Rania mengangguk.
"Begituan aja takut! Trus kita mau ngapain disini?. " Kevin mulai ngegas..
__ADS_1